Puisi: Endless Tape (Karya Wing Kardjo)

Puisi “Endless Tape” karya Wing Kardjo adalah refleksi tajam terhadap dunia yang ...
Endless Tape

Seperti sekian lagu yang
berulang-ulang, seperti
sekian mimpi kembali
mengganggu.

Hidup lebih baik apakah itu?
Hidup lebih baik apakah
itu ketaatan mesin
pada program

Kau tak lebih
dari musik kamar
yang gemetar, telantar.

Menggelepar lapar
hidup, atau jadi
sekrup.

Sumber: Fragmen Malam, Setumpuk Soneta (1997)

Analisis Puisi:

Puisi “Endless Tape” karya Wing Kardjo menyajikan permenungan eksistensial tentang kehidupan modern yang repetitif, kering makna, dan kehilangan keutuhan spiritual manusia. Dibalut dalam bentuk soneta 4433 (empat baris-empat baris-tiga baris-tiga baris), puisi ini menggambarkan hidup sebagai sebuah pita tak berujung: berputar tanpa tujuan sejati, digerakkan oleh mekanisme yang lebih besar dan tak berpihak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah alienasi manusia dalam dunia modern yang mekanistik dan repetitif. Wing Kardjo menyampaikan bahwa kehidupan masa kini tidak lagi berjalan alami dan bermakna, melainkan seperti mesin yang terus berputar karena program yang tertanam. Puisi ini menyoroti kondisi psikologis dan eksistensial manusia yang terjebak dalam pola hidup yang berulang dan kaku.

Makna Tersirat

Puisi ini menyampaikan kritik terhadap kehidupan modern yang kehilangan dimensi humanistik. Lewat metafora "tape" atau pita rekaman yang tak berujung, Wing Kardjo menggambarkan bahwa banyak orang hidup dalam pengulangan rutinitas, tanpa kesadaran atau tujuan sejati. Segalanya menjadi seperti musik kamar yang gemetar dan telantar—indah, tapi dingin dan tak dihargai.

Makna tersirat lainnya adalah penolakan terhadap hidup yang sepenuhnya dikendalikan oleh sistem, di mana manusia tak lebih dari sekrup dalam mesin besar. Ini bisa dimaknai sebagai bentuk ketundukan terhadap kapitalisme, birokrasi, atau teknologi yang mendominasi hidup manusia modern.

Unsur Puisi

Beberapa unsur puisi yang menonjol dalam karya ini meliputi:
  • Diksi: Pemilihan kata-kata seperti berulang-ulang, mengganggu, ketaatan mesin, telantar, menggelepar menciptakan kesan mekanis dan lelah secara eksistensial.
  • Tipografi dan enjambemen: Pemisahan larik yang tidak konvensional (misalnya: Hidup lebih baik apakah / itu ketaatan mesin) menciptakan kegagapan visual sekaligus ironi makna.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan manusia modern yang terus berputar seperti tape rekaman: sama, berulang, dan tidak membawa pencerahan. Penyair mempertanyakan apakah hidup yang lebih baik itu benar-benar ada, atau hanya berarti tunduk seperti mesin. Akhirnya, manusia terpinggirkan dari kepribadiannya sendiri, menjadi makhluk yang menggelepar lapar hidup, atau malah kehilangan jati diri dan berubah menjadi sekadar sekrup.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini suram, repetitif, dingin, dan murung. Pembaca merasakan kekosongan dan keterasingan tokoh dalam puisi. Larik-larik pendek dan patah-patah turut menegaskan suasana hidup yang retak, kehilangan kesinambungan batin.

Amanat / Pesan

Pesan yang disampaikan puisi ini sangat mendalam:
Jika manusia hidup hanya berdasarkan rutinitas dan ketaatan buta terhadap sistem, maka ia kehilangan hakikat kemanusiaannya. Puisi ini menegaskan perlunya kesadaran akan nilai hidup yang lebih sejati, bukan sekadar hidup untuk “berjalan” dalam sistem atau mesin yang telah diprogram.

Imaji

Meskipun minimalis, puisi ini tetap memiliki kekuatan imaji simbolik yang kuat:
  • “Seperti sekian lagu yang berulang-ulang” → imaji suara yang monoton, lambang rutinitas tak berjiwa.
  • “Musik kamar yang gemetar, telantar” → menyiratkan kesepian dan keindahan yang tidak lagi diapresiasi.
  • “Menggelepar lapar hidup” → visualisasi makhluk yang menderita, mencerminkan pencarian makna hidup yang tak kunjung terpenuhi.
  • “Jadi sekrup” → imaji keras dan dingin dari benda mati, lambang kehancuran identitas manusia yang hakiki.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: Hidup dianalogikan sebagai tape, musik kamar, dan sekrup—perumpamaan yang menggambarkan kebuntuan eksistensial.
  • Personifikasi: Musik kamar yang gemetar, memberi kesan bahwa sesuatu yang seharusnya indah justru menjadi rentan dan tersisih.
  • Ironi: Larik “Hidup lebih baik apakah itu ketaatan mesin” menyimpan ironi tajam terhadap klaim kemajuan zaman modern.
Puisi “Endless Tape” karya Wing Kardjo adalah refleksi tajam terhadap dunia yang mengagung-agungkan sistem dan efisiensi, namun justru mengikis jati diri manusia. Ia menantang pembaca untuk mempertanyakan ulang: apakah hidup yang berulang-ulang, taat aturan, dan tunduk pada struktur benar-benar lebih baik? Ataukah itu hanya bentuk lain dari penjara bernama modernitas?

Dengan pendekatan minimalis, simbolis, dan reflektif, Wing Kardjo menyampaikan peringatan yang relevan hingga kini: jangan biarkan dirimu jadi sekrup di tengah musik yang telantar. Hidup sejati harus memiliki kesadaran, keindahan, dan kebebasan.

Puisi Wing Kardjo
Puisi: Endless Tape
Karya: Wing Kardjo

Biodata Wing Kardjo:
  • Wing Kardjo Wangsaatmadja lahir pada tanggal 23 April 1937 di Garut, Jawa Barat.
  • Wing Kardjo Wangsaatmadja meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2002 di Jepang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.