Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Keindahan Alamku (Karya Defa Seftianengsih)

Puisi “Keindahan Alamku” karya Defa Seftianengsih bercerita tentang seorang anak yang sedang menikmati momen hening bersama alam. Ia memejamkan ...

Keindahan Alamku


Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tangan ini
Sejuk, tenang, damai kurasakan
Membuatku seperti melayang di angkasa
Alamku selalu memanjakanku
Dengan pesona kelembutannya
Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi berjudul “Keindahan Alamku” karya Defa Seftianengsih dalam buku Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018) adalah contoh puisi anak yang sederhana namun menyentuh, menyuarakan kekaguman seorang anak terhadap ciptaan Tuhan. Melalui kata-kata yang lembut dan ekspresif, puisi ini memotret keindahan alam dari sudut pandang anak yang peka dan penuh rasa syukur. Dalam bait-bait pendek, pembaca diajak merenung tentang betapa memesonanya alam jika kita bersedia berhenti sejenak dan merasakannya.

Tema

Puisi “Keindahan Alamku” mengangkat tema keindahan alam dan rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan. Tema ini sangat penting diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini sebagai bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan cinta lingkungan, kekaguman terhadap semesta, serta kesadaran spiritual terhadap Sang Pencipta.

Makna Tersirat

Di balik larik-lariknya yang sederhana, terdapat makna tersirat tentang pentingnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan untuk merasakan kedamaian yang ditawarkan oleh alam. Ungkapan seperti “kupejamkan mataku sejenak” dan “kurentangkan tangan ini” mengisyaratkan bahwa keindahan sering kali tidak terlihat oleh mata yang terburu-buru, tapi hanya dapat dirasakan oleh hati yang tenang.

Puisi ini juga mengandung makna bahwa alam memiliki kekuatan menyembuhkan dan memanjakan jiwa manusia, serta bahwa pesona alam adalah sesuatu yang konsisten dan tak pernah padam, bahkan dari siang hingga malam.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang sedang menikmati momen hening bersama alam. Ia memejamkan mata, merentangkan tangan, dan membiarkan dirinya larut dalam ketenangan dan kesejukan yang diberikan oleh alam. Anak tersebut merasakan dirinya seperti melayang di angkasa, sebuah metafora yang menggambarkan kebebasan dan kebahagiaan penuh. Ia tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga merasakan sensasi yang diberikan oleh alam.

Puisi ini juga menunjukkan bagaimana alam menjadi tempat pelarian yang damai, dan pada saat yang sama, menjadi alasan untuk bersyukur dan mengagumi Sang Pencipta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah tenang, damai, dan penuh rasa syukur. Kata-kata seperti “sejuk”, “tenang”, “damai”, dan “memanjakanku” menciptakan nuansa batin yang nyaman. Suasana ini sangat cocok untuk menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, antara lain:
  • Syukurilah keindahan alam yang sudah Tuhan ciptakan, karena alam bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang tak ternilai.
  • Jangan abaikan alam, karena pesonanya ada di sekitar kita setiap hari, dari siang hingga malam.
  • Berhubunganlah secara emosional dengan alam, bukan hanya dengan melihatnya, tetapi juga dengan merasakannya.
Pesan ini mengajarkan kepada anak-anak untuk lebih dekat dengan lingkungan mereka, serta melatih kepekaan emosional dan spiritual dalam melihat keajaiban dunia.

Imaji

Puisi ini penuh dengan imaji sensorik, khususnya imaji visual dan perasaan:
  • “Kupejamkan mataku sejenak / Kurentangkan tangan ini” – memberikan gambaran gerakan tubuh yang menunjukkan keterbukaan dan penerimaan terhadap alam.
  • “Sejuk, tenang, damai kurasakan” – menciptakan imaji perasaan yang menyentuh batin.
  • “Melayang di angkasa” – imaji visual sekaligus metaforis yang menggambarkan rasa ringan dan bahagia yang mendalam.
  • “Pesonanya tak pernah padam” – imaji waktu yang menyiratkan keabadian keindahan alam.
Imaji dalam puisi ini berperan penting membangun hubungan emosional antara tokoh dan pembaca terhadap alam.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini menambah kekuatan ekspresi, di antaranya:

Metafora
  • “Membuatku seperti melayang di angkasa” – menggambarkan betapa alam memberikan sensasi luar biasa, meski secara harfiah tubuh tetap di bumi.
  • “Alamku selalu memanjakanku” – menyandingkan sifat manusia (memanjakan) kepada alam, seolah alam adalah ibu yang penuh kasih.
Personifikasi
  • “Pesonanya tak pernah padam” – keindahan alam digambarkan seperti lampu atau api yang tidak pernah mati, memperlihatkan sifat aktif dari pesona itu.
Hiperbola
  • “Kekagumanku sulit untuk kupendam” – menekankan betapa besar rasa takjub tokoh terhadap alam.
Apostrof (seruan langsung)
  • “Wahai pencipta alam” – penyair berbicara langsung kepada Tuhan, menciptakan kedekatan spiritual dalam puisi.

Mengenalkan Alam sebagai Guru yang Hening dan Setia

Puisi “Keindahan Alamku” karya Defa Seftianengsih adalah puisi yang lembut, puitis, dan penuh makna. Dalam bingkai bahasa anak, puisi ini berhasil menyuarakan hubungan yang dalam antara manusia dengan alam dan Tuhannya. Dengan struktur yang sederhana namun kaya akan imaji, puisi ini menjadi media yang sangat baik untuk menanamkan kesadaran ekologis dan spiritual sejak dini.

Puisi ini tidak hanya mengajak anak-anak untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga untuk merasakan, menghargai, dan bersyukur atasnya. Karena ketika seseorang bisa memejamkan mata dan menemukan kedamaian dalam keheningan alam, di situlah kebahagiaan yang sejati dimulai.

Defa Seftianengsih
Puisi: Keindahan Alamku
Karya: Defa Seftianengsih

Biodata Defa Seftianengsih:
  • Defa Seftianengsih lahir pada tanggal 5 September 2006 di Wonogiri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.