Lampu Hias
Indahnya warna-warni cahaya itu
Bergantung dan melengkung
Mengitari sekitar rumahku
Cahaya itu berganti-ganti
Kadang bisa pelan
Kadang cepat
Lampunya sangat cantik
Seakan tak ingin pergi
Demi sebuah kerlipan
Dari lampu hias itu
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi anak merupakan bentuk sastra yang memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan dengan cara yang ringan, imajinatif, dan menyentuh dunia anak-anak. Salah satu contoh yang menggambarkan keindahan dan kekayaan pandangan anak terhadap lingkungan sekitarnya dapat ditemukan dalam puisi “Lampu Hias” karya Genduk Nur Kholifah, yang dimuat dalam antologi Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018).
Tema
Tema utama puisi ini adalah keindahan dan kekaguman anak terhadap benda sederhana di sekitarnya, yaitu lampu hias. Dalam puisi ini, lampu hias tidak hanya menjadi sumber cahaya, tetapi juga menjadi simbol estetika dan hiburan yang memikat perhatian sang anak. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat dunia melalui mata anak-anak yang penuh rasa kagum dan syukur atas hal-hal kecil.
Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang sedang menikmati pemandangan lampu hias di rumahnya. Ia menggambarkan bagaimana lampu itu menggantung dan melingkari rumah, berganti warna dan kecepatan, serta menciptakan kesan tak ingin pergi. Lampu hias itu bukan sekadar benda mati, tetapi tampak hidup dan membawa perasaan senang bagi si anak.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah penghargaan terhadap keindahan kecil yang sering diabaikan. Lampu hias menjadi metafora dari momen-momen sederhana namun berkesan dalam hidup. Dari sudut pandang anak-anak, hal-hal kecil seperti kerlap-kerlip cahaya bisa membawa kebahagiaan dan kehangatan tersendiri. Puisi ini juga menyiratkan pentingnya memperhatikan detail dan merayakan hal-hal yang tampak sepele namun bermakna dalam keseharian.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual. Beberapa contohnya adalah:
- “Indahnya warna-warni cahaya itu” menggambarkan imaji warna dan cahaya yang menarik secara visual.
- “Bergantung dan melengkung / Mengitari sekitar rumahku” menciptakan imaji tentang bentuk dan gerakan lampu.
- “Kadang bisa pelan / Kadang cepat” memberikan imaji gerak yang dinamis.
- “Seakan tak ingin pergi / Demi sebuah kerlipan” memperkuat imaji tentang kesan lampu yang seolah memiliki perasaan.
Imaji-imaji ini sangat efektif dalam membangkitkan perasaan kekaguman dan kehangatan dari pengalaman sehari-hari yang sederhana.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: Kalimat “Seakan tak ingin pergi” memperlakukan lampu hias seperti makhluk hidup yang memiliki keinginan.
- Metafora tersirat: Lampu hias diperlakukan sebagai sumber keindahan dan sukacita, meski tidak secara langsung dibandingkan, namun maknanya menyiratkan simbol harapan atau kebahagiaan kecil.
- Repetisi: Pengulangan kata “kadang” dalam “Kadang bisa pelan / Kadang cepat” menekankan variasi tempo lampu yang menjadi daya tarik tersendiri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa hangat, nyaman, dan bahagia. Kerlap-kerlip lampu hias menciptakan suasana yang menyenangkan dan menenangkan di lingkungan rumah, sekaligus memperkuat rasa aman dan kedekatan keluarga.
Amanat / Pesan
Amanat dari puisi ini adalah mengajarkan anak-anak untuk menghargai dan menikmati keindahan dalam hal-hal sederhana. Lampu hias mungkin tampak biasa bagi orang dewasa, namun dalam pandangan anak, itu adalah sumber kegembiraan. Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan bisa datang dari rasa syukur atas hal-hal kecil dan perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Puisi “Lampu Hias” karya Genduk Nur Kholifah adalah potret puitik tentang cara anak-anak melihat dunia dengan mata yang penuh rasa ingin tahu dan kepekaan. Dengan gaya yang sederhana namun kaya makna, puisi ini mengajarkan kita untuk kembali memperhatikan keindahan dalam hal-hal kecil di sekitar kita. Dalam konteks pendidikan, puisi ini sangat cocok digunakan sebagai bahan ajar untuk menumbuhkan kepekaan estetis dan empati anak terhadap lingkungan rumah yang nyaman dan menyenangkan.
Karya: Genduk Nur Kholifah
Biodata Genduk Nur Kholifah:
- Genduk Nur Kholifah lahir pada tanggal 2 Agustus l981 di Magelang.
