Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sembilu (Karya Sam Haidy)

Puisi “Sembilu” karya Sam Haidy bercerita tentang seseorang yang mengalami kehampaan dan luka batin setelah ditinggal pergi oleh sosok yang ia ...
Sembilu

Ada yang mengerang ketika kau menghilang
Ruang hampa di dada kembali menganga
Dan deretan rusuk menjelma jeruji.

Di sana, jiwaku meregang rindu
Disayat sepi yang hampir sudah tak kukenali.

Ciamis, 2 Juli 2011

Analisis Puisi:

Puisi pendek berjudul “Sembilu” karya Sam Haidy menyajikan lara yang dalam dengan kata-kata yang tajam, hemat, namun penuh daya pukau. Meski hanya terdiri dari dua bait, puisi ini menyimpan kesedihan eksistensial yang kuat, menggambarkan rasa kehilangan dan kerinduan yang nyaris tak tertanggungkan. Setiap larik seolah menjadi sembilu itu sendiri—tajam, menusuk, namun indah secara puitik.

Tema

Tema utama dalam puisi “Sembilu” adalah kehilangan dan penderitaan akibat rindu yang mendalam. Puisi ini mengangkat perasaan emosional yang sangat personal dan universal: rasa perih karena ditinggalkan oleh seseorang yang sangat berarti.

Makna Tersirat

Di balik kesederhanaannya, puisi ini mengandung makna tersirat yang kuat:
  • Rasa rindu yang menyakitkan: Rindu dalam puisi ini bukanlah kerinduan romantik yang manis, melainkan kerinduan yang menyayat, yang membuat dada terasa sesak dan sunyi jadi tak tertanggungkan.
  • Keterpenjaraan batin: Larik “deretan rusuk menjelma jeruji” menyiratkan bahwa kerinduan itu membuat batin tokoh seperti terpenjara di tubuhnya sendiri.
  • Identitas yang tercerai: Ketika "kau" menghilang, subjek puisi tak hanya merasakan kehilangan, tapi seolah dirinya ikut terurai, tak utuh lagi.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami kehampaan dan luka batin setelah ditinggal pergi oleh sosok yang ia cintai atau rindukan. Kepergian itu membuat dunia batinnya menjadi sepi, bahkan asing. Tubuhnya pun menjadi metafora penderitaan yang nyata—jiwa meregang, dada menganga, dan rusuk menjadi jeruji.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sangat muram, pilu, dan hening. Kita merasakan kehampaan yang menggantung di setiap baris. Ada penderitaan batin yang begitu senyap, namun terasa sangat menekan. Atmosfer puisi dikuasai oleh kesunyian yang menggigit, rindu yang meremuk, dan perasaan tak berdaya yang dalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa rasa kehilangan dapat menjerat seseorang dalam kesendirian dan penderitaan batin. Namun, melalui ungkapan yang jujur dan puitis, kita diingatkan bahwa mengekspresikan luka dan rindu juga merupakan bentuk kejujuran dan kemanusiaan.

Puisi ini mengajarkan bahwa kesedihan yang terdalam pun bisa menjadi bentuk keindahan, apabila diolah dengan bahasa, seperti dalam puisi ini. Rasa sakit adalah bagian dari eksistensi manusia.

Imaji

Sam Haidy menggunakan imaji yang kuat untuk menggambarkan perasaan tokohnya:

Imaji visual dan fisik:
  • “ruang hampa di dada kembali menganga” – menghadirkan visualisasi kehampaan emosional yang menjadi fisik.
  • “deretan rusuk menjelma jeruji” – tubuh menjadi simbol penjara batin.
Imaji auditori:
  • “ada yang mengerang ketika kau menghilang” – suara erangan menghadirkan kesan penderitaan yang nyata dan menyentuh.
Imaji emosional:
  • “disayat sepi” – sepi bukan sekadar keadaan, tapi menjadi pelaku penyiksaan emosional.
Imaji dalam puisi ini berhasil menggambarkan rasa kehilangan yang membekas dan menusuk, selaras dengan judul “Sembilu”.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas yang memperkuat ekspresi puitiknya:

Metafora:
  • “deretan rusuk menjelma jeruji” – rusuk dianalogikan sebagai jeruji penjara batin, bukan dalam arti harfiah.
  • “disayat sepi” – sepi dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang bisa menyayat, seakan menjadi sosok aktif yang menyakiti.
Personifikasi:
  • “ada yang mengerang ketika kau menghilang” – "ada" di sini bukan hanya bunyi, tapi semacam entitas yang memiliki emosi.
Hiperbola:
  • “jiwaku meregang rindu” – menggambarkan rasa rindu yang begitu menyiksa seolah tubuh dan jiwa merenggang karena tak sanggup menanggungnya.
Puisi “Sembilu” karya Sam Haidy adalah contoh sempurna dari puisi pendek yang menyimpan kepadatan makna dan kedalaman rasa. Dalam lima baris saja, penyair mampu menyuguhkan drama batin yang getir dan menyayat—layaknya sembilu—dengan bahasa yang sederhana, namun sarat kekuatan imajinatif.

Puisi ini menunjukkan bahwa puisi tak perlu panjang untuk menggugah hati. Cukup dengan diksi yang terukur, imaji yang tepat, dan majas yang tajam, sebuah puisi bisa meninggalkan bekas yang dalam di benak pembaca. “Sembilu” bukan hanya judul, tetapi juga sensasi yang diciptakan puisi ini: tajam, menusuk, namun indah.

"Puisi Sam Haidy"
Puisi: Sembilu
Karya: Sam Haidy
© Sepenuhnya. All rights reserved.