Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Seperseribu Detik Y.A.D. (Karya Handrawan Nadesul)

Puisi "Seperseribu Detik Y.A.D." karya Handrawan Nadesul bercerita tentang kegelisahan eksistensial seseorang yang tengah memikirkan arti hidup, ...

Seperseribu Detik Y.A.D.


Seperti janji ketika usiaku berangkat rembunai
ayo, tariklah kancing bajuku, dan hitung dosa-dosaku!
Kita tak pernah punya hari yang selesai
Jikapun semua kenangan menjadi kebanggaan,
hidup bukan lagi satu-satunya teka-teki.

Hai – Mari kita bercanda sebentar,
lekas cubit dan tamparlah pipiku kuat-kuat
selagi kuingat kepada siapa rindu harus kusampaikan
Ayo, koyakkan diriku, dan hancurkan lumat-lumat
sebelum sempat kusadar apa yang mesti kuperbuat!

Bogor, 1971

Sumber: Surat-Surat yang Tak Terkirimkan (1973)

Analisis Puisi:

Dalam dunia puisi, ada karya-karya yang tidak sekadar ditulis untuk dibaca, melainkan untuk dirasakan dan direnungkan. Salah satu puisi yang mengandung kedalaman semacam itu adalah "Seperseribu Detik Y.A.D." karya Handrawan Nadesul. Lewat judul yang tidak lazim namun penuh misteri, puisi ini membawa pembaca menyusuri lapisan batin manusia dalam menghadapi kesadaran waktu, identitas, dan keraguan eksistensial.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah perenungan tentang eksistensi diri dalam relasi dengan waktu, kenangan, dan pertanggungjawaban hidup. Ada kegelisahan spiritual yang dibungkus dengan permainan bahasa yang emosional. Penyair menyoal arti dari keberadaan, perjalanan batin, hingga persiapan menghadapi hal-hal yang tak terhindarkan, seperti kematian atau penilaian akhir atas hidup.

Puisi ini bercerita tentang kegelisahan eksistensial seseorang yang tengah memikirkan arti hidup, kenangan, kesalahan, dan waktu yang terus berlari tanpa henti. Ia seperti berdialog dengan dirinya sendiri—dalam momen sangat singkat namun penuh tekanan emosional—untuk menguji keberanian menghadapi kenyataan. Kalimat seperti "tariklah kancing bajuku, dan hitung dosa-dosaku!" memberi kesan bahwa sang aku lirik ingin menghadapi penghakiman, seolah waktunya telah tiba.

Puisi ini seolah memotret seperseribu detik yang sangat menentukan—detik sebelum kesadaran puncak, atau bahkan sebelum ajal, di mana seluruh kenangan, dosa, rindu, dan keputusan hidup berputar dalam satu momen intens.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini menyentuh ranah penyesalan dan keterdesakan untuk memahami apa arti kehidupan sebelum terlambat. Ada keinginan untuk dicubit dan ditampar, bukan sebagai siksaan, tetapi sebagai cara membangunkan diri dari ilusi atau kelalaian hidup. Ini mencerminkan bagaimana manusia sering terlambat menyadari makna terdalam dari hidup dan relasinya dengan sesama dan dengan Tuhan.

Larikan "kita tak pernah punya hari yang selesai" mengisyaratkan bahwa hidup ini tak pernah benar-benar utuh. Selalu ada sesuatu yang belum selesai—baik dalam bentuk kesalahan, rindu yang tak tersampaikan, atau keputusan yang tertunda. Puisi ini seperti panggilan untuk berintrospeksi secara radikal dan jujur terhadap diri sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah tegang, kacau, dan nyaris seperti ledakan batin yang tertahan. Meskipun menggunakan kata-kata yang tak terlalu rumit, tetapi irama emosinya naik turun dengan cepat—dari ajakan bermain-main (“mari kita bercanda sebentar”), hingga teriakan batin penuh rasa bersalah dan kesadaran akan kehampaan (“ayo, koyakkan diriku, dan hancurkan lumat-lumat”).

Ada semacam suasana kontemplatif yang brutal—tidak lirih atau melankolis, tapi mengguncang, seolah menampar kesadaran pembaca.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa hidup tidak bisa dijalani hanya dengan kenangan dan kebanggaan semu. Pada akhirnya, manusia harus berani menghadapi dirinya sendiri secara jujur: menghitung dosa, menyadari siapa yang dikasihi, dan memahami apa yang telah (atau belum) diperbuat dalam hidup.

Puisi ini juga menyiratkan pentingnya menyadari momen sekarang, sekecil apa pun, karena bisa jadi itulah seperseribu detik terakhir yang menentukan segalanya. Ia mengajak pembaca untuk tidak menunda pertanggungjawaban, rujuk hati, atau bahkan permintaan maaf—sebab waktu bergerak terlalu cepat untuk menyisakan penyesalan di akhir.

Imaji

Puisi ini menyuguhkan berbagai imaji yang kuat dan mengejutkan, antara lain:
  • “Tariklah kancing bajuku, dan hitung dosa-dosaku!”: Menghadirkan imaji seorang manusia yang membuka diri sepenuhnya—vulnerable, terbuka, siap dihukum atau dihakimi.
  • “Cubit dan tamparlah pipiku kuat-kuat”: Imaji fisik yang menggambarkan usaha sadar untuk membangunkan diri dari keterlenaan.
  • “Koyakkan diriku, dan hancurkan lumat-lumat”: Imaji destruktif ini tidak merujuk pada kekerasan fisik, melainkan pada kehancuran ego atau topeng diri agar kebenaran bisa tampil murni.
Imaji dalam puisi ini lebih dominan secara sensorik dan emosional, membuat pembaca tidak hanya “melihat” atau “membayangkan”, tapi juga merasakan ketegangan batin yang dialami penyair.

Majas

Puisi ini memanfaatkan berbagai majas (gaya bahasa) yang memperkaya ekspresi dan makna, di antaranya:

Metafora:
  • “Hidup bukan lagi satu-satunya teka-teki”: kehidupan digambarkan sebagai teka-teki, mengandung ketidakpastian dan misteri.
  • “Koyakkan diriku, dan hancurkan lumat-lumat” adalah metafora untuk penghancuran identitas lama atau dosa yang menumpuk.
Personifikasi:
  • “Kita tak pernah punya hari yang selesai” memberi sifat manusia pada “hari”—seolah hari bisa selesai atau tidak selesai.
Hiperbola:
  • “Hancurkan lumat-lumat” adalah bentuk penguatan untuk menggambarkan kehancuran total—entah mental, spiritual, atau moral.
Ironi:
  • Kalimat “Mari kita bercanda sebentar” diikuti ajakan untuk mencubit dan menampar, menghadirkan ironi antara keakraban dan kekerasan, antara kelakar dan kegelisahan.
Puisi "Seperseribu Detik Y.A.D." bukan sekadar puisi kontemplatif; ia adalah teriakan batin yang memaksa pembaca menengok ke dalam dirinya sendiri. Handrawan Nadesul menulisnya dengan pendekatan nyaris teatrikal—dengan intensitas emosi tinggi, metafora tajam, dan irama yang seperti ledakan kesadaran.

Puisi ini menyuarakan satu hal penting: hidup terlalu singkat dan terlalu penuh misteri untuk dijalani tanpa kesadaran yang jujur. Dalam seperseribu detik, semuanya bisa berubah. Maka, jangan tunda introspeksi, pengakuan, atau bahkan cinta. Karena dalam waktu yang secepat itu, manusia bisa beralih dari kesombongan ke penyesalan, dari hidup ke mati.

Handrawan Nadesul
Puisi: Seperseribu Detik Y.A.D.
Karya: Handrawan Nadesul

Biodata Handrawan Nadesul:
  • Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.