Puisi: Sikap (Karya P. Sengodjo)

Puisi “Sikap” karya P. Sengodjo bercerita tentang seorang tokoh yang menunjukkan sikap konfrontatif terhadap pihak lain (mungkin sosok penguasa, ...
Sikap

Lihat sikapku kepadamu
anjing hitam berekor panjang

mengaum di tengah malam
purnama terang-tenang

merenggut-renggut rantai pengikat
gemerincing bercampur gema

mendadak menyalak membelah senja
keras mendengung di jauh sana

tapi badan menggigil karena takut.

21 Januari 1947

Sumber: Panca Raya (1 Juli 1947)

Analisis Puisi:

Puisi “Sikap” karya P. Sengodjo adalah contoh karya pendek yang padat makna, ditulis dengan gaya metaforis yang menggugah imajinasi dan menimbulkan tafsir berlapis. Meski hanya terdiri dari sembilan baris, puisi ini memancarkan nuansa simbolis dan psikologis yang kuat. Sang penyair menggambarkan sebuah sikap batin atau respons eksistensial terhadap sesuatu yang menakutkan, menekan, atau mungkin berkuasa. Simbolisasi melalui anjing hitam berekor panjang dan suasana malam yang mencekam memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah perlawanan batin terhadap ketakutan atau tekanan psikologis. Meski terlihat menyerang atau agresif dari luar, sesungguhnya sikap itu adalah cerminan dari ketakutan yang mendalam. Ada pertentangan antara ekspresi lahiriah dan kondisi batin, yang kemudian diolah oleh penyair menjadi potret sikap manusia yang ambigu terhadap tekanan atau ancaman.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini bisa dilihat sebagai sindiran terhadap keberanian semu—bahwa banyak individu atau bahkan institusi yang tampak lantang menyuarakan sesuatu, namun pada dasarnya justru dipenuhi kegamangan atau ketakutan. Sikap menggonggong keras seperti anjing galak belum tentu berarti keberanian sejati, karena di balik itu bisa tersembunyi kegentaran dan keraguan. Puisi ini juga bisa dimaknai sebagai kritik sosial terhadap sikap-sikap reaktif yang bising namun kosong keberanian moral.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang menunjukkan sikap konfrontatif terhadap pihak lain (mungkin sosok penguasa, situasi, atau ketakutan abstrak). Ia diibaratkan seperti anjing hitam yang agresif dan membuat kegaduhan—menggigit rantai, menyalak, meraung—tapi ujungnya justru gigil karena takut. Ini menjadi metafora terhadap individu atau masyarakat yang berisik dalam protes, namun tidak memiliki keberanian untuk bertindak nyata.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa mencekam, murung, dan penuh ketegangan. Purnama yang “terang-tenang” bertolak belakang dengan raungan dan salakan yang menggema dalam malam. Campuran antara suara keras, getaran gemerincing rantai, dan gegap suasana malam menunjukkan adanya kontras antara ketenangan alam dan kegelisahan batin tokoh. Akhirnya, suasana berubah menjadi getir ketika muncul kalimat terakhir yang menyingkap kegelisahan terdalam: “tapi badan menggigil karena takut.”

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa sikap lahiriah belum tentu mencerminkan kekuatan batin. Keberanian yang sejati tidak hanya muncul dari suara lantang atau gerakan yang agresif, tetapi dari keteguhan jiwa menghadapi ketakutan. Menjadi vokal tidak berarti bebas dari rasa takut, dan kadang justru merupakan bentuk pertahanan dari rasa lemah yang tersembunyi. Amanat ini sangat relevan dalam kehidupan sosial dan politik, di mana sering kali suara keras adalah kompensasi dari kelemahan atau ketidakberdayaan.

Imaji

P. Sengodjo menggunakan imaji yang sangat visual dan auditori untuk membangun suasana dan makna puisi:
  • Visual: “anjing hitam berekor panjang”, “purnama terang-tenang”, “rantai pengikat” — semua ini menciptakan gambaran nyata tentang malam, binatang buas, dan suasana mencekam.
  • Auditori: “mengaum di tengah malam”, “gemerincing bercampur gema”, “menyalak membelah senja”, “mendengung di jauh sana” — suara-suara ini menghadirkan ketegangan dan gangguan psikologis yang kental.
Imaji-imaji ini memperkuat latar dramatik yang ditata penyair, sehingga pembaca bisa merasakan ketakutan tokoh dengan pancaindra.

Majas

Beberapa majas menonjol dalam puisi ini, antara lain:
  • Metafora: “anjing hitam berekor panjang” kemungkinan besar bukan benar-benar seekor anjing, melainkan simbol dari sikap agresif atau manifestasi dari ketakutan yang tidak terkendali.
  • Personifikasi: Suara anjing yang “mendadak menyalak membelah senja” memberikan efek dramatis yang menghidupkan suasana malam.
  • Paradoks: Perpaduan antara “menyalak keras” dan “badan menggigil” menjadi kontras antara agresi dan ketakutan, sekaligus menyimpan ironi bahwa keberanian lahiriah bisa disertai dengan kegentaran batin.
Puisi “Sikap” karya P. Sengodjo adalah potret puitik tentang sikap manusia yang tampak tegas dan galak di luar, tapi rapuh dan takut di dalam. Dalam sembilan baris yang singkat namun padat, penyair berhasil menyuguhkan kritik sosial, refleksi psikologis, dan simbolisme yang mendalam. Dengan gaya metaforis dan suara yang nyaring namun berakhir pada kegentaran, puisi ini menjadi perenungan tajam tentang keberanian, ekspresi diri, dan kepalsuan sikap.

Sebagaimana karya-karya simbolik lain dalam tradisi puisi modern Indonesia, “Sikap” mengajak pembaca untuk menyelami lebih dalam makna di balik metafora, serta mengkritisi sikap sosial yang lantang bersuara tapi takut bertindak.

Puisi: Sikap
Puisi: Sikap
Karya: P. Sengodjo

Biodata P. Sengodjo:
  • P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
  • Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
© Sepenuhnya. All rights reserved.