Puisi: Terasing (Karya P. Sengodjo)

Puisi “Terasing” karya P. Sengodjo bercerita tentang pengalaman personal sang penyair yang merasa tidak diakui dan tersingkir dalam tatanan ..
Terasing

Selagi di sini mendamba mesra
kuparap protes keras
di bawah duli yang maha satu
hanya aku.
mengapa begitu
sejak bermula dijumlah dengan
dicampur segala warna
dipadu segala suara
tetap merayap-rayap di bawah atap

Ini tercecer dalam berlomba

Biar, biar!
(tapi aku protes keras!!)

24 April 1947

Sumber: Panca Raya (Juli, 1947)

Analisis Puisi:

Puisi “Terasing” karya P. Sengodjo merupakan sebuah ledakan perasaan yang terpendam lama—perasaan terasing, tersisih, dan tertindas di tengah hiruk-pikuk masyarakat yang menyatukan semua warna dan suara, namun justru mengabaikan individu yang bersuara lirih dari pinggiran. Ditulis dalam gaya puitis yang resisten, puisi ini menyuarakan kegelisahan eksistensial yang relevan dalam lanskap sosial, politik, maupun batin manusia modern.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan eksistensial dalam masyarakat yang serba kolektif. Sang penyair menyoroti bagaimana individu—yang sejak awal “dicampur segala warna, dipadu segala suara”—justru tetap merasa asing dan terpinggirkan. Di bawah kekuasaan “yang maha satu”, aku liris merasa terabaikan, meskipun hidup dalam kerumunan.

Secara lebih luas, puisi ini juga mengangkat tema protes terhadap dominasi sistemik yang tak memedulikan suara minor atau mereka yang tak mampu menyuarakan diri secara lantang.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini sangat kuat dalam menunjukkan ironi kehidupan bersama yang tidak memberi ruang sejati bagi keberadaan individu. Meskipun hidup dalam keberagaman dan kebersamaan yang tampaknya inklusif, sang aku justru “merayap-rayap di bawah atap” — menggambarkan posisi marjinal yang tak mendapatkan tempat layak.

Seruan “kuparap protes keras” menunjukkan adanya perlawanan batin terhadap kekuasaan yang menindas secara halus maupun kasatmata. Namun teriakan itu seperti hanya gema dalam sunyi: terdengar oleh diri sendiri, tapi tidak oleh dunia yang lebih besar.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman personal sang penyair yang merasa tidak diakui dan tersingkir dalam tatanan masyarakat yang penuh janji keberagaman. Ia sudah menjadi bagian dari “segala warna” dan “segala suara”, namun tetap merasa tercecer, bahkan dalam perlombaan hidup yang kolektif.

Dalam kiasan sosial-politik, puisi ini bisa dibaca sebagai kisah tentang warga kecil yang hidup di bawah struktur kekuasaan absolut (disebut sebagai “duli yang maha satu”) namun tak pernah benar-benar diperhatikan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sarat akan kegetiran, keterasingan, dan ledakan emosi. Meskipun bahasa yang digunakan tidak panjang atau mendayu, tiap larik mengandung tekanan psikologis yang kuat. Penggunaan tanda seru pada “protes keras!!” dan “Biar, biar!” menambah suasana tegang dan memberontak dalam keheningan.

Ada rasa marah yang tertahan, tapi tidak meledak sepenuhnya—karena ruang untuk bersuara itu pun seolah disumbat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa di balik semangat kolektivitas dan keberagaman, sering kali ada individu-individu yang merasa tercerabut dari makna hidup bersama. Keterlibatan dalam masyarakat tidak otomatis membuat seseorang merasa diterima.

Amanat lainnya adalah ajakan untuk mendengar suara-suara dari pinggiran, dari mereka yang tidak duduk di pusat kekuasaan atau popularitas. Dalam konteks politik dan sosial, ini adalah kritik terhadap kekuasaan tunggal yang tidak memberi ruang sejati bagi keragaman nyata.

Imaji

Imaji dalam puisi ini tidak bersifat deskriptif visual, melainkan imaji perasaan dan sosial. Beberapa imaji yang muncul:
  • “merayap-rayap di bawah atap” → menyiratkan kondisi hidup yang tertindas, pasif, tak terlihat.
  • “tercecer dalam berlomba” → gambaran tentang hidup yang kompetitif namun tak adil bagi mereka yang tertinggal.
  • “dicampur segala warna, dipadu segala suara” → metafora dari masyarakat yang plural namun justru membungkam perbedaan.
Imaji dalam puisi ini lebih bersifat konseptual dan metaforis, menyentuh lapisan emosi dan ide.

Majas

Beberapa majas yang dominan:
  • Metafora: hampir seluruh puisi berbicara dengan metafora. Misalnya, “di bawah atap” bisa dibaca sebagai simbol kekuasaan, sedangkan “dicampur segala warna” menggambarkan masyarakat yang kompleks dan beragam.
  • Personifikasi: “kuparap protes keras” menunjukkan protes sebagai entitas yang dapat disuarakan seperti manusia.
  • Paradoks: terdapat pertentangan antara keberadaan dalam kolektif dan tetap merasa sendiri.
  • Repetisi: pengulangan kata "biar, biar!" dan "protes keras!!" menunjukkan tekanan emosi yang mendalam dan keinginan untuk meyakinkan diri atau orang lain.

Unsur Puisi

  • Diksi: Pilihan kata lugas tapi bermuatan filosofis dan sosial.
  • Gaya Bahasa: Retoris dan reflektif. Seolah-olah si “aku” berbicara kepada kekuasaan yang tidak hadir atau tidak mendengar.
  • Struktur: Terdiri dari larik-larik pendek yang membangun tekanan psikologis, dibuka dengan kalimat pernyataan dan diakhiri dengan ledakan emosi.

Puisi “Terasing” karya P. Sengodjo adalah suara lirih dari manusia yang terpinggirkan, meski berada di tengah keramaian. Puisi ini menyuarakan kegelisahan dan protes terhadap sistem sosial atau kekuasaan yang tampak plural tetapi menyisakan keterasingan eksistensial.

Dengan bahasa yang padat dan tajam, puisi ini bukan sekadar ungkapan perasaan, tetapi juga ajakan untuk merenungi makna hidup bersama dan pentingnya mendengar suara dari pinggir. Keterasingan, dalam puisi ini, adalah bentuk resistensi paling sunyi—namun paling jujur.

Puisi: Terasing
Puisi: Terasing
Karya: P. Sengodjo

Biodata P. Sengodjo:
  • P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
  • Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
© Sepenuhnya. All rights reserved.