Cinta
Cinta yang diinginkan bisa dimiliki mesti butuh pengorbanan, perjuangan, usaha, dan perlihatkan cara-cara yang menyakinkan bahwa cintaku benar-benar ada untukmu
Itu sudah kubuktikan dan kuperagakan padamu. Aku mencintaimu dengan
Niat yang tulus, jujur, serius dan
Tanpa ragu aku melakukan dan menyatakan semua itu, sebab
Aku tidak mau kehilangan cintaku untukmu. Kamu bagiku adalah bulan yang tidak memberi cahaya hanya pada malam hari tetapi setiap detik hidupku. Dengan itu, kuberharap kamu tetap menjadi penjaga yang setia dan tetap di pintu gerbang hatiku.
Kupang, Jumat 22 Agustus 2025 | 13.22
Analisis Puisi:
Puisi akrostik "Cinta" karya Aprianus Gregorian Bahtera merupakan sebuah ungkapan perasaan tulus yang dikemas dengan gaya akrostik, yakni setiap baris awal membentuk kata tertentu, dalam hal ini kata CINTA. Dengan bentuk yang sederhana namun penuh makna, puisi ini menghadirkan pesan mendalam mengenai ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan dalam hubungan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta tulus dan pengorbanan dalam sebuah hubungan. Penulis ingin menegaskan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar kata, melainkan harus dibuktikan dengan kesungguhan, niat baik, dan pengorbanan nyata.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menegaskan keseriusan dan ketulusannya dalam mencintai pasangannya. Ia menggambarkan bagaimana cintanya bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah komitmen yang disertai usaha, perjuangan, dan pembuktian. Cinta dalam puisi ini diibaratkan seperti bulan yang selalu hadir dalam setiap detik hidup, tidak hanya bersinar di malam hari, tetapi menjadi penerang sepanjang waktu.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta sejati menuntut konsistensi, pengorbanan, dan pembuktian nyata. Cinta bukan hanya tentang janji manis atau kata-kata indah, melainkan perbuatan yang menunjukkan kesetiaan. Selain itu, penulis juga ingin menyampaikan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang rela berkorban dan tidak takut kehilangan, karena telah tumbuh dari niat yang tulus.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa romantis, penuh kesungguhan, dan sekaligus mengharukan. Ada getaran emosi yang kuat dalam tiap kalimat, seolah pembaca bisa merasakan ketulusan cinta yang ditawarkan penulis kepada sosok yang dicintainya.
Amanat / Pesan yang disampaikan
Amanat yang bisa dipetik dari puisi ini adalah:
- Cinta sejati harus dibuktikan melalui usaha nyata, bukan hanya ucapan.
- Ketulusan dan kesetiaan adalah kunci dalam menjaga hubungan.
- Cinta yang murni akan terus hadir sepanjang waktu, layaknya bulan yang tidak pernah berhenti memancarkan sinarnya.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat, misalnya pada bagian:
- “Kamu bagiku adalah bulan yang tidak memberi cahaya hanya pada malam hari tetapi setiap detik hidupku.”
Imaji bulan di sini menciptakan gambaran visual sekaligus emosional tentang cinta yang tidak pernah hilang, selalu hadir, dan memberi kehangatan. Imaji tersebut membantu pembaca merasakan kedalaman cinta yang dimaksud penyair.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Majas metafora – “Kamu bagiku adalah bulan” merupakan metafora yang membandingkan kekasih dengan bulan sebagai simbol cahaya, ketenangan, dan keabadian.
- Majas hiperbola – “bulan yang tidak memberi cahaya hanya pada malam hari tetapi setiap detik hidupku” adalah bentuk hiperbola karena menggambarkan cinta yang hadir tanpa batas waktu.
- Majas repetisi – Pengulangan kata "cinta" dan "aku" menekankan keteguhan hati serta perasaan mendalam dari penyair.
Puisi "Cinta" karya Aprianus Gregorian Bahtera adalah sebuah refleksi sederhana namun penuh makna tentang ketulusan cinta. Dengan memadukan tema pengorbanan, imaji bulan, dan majas yang menyentuh, puisi ini menyampaikan pesan bahwa cinta sejati harus disertai usaha, ketulusan, dan kesetiaan. Melalui bentuk akrostik, penyair juga menegaskan bahwa kata CINTA bukan hanya sekadar huruf, melainkan fondasi perasaan yang dibangun dengan sungguh-sungguh.