Puisi: Celana (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Celana C inta kini sering dipercepat seolah sabar itu kuno dan memalukan E tika ditawar demi pengakuan asal terlihat mesra di layar kecil lengan sali…
Puisi: Tanda (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Tanda T iap kali kita jatuh cinta kadang menyenangkan kadang tidak karena yang diinginkan juga mempunyai rasa namun tidak menyenangkan bila raga yang…
Puisi: Memaafkan Diri Pelan-Pelan (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Memaafkan Diri Pelan-Pelan Aku berani menoleh dan arahnya ke belakang namun bukan untuk meraihnya dan tanpa ingin untuk kembali tapi hanya ingin meng…
Puisi: Aku Tak Mau Kamu yang Selingkuh (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Aku Tak Mau Kamu yang Selingkuh Aku tak mau kamu yang selingkuh aku memilih tinggal saat pintu terbuka lebar saat godaan lewat membawa wajah lain aku…
Puisi: Patah Hati Sebelum Bersemi (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Patah Hati Sebelum Bersemi Aku menanam harap di tanah yang belum siap menyiramnya dengan janji dan senyum tipis Benih itu belum sempat mengenal cahay…
Puisi: Baju (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Baju Bohong yang kau rawat setiap pagi Kau sisir rapi sebelum berangkat Kau semprot dengan parfum pembenaran dan perlindungan diri lalu kau bilang p…
Puisi: Kopi Pahit (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Kopi Pahit Ketika mencintai Orang yang layak, pantas dan tepat tidak akan mendatangkan penyesalan tidak membawa luka namun dalam membagi cinta Perlu …
Puisi: Aku dan Natal 2025 (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Aku dan Natal 2025 Di malam natal tahun 2025 bintang-bintang Kupang redup oleh kabut waktu Aku berdiri di ambang pintu kayu usang menanti cahaya yang…
Puisi: Tatapanmu Memblokir Kebebasanku (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Tatapanmu Memblokir Kebebasanku Tatapanmu seperti tembok besi Menjulang di depan langkahku Aku ingin melangkah lebih bebas Tapi matamu yang tajam men…
Puisi: Natal yang Tinggal di Sudut Ingatan (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Natal yang Tinggal di Sudut Ingatan Di dusun kecil, malam turun perlahan Lonceng tua bergetar memanggil doa Angin Desember menyentuh dinding kayu Men…
Puisi: Pembimbing Adalah Membimbing (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Pembimbing Adalah Membimbing Pembimbing adalah membimbing, kata yang sering diulang Namun di ruang konsultasi maknanya kerap berbelok Mahasiswa datan…
Puisi: Bahagia di Atas Penderitaan Orang Lain (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Bahagia di Atas Penderitaan Orang Lain Sebelum terjadi dampak Tidak ada tindakan Tetap santai di bangku jabatan Tidak melaksanakan pemeriksaan selepa…
Puisi: Rumah yang Tidak Kau Ingat (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Rumah yang Tidak Kau Ingat Aku lelah menjelaskan luka sebab tanda-tandanya sudah terbaca kesedihan tidak selalu bersuara kadang ia jatuh diam, sepert…
Puisi: Ruang Ramai Tak Terasakan Lagi (Karya Aprianus Gregorian Bahtera) Ruang Ramai Tak Terasakan Lagi Ruang ramai tak terasakan lagi. Kini ruang itu telah menjadi sunyi. Diriku berada di dalamnya, mengingat semua perjala…