Puisi: Gita Gembala (Karya Muhammad Yamin)

Puisi "Gita Gembala" menggambarkan perasaan seorang gembala yang hidup di alam pedesaan, merenungkan kehidupan dan takdirnya. Melalui bahasa yang ....
Gita Gembala
(Sambungan)

Lemah-gemalai lembut derana
Bertiuplah angin sepantun ribut
Menuju gunung arah ke sana
Membawa awan bercampur kabut.

Dahan bergoyang sambut menyambut
Menjatuhkan embun jernih berwarna
Menimpa bumi, beruap dan lembut
Sebagai benda tiada berguna

Jauh di sana diliputi awan
Terdengar olehku, bunyi dan rawan
Seperti permata di dada perawan.

Alangkah berahi, rasanya jantung
Mendengarkan bunyi suara kelintung
Melagukan gembala membawa untung?

        Berapakan senang, hati sibujung
        Jika beribu, mamak berapa
        Tiada menanggung berbagai rupa
        Memudikkan biduk tidak berdayung.

        Berapakan senang jikalau berbapa
        Berjalan di panas dikembangkan payung
        Sebagai enau berteraskan ruyung
        Tiada menanggung baya nestapa.

        Ayuhai bunda, ibuku kandung
        Belahan jiwa sepantun tudung
        Di waktu panas, dimana berlindung?

        Apakan jadi gerangan untung
        Akar sehelai tempat bergantung
        Putus di tengah, di pangkalpun kudung.

Sekiranya hidup ayah dan bunda,
Biar sekarang berbalik pulang
Kubawa badanku sebagai tanda
Anaknya hidup, sibiran tulang.

Jika bermamak sekiranya ada
Untuk pendukung tempat berjalang
Meskipun papa, tiada berbenda
Hina mulia mari kujolang.

Apakan nasib pinang sebatang
Menentang langit bertabirkan bintang
Tenggelamnya pagi, timbulnya petang.

Apakan nasib badan seorang
Melalui lembah beberapa jurang
Nasi sesuap dapatnya jarang.

        Rasakan kena kepala hati
        Pedihnya sampai ke tulang-belulang
        Karena nan bergading sudahlah mati
        Meninggal dunia berbalik pulang.

        Semenjak kecil musim berbilang
        Lepaslah siang, malam dinanti
        Tempat bersandar sudahlah hilang
        Patah di tengah, haram berganti.

        Sejakkan pagi di panas berjemur
        Membawakkan badan, kaki berlumur
        Melalui padang, sertakan lumpur.

        Besarlah hatiku, di 'alam ma'mur
        Pabila matahari, naik di timur
        Karena sehari, bertambah 'umur.

Sumber: Sandjak-Sandjak Muda Mr. Muhammad Yamin (1954)
Catatan Admin:
Kami berasumsi kata “sambungan” di bawah judul dimaksudkan untuk menjelaskan kepada pembaca bahwa puisi ini adalah Puisi Bersambung. Jika anda membacanya dengan teliti, anda akan menyadari bahwa puisi ini ditulis dengan pola bait 4433 yang diulang-ulang sebanyak 4 kali. Ini adalah pola puisi soneta, yang sebagaimana kita tahu, Muhammad Yamin memang suka menulis soneta. Dengan kata lain, puisi ini adalah 4 puisi soneta di bawah satu judul, yaitu: Gita Gembala.

Analisis Puisi:

Puisi "Gita Gembala" menggambarkan perasaan seorang gembala yang hidup di alam pedesaan, merenungkan kehidupan dan takdirnya. Melalui bahasa yang puitis, Yamin menyampaikan gambaran tentang kesulitan hidup, perasaan kehampaan, dan kenangan masa lalu.

Perasaan Alam Pedesaan: Puisi ini membawa pembaca ke dalam alam pedesaan dengan deskripsi angin yang bertiup lembut dan gunung yang diliputi awan. Penyair menyuguhkan gambaran tentang keindahan alam dan kesederhanaan kehidupan di pedesaan.

Perasaan Hampa dan Tidak Berguna: Dalam puisi ini, gembala merenungkan perasaan kesepian dan kehampaan dirinya. Dia merasa seperti embun yang menimpa bumi dan tidak berguna. Penyair menggunakan metafora embun untuk menggambarkan perasaan seorang gembala yang merasa tidak berarti.

Kenangan dan Kerinduan: Penyair merenungkan kenangan masa lalu dan kerinduan akan keluarga, terutama kepada orang tua ("ayah dan bunda"). Penyair berharap untuk dapat kembali ke rumah dan membawa tanda bahwa dia masih hidup.

Keberpihakan Nasib: Puisi ini mencerminkan perasaan seorang gembala yang merenungkan nasibnya dan kesulitan hidupnya. Penyair menyuarakan perasaan takut bahwa nasibnya seperti pinang yang menentang langit, dan hidupnya seperti badan yang melalui lembah dan beberapa jurang, dengan mendapatkan nasi sesuap yang jarang.

Rasa Bersyukur atas Kehidupan: Meskipun hidupnya sulit dan penuh kesulitan, penyair menyatakan rasa bersyukur atas kehidupannya dengan merenungkan pertambahan usia sehari demi sehari.

Puisi "Gita Gembala" karya Muhammad Yamin adalah sebuah karya yang menggambarkan perasaan seorang gembala di alam pedesaan, merenungkan kehidupan dan takdirnya. Dengan bahasa yang puitis dan metafora yang indah, Yamin berhasil menyampaikan gambaran tentang perasaan hampa, kesulitan hidup, dan kerinduan terhadap keluarga dan masa lalu. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang kehidupan sederhana, perasaan kesepian, dan pentingnya bersyukur atas setiap detik kehidupan yang diberikan.

Muhammad Yamin
Puisi: Gita Gembala
Karya: Muhammad Yamin

Biodata Muhammad Yamin:
  • Muhammad Yamin lahir pada tanggal 24 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat.
  • Muhammad Yamin meninggal dunia pada tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta (dimakamkan di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat).
© Sepenuhnya. All rights reserved.