Puisi: Sajak Untukmu, Sahabatku (Karya Roman Adiwijaya)

Puisi "Sajak Untukmu, Sahabatku" karya Roman Adiwijaya bercerita tentang wafatnya seorang sahabat dekat, seorang perempuan yang digambarkan sebagai ..

Sajak Untukmu, Sahabatku (1)


Langit kelabu
Menghiasi langit kala itu
Ketika kau kami shalati
Tak terbendung tangis kami

Menghantarmu
Masuk liang kubur
Rintik hujan turun
Menambah sendu di hati

Sajak Untukmu, Sahabatku (2)


Saat itu
Ketika beban tak terlalu berat
Saat langkah kaki tak seberat saat ini
Senyummu terpancar dengan cantik

Kebersamaan dan kekeluargaan
Engkau teman dan sahabat yang kami cinta
Murid berprestasi yang telah meraih banyak medali
Kini telah kembali ke pangkuan ilahi

Sajak Untukmu, Sahabatku (3)


Tak 'kan pernah kami lupakan
Kebaikan hatimu,
Duhai sahabatku
Engkau yang jelita,
Gadis bertalenta

Tak bisa kami lupakan begitu saja
Dirimu terlalu tak biasa
Terlalu istimewa
Di hati kami semua.
Selamat tinggal
...

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak Untukmu, Sahabatku" karya Roman Adiwijaya adalah potret kepedihan yang jujur dan lembut dalam menghadapi kehilangan. Terbagi menjadi tiga bagian, puisi ini menyerupai elegi—yaitu sajak duka cita yang menggambarkan rasa kehilangan mendalam terhadap seorang sahabat yang telah wafat. Roman menulis dengan hati yang terbuka, menyulam duka dan kenangan dengan kata-kata yang menyentuh tanpa kehilangan keteduhan batin.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah persahabatan, kehilangan, dan penghormatan terakhir bagi seseorang yang dicintai. Sang penyair mengangkat bagaimana sahabat yang begitu berharga dalam hidup, kini telah pergi untuk selamanya, namun tetap hidup dalam kenangan dan hati mereka yang ditinggalkan. Tema ini juga menyiratkan keabadian cinta dan penghargaan terhadap kebaikan seseorang.

Puisi ini bercerita tentang wafatnya seorang sahabat dekat, seorang perempuan yang digambarkan sebagai pribadi yang cantik, berbakat, berprestasi, dan penuh kebaikan hati. Puisi dimulai dari momen pemakaman yang diselimuti hujan dan kesedihan mendalam, lalu berlanjut ke kilas balik masa-masa bahagia bersama sang sahabat. Di bagian akhir, sajak menjadi surat perpisahan dan pengakuan bahwa kepergian sang sahabat menyisakan ruang kosong yang sulit tergantikan.

Puisi ini juga merekam realitas sederhana: bahwa setiap orang yang datang dalam hidup kita, memiliki tempat yang tak bisa digantikan begitu saja.

Makna Tersirat

Makna tersirat yang kuat dalam puisi ini adalah bahwa kehadiran seseorang dalam hidup kita bisa menjadi cahaya yang terus menyala, bahkan setelah ia pergi. Ada keheningan yang membekas, ada kebaikan yang tak bisa dipadamkan oleh kematian.

Beberapa makna lain yang bisa ditafsirkan:
  • Kematian bukan akhir dari hubungan emosional. Justru, kenangan bisa tetap hidup dan tumbuh, bahkan dalam kehilangan.
  • Pentingnya mengingat dan menghargai orang terdekat selagi mereka masih ada.
  • Doa dan puisi menjadi cara untuk menjembatani jarak antara dunia yang hidup dan yang telah tiada.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sangat melankolis dan sendu, namun tetap sarat kelembutan dan penghargaan. Nuansa sedih muncul jelas dalam larik “tak terbendung tangis kami” dan “rintik hujan turun menambah sendu di hati.” Namun kesedihan tersebut bukan amarah atau penolakan, melainkan bentuk penerimaan yang indah dan penuh cinta.

Di bagian kedua dan ketiga, suasana menjadi lebih hangat namun tetap nostalgik, karena berisi kenangan masa lalu dan ungkapan kekaguman terhadap almarhumah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa amanat:
  • Hargailah kehadiran sahabat selagi mereka masih ada. Kebersamaan, canda tawa, dan dukungan yang kita terima dari mereka sangat berharga.
  • Kematian memang memilukan, tetapi kenangan adalah warisan yang abadi.
  • Orang baik akan tetap hidup di hati mereka yang ditinggalkan. Sebagaimana tertulis dalam bait: “tak bisa kami lupakan begitu saja / dirimu terlalu tak biasa / terlalu istimewa.”
  • Doa dan penghormatan terhadap yang telah tiada bisa disampaikan dalam bentuk karya, seperti puisi ini.

Imaji

Puisi ini menghadirkan banyak imaji visual dan emosional yang kuat:
  • “Langit kelabu”, “rintik hujan turun”, dan “liang kubur” → imaji suasana duka pemakaman.
  • “Senyummu terpancar dengan cantik” → menghidupkan kembali sosok sahabat dalam kenangan yang hangat.
  • “Murid berprestasi yang telah meraih banyak medali” → memperkuat imaji bahwa sang sahabat bukan hanya disayangi, tapi juga dikagumi.
  • “Dirimu terlalu tak biasa / terlalu istimewa” → memperkuat imaji keunikan pribadi almarhumah.
Imaji dalam puisi ini sederhana namun menyentuh karena sangat manusiawi dan mudah dipahami.

Majas

Puisi ini memanfaatkan beberapa majas untuk memperkuat makna dan rasa:
  • Personifikasi: – “Langit kelabu menghiasi langit kala itu” → langit digambarkan seperti memiliki niat, ikut merasakan duka.
  • Metafora: – “Beban tak terlalu berat” dan “langkah kaki tak seberat saat ini” → melambangkan kehidupan yang dulu terasa ringan karena kehadiran sang sahabat.
  • Repetisi: – Pengulangan frasa seperti “tak bisa kami lupakan” mempertegas rasa kehilangan yang begitu dalam.
  • Hiperbola: – “Selaksa sajak sehari” → menyiratkan betapa sang penyair telah menulis sangat banyak puisi, namun tetap merasa tak mampu menjadi “matahari”, yaitu simbol inspirasi besar.
  • Apostrof (seruan langsung): – “Duhai sahabatku” → bentuk panggilan penuh kasih yang menunjukkan kedekatan emosional yang mendalam.
Puisi "Sajak Untukmu, Sahabatku" adalah puisi yang merepresentasikan bentuk cinta yang tulus terhadap sahabat yang telah berpulang. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun menyentuh, Roman Adiwijaya berhasil membingkai duka dalam bingkai yang puitik dan menenangkan.

Puisi ini bukan hanya sekadar perpisahan, tapi juga perayaan atas hidup seseorang yang bermakna. Dalam kesedihan yang tertulis, ada cinta yang tak terhapus oleh waktu. Dalam kenangan yang dibagikan, ada semacam harapan: bahwa yang pergi tetap hidup dalam sajak dan hati.

Selamat jalan, sahabat. Dalam sajak ini, engkau akan selalu hidup.

Roman Adiwijaya
Puisi: Sajak Untukmu, Sahabatku
Karya: Roman Adiwijaya

Biodata Roman Adiwijaya:
  • Roman Adiwijaya saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka, Prodi Ilmu Hukum.
© Sepenuhnya. All rights reserved.