Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Suara Pasukan Topi Jerami (Karya Roman Adiwijaya)

Puisi “Suara Pasukan Topi Jerami” karya Roman Adiwijaya bercerita tentang suara kolektif massa yang turun ke jalan untuk menyuarakan protes.

Suara Pasukan Topi Jerami


Massa berjalan ke atap hijau
Ke sarang para tikus-tikus busuk
Dan menyerukan
BUBARKAN PARA PENGEMIS SUARA ITU
Yang hanya bisa mengumbar janji palsu

TURUNKAN ANAK MUDA YANG BISA BERKUASA DENGAN NAMA BAPAKNYA
Karena ia cocoknya menjadi komedian
Bukan orang yang mewakili penguasa tertinggi
Dan dia patut dipertanyakan pula perannya

BATALKAN PERILISAN BUKU SEJARAH YANG TELAH DISUSUPI PROPAGANDA
Masyarakat harus tahu cerita sebenarnya
Di balik sejarah yang dipelajari oleh siswa
Dan harus diceritakan apa adanya
Tanpa bumbu yang memanis-maniskan penguasa

Kami turun aksi bukan karena benci
Tetapi kami ingin Ibu Pertiwi dimajukan
Bukan malah mengalami kemunduran
Kami, berdiri di sini bersumpah hanya untuk kebenaran
Demi nama keadilan yang telah musnah

Analisis Puisi:

Puisi “Suara Pasukan Topi Jerami” karya Roman Adiwijaya adalah sebuah karya yang kuat, penuh dengan kritik sosial dan politik. Melalui bahasa yang lugas dan penuh amarah, penyair menghadirkan suara massa yang melawan ketidakadilan, kebusukan politik, serta manipulasi sejarah. Puisi ini sekaligus menjadi simbol dari keresahan generasi muda terhadap kondisi bangsa yang dirasa semakin jauh dari cita-cita kebenaran dan keadilan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial dan perlawanan terhadap ketidakadilan politik. Roman Adiwijaya mengangkat suara rakyat yang marah terhadap janji-janji palsu para pemimpin, praktik politik dinasti, hingga manipulasi sejarah yang dilakukan demi kepentingan penguasa. Tema perlawanan ini dibungkus dengan semangat kebersamaan massa yang bergerak menuntut perubahan.

Puisi ini bercerita tentang suara kolektif massa yang turun ke jalan untuk menyuarakan protes. Mereka menuntut agar para pemimpin yang hanya bisa mengumbar janji palsu dibubarkan, menolak politik dinasti yang hanya mengandalkan nama besar orang tua, serta menentang manipulasi buku sejarah yang disusupi propaganda. Dengan suara lantang, massa menyatakan bahwa perjuangan mereka bukan didasari kebencian, melainkan kecintaan pada tanah air dan keinginan untuk melihat bangsa maju, bukan mundur.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah seruan agar rakyat tidak diam terhadap ketidakadilan. Penyair ingin menyampaikan bahwa keberanian untuk bersuara merupakan langkah penting dalam menjaga kebenaran. Puisi ini juga menyinggung tentang pentingnya generasi muda untuk bersikap kritis terhadap kepemimpinan, sejarah, dan masa depan bangsa. Lebih dalam lagi, puisi ini menyiratkan bahwa cinta pada negeri bukan selalu ditunjukkan dengan kepatuhan, tetapi justru dengan keberanian melawan ketidakadilan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa berapi-api, penuh kemarahan, sekaligus sarat semangat perjuangan. Penyair membangun atmosfer protes jalanan, dengan teriakan lantang massa yang menyerukan kebenaran. Suasana ini semakin kuat dengan pilihan diksi yang tegas, keras, bahkan provokatif, seperti “bubarkan”, “turunkan”, “batalkan”.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa rakyat, terutama generasi muda, harus berani menyuarakan kebenaran meskipun berhadapan dengan kekuasaan yang besar. Penyair mengingatkan bahwa kritik bukanlah kebencian, melainkan bentuk kepedulian terhadap bangsa. Selain itu, ada pesan penting tentang menjaga sejarah agar tetap murni tanpa manipulasi, sehingga generasi mendatang bisa belajar dari kebenaran, bukan dari propaganda penguasa.

Imaji

Puisi ini menghadirkan sejumlah imaji yang kuat dan visual.
  • “Massa berjalan ke atap hijau” menghadirkan imaji visual tentang sekelompok orang yang bergerak bersama menuju pusat kekuasaan.
  • “Ke sarang para tikus-tikus busuk” adalah imaji metaforis yang menggambarkan para pejabat korup.
Imaji-imaji tersebut membuat pembaca seolah-olah berada di tengah-tengah kerumunan aksi protes.

Majas

Beberapa majas yang tampak jelas dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora – “tikus-tikus busuk” digunakan sebagai simbol bagi pejabat korup.
  • Hiperbola – “demi nama keadilan yang telah musnah” adalah bentuk penguatan bahwa keadilan seolah-olah sudah benar-benar hilang.
  • Repetisi – kata-kata seperti “BUBARKAN”, “TURUNKAN”, “BATALKAN” diulang untuk menegaskan semangat perlawanan.
  • Personifikasi – “Ibu Pertiwi dimajukan” memberi kesan bahwa tanah air adalah sosok hidup yang bisa dimajukan atau dimundurkan oleh warganya.
Puisi “Suara Pasukan Topi Jerami” karya Roman Adiwijaya adalah karya yang merepresentasikan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan dan kebusukan politik. Dengan tema perlawanan, cerita tentang aksi massa, makna tersirat tentang keberanian bersuara, suasana berapi-api, amanat menjaga kebenaran, imaji yang kuat, serta majas yang tajam, puisi ini menjadi cermin keresahan sekaligus harapan agar bangsa kembali pada jalan keadilan dan kebenaran.

Puisi Suara Pasukan Topi Jerami
Puisi: Suara Pasukan Topi Jerami
Karya: Roman Adiwijaya

Biodata Roman Adiwijaya:
  • Roman Adiwijaya saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka, Prodi Ilmu Hukum.
© Sepenuhnya. All rights reserved.