Puisi: Dua Sajak tentang Bulan (Karya F. Rahardi)

Puisi "Dua Sajak tentang Bulan" karya F. Rahardi mengajak pembaca merenungkan bahwa keindahan, kemuliaan, atau pesona apa pun di dunia ini tidaklah ..
Dua Sajak tentang Bulan

sore hari:

bagai uang logam ratusan
bersinar-sinar di tangan
kutimang dan kutawar
hargamu; dewi malam yang molek
kucumbu kau di ambang pintu


hampir pagi:

bangkai kunang-kunang lengket di situ
lonte tua yang pucat
semalam suntuk tak laku dijual
jangan gusar
kuintip kau dari jendela wc.

Jakarta, 4/9/1974

Analisis Puisi:

Puisi "Dua Sajak tentang Bulan" karya F. Rahardi merupakan karya yang menghadirkan dua potret berbeda tentang bulan. Penyair menggunakan bahasa metaforis yang tajam, kontras, dan penuh kejutan dalam membangun imaji. Bulan, yang biasanya dipandang indah, romantis, atau puitis, dalam sajak ini ditampilkan secara lebih berani dan mengejutkan—bahkan dengan asosiasi pada hal-hal profan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ambivalensi keindahan bulan yang dipandang dari dua sisi berbeda: romantis dan muram, indah dan hina, mulia dan tercampakkan. Bulan menjadi simbol yang lentur, bisa dilihat sebagai dewi malam yang molek, namun bisa pula dipandang sebagai "lonte tua" yang kehilangan daya tarik.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan waktu malam yang disandingkan dengan bayangan bulan.
  • Pada bagian sore hari, bulan dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang indah, berharga, bahkan menggoda seperti dewi malam yang molek.
  • Pada bagian hampir pagi, bulan berubah menjadi sosok yang muram, lusuh, dan tak lagi menawan—diibaratkan "lonte tua yang pucat" yang tidak lagi laku.
Dengan begitu, puisi ini menghadirkan narasi transformasi citra bulan sepanjang malam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah gambaran tentang relativitas pandangan manusia terhadap sesuatu, yang bisa berubah seiring waktu. Sesuatu yang pada awalnya tampak indah dan menawan, bisa berangsur kehilangan pesona hingga menjadi muram atau bahkan menjijikkan.

Selain itu, puisi ini juga bisa dibaca sebagai sindiran terhadap kemunafikan manusia dalam memandang keindahan dan realitas—terkadang penuh kekaguman, tetapi kemudian bisa dengan mudah menghina atau merendahkannya.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi berubah seiring bagian sajak:
  • Sore hari: suasana romantis, hangat, penuh kekaguman, dengan metafora bulan sebagai "dewi malam yang molek."
  • Hampir pagi: suasana muram, getir, bahkan sinis, dengan citra bulan yang berubah menjadi "lonte tua."
Kontras suasana inilah yang membuat puisi terasa kuat dan provokatif.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat ditangkap adalah:
  • Pandangan terhadap sesuatu bersifat sementara dan bisa berubah. Keindahan tidak abadi, dan sesuatu yang diagungkan bisa sewaktu-waktu diremehkan.
  • Hidup adalah ironi: bulan yang sering dipuja dalam puisi romantik, justru ditampilkan dengan wajah getir dan penuh kritik dalam sajak ini.

Imaji

Imaji yang dihadirkan sangat kuat dan kontras:
  • Imaji visual bulan "bagai uang logam ratusan bersinar-sinar di tangan" memberi gambaran sederhana namun indah.
  • Imaji sensual ketika bulan disebut "dewi malam yang molek" dan "kucumbu di ambang pintu."
  • Imaji muram sekaligus ironis dengan "bangkai kunang-kunang," "lonte tua yang pucat," dan "kuintip kau dari jendela wc."
Kekuatan imaji inilah yang menjadikan puisi terasa hidup dan mengejutkan pembaca.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: bulan diperlakukan sebagai dewi, lonte, atau sosok hidup.
  • Simile: perbandingan eksplisit seperti "bagai uang logam ratusan."
  • Metafora: bulan sebagai "dewi malam," atau "lonte tua yang pucat."
  • Hiperbola: penggambaran bulan dengan kesan sensual hingga muram secara berlebihan untuk memperkuat efek.
Puisi "Dua Sajak tentang Bulan" karya F. Rahardi menghadirkan citra bulan yang tidak biasa. Ia menolak romantisme klise dan justru menampilkan bulan dengan wajah ambigu—indah sekaligus hina, romantis sekaligus getir.

Melalui penggunaan imaji kontras dan majas berani, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bahwa keindahan, kemuliaan, atau pesona apa pun di dunia ini tidaklah abadi. Apa yang dipuja sore hari bisa menjadi sesuatu yang diremehkan menjelang pagi.

Floribertus Rahardi
Puisi: Dua Sajak tentang Bulan
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.