Lebih dari 5 dekade yang lalu, ketika seseorang ingin mengirim pesan kepada orang lain, maka ia perlu menunggu beberapa hari atau beberapa minggu untuk mendapat balasan. Berbeda dengan zaman sekarang, bahkan bukan lagi tak mungkin jika seseorang akan mendapat sebuah balasan pesan dalam hitungan detik. Secara fundamental, perkembangan teknologi merubah cara hidup manusia dari zaman ke zaman. Pada dasarnya, teknologi mengalami revolusi teknologi digital dan menghadirkan inovasi kemudahan dalam beberapa aspek kehidupan.
Aplikasi media sosial pun tak luput dari proses revolusi fitur. Seperti contoh, aplikasi TikTok yang sangat populer di seluruh kalangan usia karena memiliki fitur short video yang telah mendominasi dunia digital saat ini. Konten video yang singkat dan menarik berisi tentang format edukatif, hiburan ataupun pemasaran lebih menarik perhatian dan mudah dikonsumsi oleh seluruh kalangan usia. Sehingga, aplikasi seperti Instagram, Facebook dan Youtube pun kini berevolusi untuk memiliki fitur yang sama pula.
Meski demikian, banyak penelitian yang menyatakan bahwa seseorang bisa mengalami dampak negatif dari terus mengkonsumsi short video. Seseorang mengalokasikan perhatian yang terbatas untuk memproses informasi temporal akibat terbawa suasana saat menonton, sehingga seseorang bisa saja tidak menyadari waktu yang ia habiskan hanya dengan menonton short video. Dengan kata lain, short video memiliki efek candu karena seseorang yang menonton secara tidak sadar akan mengalami tingkat gairah yang tinggi dan perubahan fokus yang cepat, sehingga dapat mengganggu kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi pada tugas-tugas lain yang berpotensi menyebabkan gangguan dalam kontrol kognitif dan regulasi emosi, kondisi yang tersebut memiliki istilah sebagai Brain Rot.
Brain Rot adalah istilah di mana seorang individu mengalami kondisi penurunan kondisi mental, penurunan kemampuan kognitif, penurunan daya fokus, penurunan daya ingatan dan penurunan kemampuan berpikir kritis. Istilah ini bukan berarti disebutkan sebagai pembusukan otak secara harfiah, namun istilah untuk menyebutkan dampak negatif dari paparan konten digital. Seseorang yang mengalami akibat paparan konten digital, seperti short video, secara berlebihan umumnya akan mengalami kondisi tersebut.
Kondisi ini tidak hanya mengkhawatirkan untuk kalangan orang dewasa, namun anak di bawah umur pun tidak dipungkiri bisa terdampak Brain Rot. Hal ini menjadi sangat mengkhawatirkan karena akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Meskipun belum ada data persentase yang pasti, namun terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan kekhawatiran terkait dampak paparan konten digital, seperti short video, pada anak-anak sehingga bisa dikaitkan dengan fenomena Brain Rot tersebut.
Menurut Andreas Yoga Prasetyo pada tahun 2023 dalam tulisannya di Kompas.ID menyebutkan bahwa Indonesia tercatat 143 juta pengguna sosial media atau 50,2 persen populasi. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 33,4% anak usia 0-6 tahun sudah terbiasa menggunakan gawai, bahkan 25% di antaranya berada di usia 0-4 tahun. Penelitian lain menunjukkan 13,6% warga mengalami gangguan psikis akibat penggunaan gawai berlebihan, seperti sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, kecemasan, dan stres.
Seperti halnya yang dialami dua remaja kakak beradik di Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember. Karena kecanduan bermain gawai, gadis berinisial EW (19) dan laki-laki inisial SA (17) mengalami kecanduan hingga depresi.
“Iya gara-gara hape (handphone), main game. Sudah lama (depresi), ada 4 tahunan yang perempuan dan yang laki-laki 1 tahunan,” kata KM, ibu kedua anak tersebut pada Selasa (7/5/2024).
Hal ini bermula pada sebuah kesalahan yang diakui oleh sang ibu, yaitu membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktunya dengan handphone yang selalu ada di tangan mereka sejak dini. Menurut sang ibu, pada awalnya mereka adalah anak yang normal pada umumnya. Namun sejak mereka mengenai sebuah aplikasi game online dan video pendek, mereka tidak pernah keluar dari kamar selain untuk mengambil makan dan ke kamar mandi. Waktu pun berlalu hingga tiba hari di mana sang ibu ingin berbicara dengan sang anak, namun hal yang tak terduga terjadi karena anak-anaknya tak lagi mengenalnya akibat depresi.
Akhir kata, Brain Rot adalah tantangan nyata dan fenomena yang hanya bisa kita hindari dengan kesadaran kolektif dan aksi nyata. Penting untuk bijak dalam menggunakan handphone dan konten digital, kurangi menerima informasi dangkal dan tidak bermanfaat dengan membatasi waktu layar, mencari konten yang berkualitas, dan melakukan aktivitas offline untuk menjaga kesehatan mental dan kognitif.