Sumber: Dongeng-Dongeng Tua (2009)
Analisis Puisi:
Puisi "Bunga Puti Lembayung" karya Iyut Fitra adalah salah satu karya yang penuh kelembutan sekaligus menyimpan kepedihan. Dalam puisi ini, penyair menghadirkan sosok bunda sebagai figur sentral yang menyimbolkan pelindung, penguat, sekaligus tempat berpulang ketika hidup dipenuhi badai. Ia memadukan bahasa puitis dengan nuansa emosional yang menyentuh, menjadikannya karya yang sarat makna dan refleksi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan keteguhan hati seorang anak terhadap sosok bunda dalam menghadapi kehidupan yang penuh cobaan. Puisi ini menyingkap bagaimana kenangan masa kanak-kanak, kasih sayang ibu, dan kekuatan menghadapi badai hidup berpadu menjadi satu.
Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang menyusun rakit kehidupan untuk menghadapi badai, sembari mengingat sosok bunda dan masa kecil yang penuh cerita. Ada keinginan untuk melindungi generasi selanjutnya (“anak-anak yang akan lahir dari rahim waktu”), ada kerinduan pada kenangan masa kanak-kanak, sekaligus permintaan agar bunda tetap melanjutkan dongeng-dongeng yang memberi ketenangan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup selalu dipenuhi badai, namun kasih sayang seorang ibu dan kenangan masa kecil dapat menjadi kekuatan untuk bertahan. Penyair ingin menegaskan bahwa meski kehidupan penuh kepahitan, manusia tetap membutuhkan pegangan berupa cinta, doa, dan cerita yang diwariskan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, penuh kerinduan, tetapi juga memberi semangat. Ada rasa getir ketika mengenang kepahitan, namun juga ada kehangatan dan harapan yang terpancar melalui sosok bunda dan kenangan masa kecil.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini adalah bahwa dalam menghadapi badai kehidupan, manusia tidak boleh melupakan kasih sayang ibu, kenangan masa lalu, dan nilai-nilai yang diwariskan. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan agar setiap generasi menyiapkan kekuatan dan pelajaran hidup bagi generasi berikutnya.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat, misalnya:
- “aku telah menyusun rakit, bila badai itu datang” → imaji perjuangan menghadapi cobaan hidup.
- “langit meminang matahari” → imaji indah yang menggambarkan pertemuan dua kekuatan besar.
- “aku teramat rindu pada kanak-kanak itu” → imaji emosional yang membawa pembaca pada nostalgia masa kecil.
- “lanjutkanlah dongeng-dongeng yang tak usai” → imaji kehangatan keluarga dan warisan cerita ibu.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora – “anak-anak yang akan lahir dari rahim waktu” melambangkan generasi penerus yang akan lahir di masa depan.
- Personifikasi – “langit meminang matahari” memberi sifat manusiawi pada alam untuk menggambarkan pertemuan penuh keindahan.
- Hiperbola – “kenangan bukan sejarah kepahitan demi kepahitan” sebagai penekanan pada rasa sakit yang mendalam.
- Simbolisme – rakit menjadi simbol upaya bertahan dari badai kehidupan.
Puisi "Bunga Puti Lembayung" karya Iyut Fitra menghadirkan renungan mendalam tentang perjuangan menghadapi badai hidup dengan berpegang pada kasih ibu dan kenangan masa kecil. Dengan tema kerinduan dan kekuatan, puisi ini menyajikan suasana melankolis namun penuh harapan. Imaji yang indah dan majas yang tajam menjadikan karya ini tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan dan warisan cinta kasih dalam keluarga.
Puisi: Bunga Puti Lembayung
Karya: Iyut Fitra
Biodata Iyut Fitra:
- Iyut Fitra (nama asli Zulfitra) lahir pada tanggal 16 Februari 1968 di Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat.
