Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Duka Debu Kemarau (Karya Bambang J. Prasetya)

Puisi “Duka Debu Kemarau” karya Bambang J. Prasetya mengajarkan bahwa di balik penderitaan, selalu ada ruang untuk doa, tobat, dan kesadaran bahwa ...
Duka Debu Kemarau

Aku mendengar
Debu merintih ditinggalkan udara tropika
Ketika rerumputan pasrah diguyur keringat
Putaran matahari tinggalan dendam purba

Aku mendengar
Debu mengaduh langkah sekarat
Mencari tobat di pintu akerat
Doa-doa yang gembur di tanah usang
Ziarah tubuh menunggu maut

Aku mendengar
Suara debu ditikam hujan kepagian
Melenguh basah merambas dalam pori-pori
Keinginan untuk bertahan dari musim
Yang tak segan mengadili

Analisis Puisi:

Puisi “Duka Debu Kemarau” karya Bambang J. Prasetya merupakan karya yang sarat dengan perenungan tentang penderitaan alam dan manusia di tengah musim kemarau. Melalui diksi yang kuat, penuh simbol, dan nuansa religius, penyair menghadirkan gambaran tentang debu, rerumputan, dan doa sebagai lambang kepasrahan menghadapi kerasnya hidup. Puisi ini bukan hanya tentang kemarau secara fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual yang dalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penderitaan dan kepasrahan manusia serta alam di tengah kekeringan dan kemarau panjang. Selain itu, terdapat nuansa spiritual yang menegaskan hubungan antara kesulitan hidup dengan pencarian makna religius.

Puisi ini bercerita tentang debu yang seolah hidup, merintih, mengaduh, bahkan mencari tobat. Alam yang kering menjadi simbol penderitaan, sementara manusia digambarkan sebagai bagian dari alam yang ikut berziarah, menunggu maut, dan berharap pada doa. Gambaran hujan yang datang terlalu dini justru menambah perenungan, sebab bahkan hujan pun bisa menjadi bagian dari ujian.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah hidup manusia diibaratkan seperti debu yang rapuh dan mudah diterpa keadaan. Musim kemarau adalah simbol ujian hidup, sementara hujan melambangkan pertolongan atau perubahan yang datang tidak selalu sesuai dengan harapan. Puisi ini juga menyinggung bahwa penderitaan hidup seharusnya membuat manusia lebih dekat kepada pencarian spiritual dan kesadaran akan kefanaan.

Suasana dalam puisi

Suasana yang muncul dalam puisi ini terasa muram, getir, dan penuh kepasrahan. Ada nuansa keputusasaan, tetapi juga tersirat keinginan untuk menemukan makna dan pengampunan dalam penderitaan. Suasana reflektif ini menekankan duka yang lahir dari alam dan jiwa manusia.

Amanat / Pesan yang disampaikan

Pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa hidup manusia tidak bisa lepas dari penderitaan dan kefanaan, tetapi dari penderitaan itu kita diingatkan untuk kembali kepada doa, pengampunan, dan pencarian makna spiritual. Dengan demikian, derita bukan hanya ujian, melainkan juga jalan untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Imaji

Puisi ini dipenuhi dengan imaji alam dan spiritual yang kuat, misalnya:
  • “Debu merintih ditinggalkan udara tropika” → imaji auditif sekaligus visual yang menggambarkan debu hidup dalam penderitaan.
  • “Rerumputan pasrah diguyur keringat” → imaji visual yang memperlihatkan kepasrahan alam.
  • “Debu mengaduh langkah sekarat / Mencari tobat di pintu akerat” → imaji religius yang menghubungkan penderitaan dengan pencarian ampunan.
  • “Suara debu ditikam hujan kepagian” → imaji kontras antara kering dan basah, penderitaan dan pertolongan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini, antara lain:
  • Personifikasi → “Debu merintih”, “Debu mengaduh”, “Debu ditikam hujan”. Debu diperlakukan seperti makhluk hidup yang bisa merasakan sakit.
  • Metafora → “Putaran matahari tinggalan dendam purba” sebagai simbol kekuatan alam yang abadi dan tak bisa ditolak.
  • Simbolisme → Debu melambangkan kefanaan, kemarau sebagai ujian, hujan sebagai pertolongan sekaligus ujian baru.
  • Repetisi → Pengulangan frasa “Aku mendengar” di setiap bagian, menekankan kesaksian penyair atas penderitaan yang dialami.
Puisi “Duka Debu Kemarau” karya Bambang J. Prasetya adalah refleksi mendalam tentang penderitaan manusia dan alam di tengah musim kering. Dengan tema penderitaan, puisi ini bercerita tentang debu dan alam yang merintih, makna tersiratnya mengingatkan pada kefanaan hidup dan pentingnya pencarian spiritual. Suasana muram, imaji yang kuat, serta majas yang kaya menjadikan puisi ini bukan sekadar lukisan tentang kemarau, melainkan juga renungan eksistensial.

Puisi ini mengajarkan bahwa di balik penderitaan, selalu ada ruang untuk doa, tobat, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah debu yang rapuh di hadapan kekuatan Tuhan.

Puisi: Duka Debu Kemarau
Puisi: Duka Debu Kemarau
Karya: Bambang J. Prasetya

Biodata Bambang J. Prasetya:
  • Bambang Jaka  Prasetya (atau kadang disingkatnya Bambang JP) lahir di Yogyakarta pada tanggal 28 Oktober 1965.
© Sepenuhnya. All rights reserved.