Sumber: Negeri Badak (2007)
Analisis Puisi:
Puisi "Episode Pagi" karya F. Rahardi adalah salah satu karya panjang yang kaya imaji, detail, sekaligus sarat kritik sosial. Puisi ini bukan hanya sebuah panorama alam, tetapi juga rekaman tentang bagaimana kehidupan liar, kesegaran pagi, dan doa-doa manusia berbenturan dengan kerakusan dan keserakahan yang merusak keseimbangan alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keindahan dan keseimbangan alam yang dirusak oleh keserakahan manusia. F. Rahardi menggambarkan kehidupan liar yang bebas, alami, dan penuh harmoni, lalu tiba-tiba disusupi oleh kekerasan, perburuan, dan eksploitasi yang mengganggu siklus kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang suasana pagi di alam liar: ranting-ranting lapuk, burung-burung, cahaya matahari yang menembus pepohonan, capung, camar, hingga binatang liar seperti banteng, badak, ular, dan rusa. Semuanya bergerak sesuai naluri dan hukum alam.
Namun, kedamaian itu terusik oleh hadirnya manusia—digambarkan sebagai "ninja-ninja" dengan teknologi canggih—yang memburu badak hanya demi uang. Dari sini, puisi menyingkap benturan antara harmoni alami dan keserakahan manusia modern.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik terhadap eksploitasi alam. Rahardi ingin menunjukkan bahwa alam memiliki hukum dan kebijaksanaannya sendiri—burung, ular, semut, hingga bunga jambu kopo—semua berperan dalam menjaga keseimbangan. Akan tetapi, manusia sering hadir bukan sebagai bagian dari harmoni, melainkan sebagai perusak.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan ironi: doa pagi, doa siang, dan doa sore tetap berjalan sesuai aturan, seolah ritual tidak terusik, sementara di luar sana kekejaman dan perusakan alam berlangsung. Ada pesan bahwa spiritualitas manusia sering terjebak dalam rutinitas, tanpa menyentuh masalah nyata.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini bergerak dinamis:
- Awalnya tenang, hening, dan kontemplatif, penuh imaji alam yang segar.
- Kemudian berubah menjadi tegang, mencekam, dan getir ketika hadir suara ledakan, bau mesiu, raungan gergaji mesin, hingga perburuan badak.
- Di akhir, suasana terasa ironis, karena doa kembali dilanjutkan meski kehancuran sudah terjadi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan utama puisi ini adalah manusia harus belajar menghormati alam, bukan mengeksploitasinya. F. Rahardi menekankan bahwa alam memiliki siklus sendiri yang seimbang. Kehadiran manusia seharusnya menjaga, bukan merusak.
Ada juga amanat moral bahwa ritual keagamaan atau doa tidak boleh berhenti pada formalitas; doa harus diiringi kesadaran dan aksi nyata untuk melawan ketidakadilan, termasuk perusakan lingkungan.
Imaji
Puisi ini kaya sekali dengan imaji visual, auditif, dan penciuman:
- Imaji visual: “bunga-bunga jambu kopo melepaskan jambulnya yang perak lalu perlahan merendah dan terserak di hamparan pasir”.
- Imaji auditif: “gemericik air Citerjun sangat jelas kedengaran jernihnya, gemuruh gelombang selatan bisa tercium suara kerasnya”.
- Imaji penciuman: “biarlah aroma urea menguap berbaur wangi bunga pinang”.
Dengan kekayaan imaji itu, pembaca seolah diajak berada langsung di dalam hutan, merasakan detik-detik keseharian alam yang tiba-tiba porak-poranda oleh tangan manusia.
Majas
F. Rahardi menggunakan berbagai majas untuk memperkuat puisinya, di antaranya:
- Personifikasi: “Mau apa ninja-ninja itu? tanya daun kepada dahan. Jawab embun kepada kabut.” → alam digambarkan bisa berbicara dan berinteraksi.
- Metafora: “Doa pagi, doa siang, doa sore” → sebagai simbol rutinitas spiritual manusia.
- Ironi: Kehidupan liar yang damai hancur justru oleh manusia yang berdoa.
- Repetisi: Kata “biarlah” diulang untuk menekankan kebebasan alam yang seharusnya tidak diganggu.
Puisi "Episode Pagi" karya F. Rahardi adalah refleksi ekologis sekaligus kritik sosial yang tajam. Alam dengan segala keindahan dan kebijaksanaannya tergambar begitu kuat, namun juga disandingkan dengan wajah manusia yang rakus dan merusak. Melalui imaji yang kaya, suasana yang berganti-ganti, serta majas yang tajam, puisi ini menyampaikan pesan penting: manusia harus menempatkan diri sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang merusaknya.
