Kebaikan Hatiku
Bukan pencitraan aku baik padamu dan keluargamu
Namun 'ku memang tulus mencintamu
Ingin 'ku mundur, namun berat hati ini melangkah
Dan 'ku pun tak rela 'tuk menyia-nyiakan usaha selama ini
Analisis Puisi:
Puisi "Kebaikan Hatiku" karya Roman Adiwijaya merupakan ungkapan hati yang sederhana namun sarat emosi. Dengan larik-larik singkat, penyair menyampaikan perasaan tulus dalam mencintai, sekaligus dilema antara bertahan dan mundur. Meski hanya terdiri dari empat baris, puisi ini menyimpan makna yang dalam mengenai cinta, ketulusan, dan perjuangan batin seseorang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketulusan cinta dan dilema perasaan. Penyair ingin menegaskan bahwa kebaikan yang ia berikan lahir dari hati, bukan sekadar pencitraan atau kepura-puraan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mencintai dengan tulus, tidak hanya kepada pasangan tetapi juga keluarganya. Ia mengalami pergulatan batin: ingin mundur karena mungkin terluka atau lelah, namun hatinya berat untuk meninggalkan. Usaha yang telah dilakukan membuatnya tak rela jika semuanya sia-sia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa cinta sejati tidak hanya ditunjukkan kepada pasangan, tetapi juga kepada lingkungannya, termasuk keluarga. Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa cinta yang tulus membuat seseorang rela berkorban dan tetap bertahan meski menghadapi kesulitan. Ada juga pesan bahwa hubungan yang sudah dibangun dengan penuh perjuangan terlalu berharga untuk disia-siakan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah melankolis namun penuh keteguhan hati. Ada kesedihan dan keraguan ketika ingin mundur, tetapi juga ada kekuatan batin untuk tetap bertahan demi cinta.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa ketulusan cinta harus dijaga dengan usaha dan pengorbanan. Jangan mudah menyerah hanya karena rintangan, sebab cinta sejati membutuhkan kesabaran dan kesetiaan.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji emosional yang kuat:
- “Bukan pencitraan aku baik padamu dan keluargamu” → imaji tentang ketulusan yang benar-benar ingin diperlihatkan.
- “Ingin ‘ku mundur, namun berat hati ini melangkah” → imaji batin tentang dilema antara pergi atau bertahan.
- “Tak rela ‘tuk menyia-nyiakan usaha selama ini” → imaji perjuangan dan kesungguhan hati dalam hubungan.
Majas
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
- Litotes – ungkapan sederhana yang justru memperkuat ketulusan, misalnya "bukan pencitraan" untuk menegaskan kesungguhan.
- Hiperbola – dilema batin yang digambarkan dengan perasaan "berat hati ini melangkah" sebagai bentuk intensitas emosi.
- Metafora – "usaha selama ini" bukan hanya usaha fisik, tetapi melambangkan seluruh pengorbanan perasaan dan cinta.
Puisi "Kebaikan Hatiku" karya Roman Adiwijaya adalah karya singkat yang padat makna. Dengan bahasa sederhana, penyair berhasil menyampaikan ketulusan cinta, dilema batin, dan kesungguhan dalam mempertahankan hubungan. Melalui imaji emosional dan majas yang tepat, puisi ini menegaskan bahwa cinta sejati bukan tentang pencitraan, melainkan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian untuk tetap bertahan.