Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kreneng (Karya Iyut Fitra)

Puisi "Kreneng" karya Iyut Fitra bercerita tentang dua orang yang singgah di Kreneng—sebuah tempat yang menjadi saksi pertemuan singkat.
Kreneng
(: Umbu)

Malam tak jadi mabuk. Hanya pekik rock and roll dan gadis bergaun samar sebelum esok penumpang pulang. Di kreneng singgahlah meski dua tiga larik percakapan. Tentang kuda sumba, kumbasari atau parewa yang terus mengunyah arah. Selebihnya mungkin soto sapi, segelas teh, menghangatkan malam jadi panjang.

"Berulangkali Oktober atau di bulan-bulan lain kita selalu gagal bertemu. Bisakah kuminta sajak tentang usia?"

Malam memang tak jadi mabuk. Kita menulis lambai di bangku tua itu. Sebuah perpisahan yang tergesa. Di kreneng ada janji Oktober tahun ini.

Mei, 2011

Analisis Puisi:

Puisi "Kreneng" karya Iyut Fitra adalah salah satu karya yang menghadirkan potret suasana malam dengan balutan kenangan, percakapan, dan nuansa pertemuan yang tak pernah utuh. Dengan pilihan kata yang sederhana namun penuh simbol, puisi ini menyentuh sisi kehidupan sehari-hari dan menyingkap makna tersirat tentang waktu, perpisahan, dan kerinduan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertemuan yang tertunda dan perpisahan. Puisi memperlihatkan bagaimana kehidupan sering mempertemukan orang-orang dalam suasana sesaat, namun sulit menghadirkan keutuhan kebersamaan. Waktu, jarak, dan keadaan menjadi faktor yang membuat pertemuan itu tak pernah benar-benar sempurna.

Puisi ini bercerita tentang dua orang yang singgah di Kreneng—sebuah tempat yang menjadi saksi pertemuan singkat. Mereka berbincang sebentar, ditemani suasana malam, soto sapi, dan segelas teh. Namun, pada akhirnya yang tertinggal hanyalah janji, lambai perpisahan, dan penantian yang belum tentu terpenuhi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup penuh dengan momen sementara. Pertemuan singkat, percakapan terbatas, dan janji yang tertunda melambangkan bagaimana manusia sering kehilangan kesempatan untuk merajut kebersamaan yang diharapkan. Ada kerinduan, ada janji, namun juga ada kesadaran bahwa waktu selalu bergerak meninggalkan.

Selain itu, penyebutan “Oktober” yang berulang memberi kesan bahwa waktu tertentu menjadi simbol harapan, tetapi juga sekaligus kegagalan yang terus terulang.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah melankolis dan penuh kerinduan. Malam yang digambarkan bukan malam yang riuh penuh keriangan, melainkan malam yang panjang, ditemani percakapan singkat dan hangat, namun diakhiri dengan perpisahan yang tergesa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat dari puisi ini adalah bahwa waktu bersama orang yang berharga sebaiknya dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Kehidupan sering hanya memberi kita kesempatan singkat, dan jika kita tak pandai menghargainya, maka yang tersisa hanyalah penyesalan, janji, dan kenangan.

Imaji

Imaji yang muncul dalam puisi ini cukup kuat:
  • Imaji pendengaran: “pekik rock and roll” menghadirkan suasana bising malam.
  • Imaji penglihatan: “gadis bergaun samar” memberikan bayangan visual suasana malam.
  • Imaji pengecapan dan peraba: “soto sapi, segelas teh, menghangatkan malam” menghadirkan sensasi rasa dan kehangatan.
  • Imaji gerak: “menulis lambai di bangku tua itu” memberi gambaran tentang gestur perpisahan.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi: “parewa yang terus mengunyah arah” memberi sifat manusia pada sesuatu yang abstrak.
  • Majas simbolik: “Oktober” menjadi simbol waktu yang penuh janji namun juga penundaan.
Puisi "Kreneng" karya Iyut Fitra merupakan refleksi tentang momen singkat dalam hidup: pertemuan, percakapan, perpisahan, dan janji yang menggantung. Dengan diksi sederhana namun penuh simbol, puisi ini menyampaikan pesan bahwa hidup sering kali hanya memberi kita kesempatan sesaat untuk saling bertemu, dan selebihnya hanya tersisa penantian.

Iyut Fitra
Puisi: Kreneng
Karya: Iyut Fitra

Biodata Iyut Fitra:
  • Iyut Fitra (nama asli Zulfitra) lahir pada tanggal 16 Februari 1968 di Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.