Nyanyian Para Malaikat
Di pagi penuh rahmat itu
seorang teman surgawi
memukulkan lidah lonceng
yang keras itu
ke dindingnya yang dingin.
Maka kami pun turun
ke bumi yang sedang mandi.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!
Sambil meluncur-luncur
di atas atap licin basah
dari gereja yang tua itu
kami tunggu
kedatangan sepasang pengantin
yang muda remaja
bagai mentari muda yang malu
di pagi dingin itu
Dinginnya!
Wahai! Wahai!
Koster gereja yang rajin
telah siapkan roti dan anggur
untuk missa yang suci itu
sementara lilin-lilin telah dipasang
dan bunga-bunga bersebaran
Tuhan Allah Yang Esa
yang selalu dipuja
dalam mazmur bani Israel,
akan menyatukan dua remaja
dalam pelukan cintanya.
Ah, ya!
Dua orang pengantin remaja
akan berpelukan
dalam pagi yang dingin.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!
Pagi yang dingin itu
adalah pagi yang mesra,
pagi bunga-bunga mawar,
pagi kemenyan dan kayu cendana.
Dalam sakramen telah disatukan:
dua badan satu jiwa
selapik seketiduran.
Sumber: Empat Kumpulan Sajak (1961)
Analisis Puisi:
Puisi "Nyanyian Para Malaikat" karya W.S. Rendra adalah sebuah karya yang mempersembahkan gambaran suasana sakral dan keanggunan dalam sebuah perayaan keagamaan, khususnya pernikahan.
Nuansa Keagamaan: Puisi ini menghadirkan suasana keagamaan yang kental, dengan gambaran gereja tua dan persiapan untuk sebuah perayaan misa yang suci. Ketika malaikat memukulkan lonceng gereja, suasana sakral pun hadir dengan kuat.
Momen Pernikahan: Puisi ini memfokuskan pada momen pernikahan dua orang muda yang dianggap sebagai peristiwa sakral yang disatukan oleh Tuhan. Dalam konteks keagamaan, pernikahan dipandang sebagai persatuan dua jiwa dalam ikatan yang suci dan berkat.
Penggambaran Lingkungan: W.S. Rendra menggambarkan lingkungan dengan detail yang memikat, seperti gereja tua, atap yang licin basah, dan bunga-bunga yang tersebar. Ini menciptakan latar belakang yang kaya dan memperkuat suasana yang diinginkan dalam puisi.
Perasaan Dingin dan Keintiman: Pagi yang dingin menjadi salah satu elemen penting dalam puisi ini. Dinginnya pagi tersebut bukan hanya dalam konteks fisik, tetapi juga menyimbolkan kerendahan hati dan kebersihan jiwa dalam momen keintiman pernikahan.
Pemersatu Jiwa: Puisi ini menyoroti pentingnya pernikahan sebagai peristiwa yang menyatukan dua jiwa menjadi satu. Dalam sakramen pernikahan, dua individu menjadi satu dalam cinta dan komitmen, sebagaimana yang dipercayai dalam tradisi agama.
Bahasa dan Gaya Penulisan: W.S. Rendra menggunakan bahasa yang mengalir dan imaji yang kuat dalam puisi ini. Gaya penulisannya menciptakan ritme yang memikat dan memperkuat suasana sakral dan keanggunan dalam peristiwa yang digambarkan.
Dengan menggabungkan elemen-elemen keagamaan, keintiman, dan keanggunan, puisi "Nyanyian Para Malaikat" karya W.S. Rendra memberikan gambaran yang indah tentang momen sakral pernikahan dalam tradisi keagamaan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna dan keindahan dalam perayaan suci tersebut.