Selamat Pagi Sobat Sohih Saudara-Saudaraku
Hari-hariku rasanya lewat begitu cepat. Aku mencoba untuk menjalani setiap menit dan jamnya dengan bersungguh supaya seimbang, walaupun hingga kini belum juga, siapa tahu mulai hari ini bisa, tak baik berputus asa...
Angin sejuk mulai semilir melalui kisi-kisi jendela, membisikkan fatwa realita yang, sungguh memilukan. Namun tubuh tuaku mensyukurinya sebagai berkah, lantaran semalaman bersimbah peluh berpeluk gerah...
Dengan rasa syukur ini, aku lantunkan salam: Selamat pagi sobat sohih saudara-saudaraku, semoga hari ini kita semua menyenangkan...
Analisis Puisi:
Puisi karya Joss Sarhadi yang berjudul "Selamat Pagi Sobat Sohih Saudara-Saudaraku" hadir sebagai refleksi sederhana namun penuh makna tentang kehidupan sehari-hari, rasa syukur, dan semangat menyapa sesama. Meski menggunakan bahasa yang ringan, puisi ini menyimpan pesan mendalam mengenai bagaimana manusia seharusnya menjalani waktu, menerima kenyataan, dan tetap berbahagia di tengah keterbatasan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah rasa syukur dan semangat hidup di tengah kenyataan pahit. Penyair mengangkat pengalaman keseharian—dari tubuh yang renta, rasa lelah, hingga kehangatan pagi—namun mengemasnya dalam nuansa positif yang penuh penerimaan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menapaki hari-hari tuanya dengan penuh kesadaran akan waktu yang cepat berlalu. Ia menyadari masih banyak hal dalam hidup yang belum seimbang, tetapi tetap berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak menyerah. Angin pagi, tubuh tua yang penuh peluh, serta semangat untuk mengucapkan salam kepada sahabat dan saudara menjadi gambaran perjalanan batin seorang manusia yang tetap optimis meski realitasnya kadang getir.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah ajakan untuk tetap mensyukuri setiap hal kecil dalam hidup, meski kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Waktu memang berjalan cepat, tubuh manusia semakin renta, dan realitas kadang menyakitkan. Namun, dengan syukur dan semangat berbagi salam, hidup dapat terasa lebih ringan dan bermakna.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa tenang, kontemplatif, sekaligus optimis. Ada keheningan pagi yang sejuk, rasa lelah yang tersisa dari semalam, namun diselimuti rasa syukur yang membuat suasana menjadi damai. Penyair berhasil menghadirkan keseimbangan antara getir dan kebahagiaan sederhana.
Amanat / pesan yang disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan puisi ini adalah bahwa hidup harus dijalani dengan penuh syukur dan tidak berputus asa. Walaupun usia bertambah dan tubuh melemah, semangat untuk menjalani hidup tetap harus dijaga. Dengan menyapa sesama dengan doa dan salam, manusia bisa memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan kebahagiaan bersama.
Imaji
Imaji dalam puisi ini cukup kuat, terutama dalam menghadirkan suasana pagi:
- Imaji perasaan: “Hari-hariku rasanya lewat begitu cepat” menggambarkan kesadaran akan cepatnya waktu berlalu.
- Imaji penglihatan: “Angin sejuk mulai semilir melalui kisi-kisi jendela” menghadirkan suasana pagi yang hening.
- Imaji perasaan tubuh: “Tubuh tuaku mensyukurinya sebagai berkah, lantaran semalaman bersimbah peluh berpeluk gerah” menggambarkan pengalaman fisik yang nyata dari tubuh yang letih namun tetap disyukuri.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi – “Angin sejuk… membisikkan fatwa realita” seolah-olah angin dapat memberi nasihat.
- Metafora – “Fatwa realita” sebagai gambaran kebenaran hidup yang harus diterima.
Puisi "Selamat Pagi Sobat Sohih Saudara-Saudaraku" karya Joss Sarhadi merupakan karya yang sederhana namun penuh makna. Ia menghadirkan refleksi kehidupan yang realistis—tentang cepatnya waktu, tubuh yang renta, dan kenyataan yang getir—namun tetap menekankan pada rasa syukur serta semangat optimis. Dengan imaji pagi yang sejuk dan majas yang hidup, puisi ini menyampaikan pesan bahwa hidup seberat apa pun tetap indah bila dijalani dengan kesabaran, doa, dan salam persaudaraan.
Puisi: Selamat Pagi Sobat Sohih Saudara-Saudaraku
Karya: Joss Sarhadi
Biodata Joss Sarhadi:
Nama lengkapnya adalah Joseph Suminto Sarhadi.