Puisi: Seseorang yang Mengapung di Atas Tubuhku (Karya Afrizal Malna)

Puisi "Seseorang yang Mengapung di Atas Tubuhku" karya Afrizal Malna bercerita tentang pengalaman batin seorang tokoh yang merasakan kehadiran ...
Seseorang yang Mengapung di Atas Tubuhku

Dia membuat sore dari sebuah rancangan busana
jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup
guntingan pada bahu. Kulit tropis di musim semi
buatlah aku dari air liur burung gereja
yang memberi minum anaknya, dan sebuah kamus
yang tak punya ancaman.

Jangan bercerita, ketika kupu-kupu terbang dalam suaramu
dan sebuah senja yang tak bisa dimasuki batas malam
tubuhnya mengapung di atas tubuhku
seperti laut pasang
bulan yang tergenang dalam cahayanya
buatlah aku kembali tidak mengerti apa itu takut
ketika menyusuri bibirmu, pelukan, yang meninggalkan senja
pada lampu jalan

Sebuah kafe, belum tutup untuk seorang tamu
yang masih menyanyikan cinta. Para pemusik
telah pergi meninggalkannya.
Sebuah lagu Elvis Presley - Fever,
seperti suara bibir dalam anggur merah.

Buatlah aku dari sebuah sudut malam
seolah-olah aku sedang menunggumu
di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian
hingga aku tak tahu: sedang memeluk mayatku sendiri.

Sumber: Buka Pintu Kiri (2018)

Analisis Puisi:

Afrizal Malna dikenal sebagai salah satu penyair Indonesia modern yang sering menampilkan gaya eksperimental dan penuh simbol dalam puisinya. Puisi "Seseorang yang Mengapung di Atas Tubuhku" adalah salah satu contoh bagaimana ia memadukan imaji keseharian, bahasa tubuh, dan fragmen-fragmen budaya populer menjadi teks yang kompleks, kaya tafsir, serta memancing perenungan.

Tema

Tema puisi ini adalah cinta, tubuh, dan keterasingan eksistensial. Cinta hadir dalam bentuk pelukan, suara, dan pertemuan yang intim, namun sekaligus menyisakan pertanyaan tentang identitas, ketakutan, dan kesepian.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seorang tokoh yang merasakan kehadiran orang lain secara intens, baik secara fisik maupun emosional. Tubuh menjadi medium pertemuan, namun juga medan keterasingan: ada pelukan, senja, ciuman, tapi di balik itu terselip rasa kehilangan, bahkan ketidakpastian apakah ia sedang memeluk kekasihnya atau “mayatnya sendiri.” Dengan kata lain, puisi ini menangkap paradoks antara cinta dan kehampaan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kedekatan paling intim sekalipun tidak selalu menjamin rasa penuh dan keutuhan. Hubungan bisa menghadirkan cinta, tapi juga bayang-bayang kehilangan. Simbol-simbol seperti busana, kupu-kupu, senja, kafe, hingga lagu Elvis Presley menjadi fragmen dunia modern yang menggambarkan bagaimana cinta berlangsung di tengah ruang-ruang budaya kontemporer, namun tetap dihantui pertanyaan eksistensial: siapakah aku dan apa yang tersisa setelah cinta?

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini intim, melankolis, namun sekaligus surreal. Ada keindahan dalam gambaran pelukan dan suara, tetapi juga ada keganjilan, alienasi, bahkan getir yang lahir dari imaji “memeluk mayatku sendiri.”

Amanat / Pesan yang disampaikan

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, melainkan juga kerentanan manusia dalam menghadapi rasa takut, kehilangan, dan kematian. Melalui cinta, seseorang bisa merasa dekat, tetapi juga bisa tersadar betapa rapuhnya eksistensi manusia.

Imaji

Puisi ini sangat kaya dengan imaji, antara lain:
  • Imaji visual: “jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup”, “bulan yang tergenang dalam cahayanya”, “lampu jalan”, “kafe yang belum tutup”.
  • Imaji auditif: “lagu Elvis Presley – Fever”, “kupu-kupu terbang dalam suaramu”.
  • Imaji perasaan: pelukan, ciuman, dan ketidakmengertian tentang takut.
Imaji-imaji ini memberi nuansa modern, urban, dan puitis sekaligus absurd.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: tubuh yang mengapung di atas tubuh, pelukan yang meninggalkan senja, suara bibir dalam anggur merah.
  • Personifikasi: “kupu-kupu terbang dalam suaramu” yang memberi kesan hidup pada suara.
  • Hiperbola: “seolah-olah aku sedang menunggumu di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian,” memperkuat nuansa intens dan dramatis.
  • Simbolisme: busana, senja, dan musik menjadi simbol kerinduan, transisi, serta kesementaraan cinta.
Puisi "Seseorang yang Mengapung di Atas Tubuhku" karya Afrizal Malna adalah karya yang memadukan fragmen budaya populer dengan imaji tubuh dan pengalaman batin yang mendalam. Dengan tema cinta yang dibalut keterasingan eksistensial, puisi ini bercerita tentang keintiman yang sekaligus mengandung kehampaan. Makna tersiratnya menyinggung kerentanan manusia dalam menghadapi cinta, ketakutan, dan kematian. Imaji yang kaya serta penggunaan majas metafora, simbolisme, dan personifikasi menjadikan puisi ini sarat lapisan makna. Afrizal Malna berhasil menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi ruang di mana cinta, tubuh, dan eksistensi dipertemukan dalam bentuk yang tak lazim namun sangat menggugah.

Puisi Afrizal Malna
Puisi: Seseorang yang Mengapung di Atas Tubuhku
Karya: Afrizal Malna

Biodata Afrizal Malna:
  • Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.