Puisi: Tak Ada Peminta Datang Pagi Hari (Karya Sutji Harijanti)

Puisi "Tak Ada Peminta Datang Pagi Hari" karya Sutji Harijanti bercerita tentang hilangnya sosok peminta-minta yang biasanya hadir setiap pagi.

Tak Ada Peminta Datang Pagi Hari

Tak ada peminta datang pagi hari
Ketika pagar penghalang gang berjajar
Menghadang peminta datang
Terkunci lagi rapat
Tertatih peminta pergi pagi hari
Semua jalan gang menjadi sunyi
Inilah perumahanku yang tersembunyi menggigil kelu
Setiap rumah
Setiap pagar halaman
Setiap pintu
Mendadak tertutup sepanjang hari
Hai.. peminta yang datang saban hari
Apa yang kau makan hari ini?
Apa makan ini hari?

Analisis Puisi:

Puisi "Tak Ada Peminta Datang Pagi Hari" karya Sutji Harijanti menghadirkan potret keseharian yang sederhana, namun di balik kesederhanaannya menyimpan kritik sosial yang mendalam. Dengan bahasa lugas namun penuh makna, penyair merekam realitas peminta-minta yang kerap hadir di tengah masyarakat dan bagaimana pertemuan itu berubah menjadi keheningan yang menimbulkan pertanyaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemiskinan dan kepedulian sosial. Penyair menyoroti keberadaan peminta yang biasa datang di pagi hari, namun kali ini tidak hadir karena pagar-pagar tertutup rapat. Situasi ini membuka refleksi tentang relasi antara orang yang memiliki dan orang yang kekurangan dalam kehidupan sosial.

Puisi ini bercerita tentang hilangnya sosok peminta-minta yang biasanya hadir setiap pagi. Dalam gambaran penyair, pagar rumah-rumah yang tertutup rapat menjadi simbol penolakan dan keterasingan. Tidak ada lagi suara langkah peminta, hanya keheningan yang tersisa. Pertanyaan di akhir puisi—“Apa yang kau makan hari ini?”—menjadi sorotan utama, menunjukkan kepedulian terhadap nasib mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup dari kemurahan hati orang lain.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik terhadap ketertutupan hati manusia di tengah kemiskinan orang lain. Rumah, pagar, dan pintu yang mendadak tertutup seolah menyimbolkan sikap masyarakat yang menutup mata terhadap penderitaan sekitar. Kepergian peminta bukanlah akhir masalah, justru menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana mereka bertahan hidup. Puisi ini mengajak pembaca merenung: apakah kita sudah cukup peduli terhadap sesama, atau justru menjadi bagian dari masyarakat yang abai?

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah hening, dingin, dan getir. Gambaran gang yang sunyi, pagar-pagar yang terkunci rapat, hingga perasaan menggigil kelu dari “perumahanku” menimbulkan kesan sepi yang mencekam. Suasana ini kontras dengan biasanya, ketika ada interaksi antara peminta dan penghuni rumah, meskipun sekadar memberi atau menolak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah pentingnya membuka kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang hidup dalam kekurangan. Penyair seakan mengingatkan bahwa keberadaan peminta bukan sekadar gangguan, melainkan cermin dari masalah sosial yang nyata. Mengabaikan mereka berarti membiarkan ketidakadilan sosial semakin membeku di sekitar kita.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan suasana.
  • “pagar penghalang gang berjajar” membangkitkan bayangan pagar-pagar tinggi yang dingin dan tak bersahabat.
  • “Semua jalan gang menjadi sunyi” menghadirkan imaji suasana sepi dan kosong.
  • “perumahanku yang tersembunyi menggigil kelu” memberi kesan rumah yang dingin dan tertutup, seakan tidak ramah terhadap sesama.
  • Pertanyaan “Apa yang kau makan hari ini?” menghadirkan imaji tentang perut lapar yang menunggu pengisiannya.

Majas

Beberapa majas yang digunakan antara lain:
  • Personifikasi – “perumahanku yang tersembunyi menggigil kelu” memberi sifat manusia pada rumah, menggambarkan keterasingan dan kedinginan emosional.
  • Repetisi – pengulangan kata “Setiap rumah / Setiap pagar halaman / Setiap pintu” menegaskan betapa seluruh lingkungan tertutup dan tidak ada celah bagi si peminta.
  • Metafora – pagar, pintu, dan rumah yang terkunci dapat dimaknai sebagai simbol hati manusia yang tertutup terhadap penderitaan orang lain.
Puisi "Tak Ada Peminta Datang Pagi Hari" karya Sutji Harijanti bukan sekadar potret sederhana tentang ketidakhadiran seorang peminta-minta. Lebih dari itu, ia adalah simbol keterasingan, kritik terhadap kepedulian sosial, dan refleksi tentang bagaimana masyarakat merespons keberadaan kaum miskin. Dengan imaji yang tajam dan majas yang menyentuh, puisi ini mengajak kita merenungkan: apakah kita sudah cukup peduli, atau justru ikut menutup pintu rapat-rapat dari realitas penderitaan di sekitar kita?

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Tak Ada Peminta Datang Pagi Hari
Karya: Sutji Harijanti
© Sepenuhnya. All rights reserved.