Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Tanyakan pada Rembulan (Karya Mahdi Idris)

Puisi “Tanyakan pada Rembulan” karya Mahdi Idris bercerita tentang seorang aku lirik yang tidak mampu menjawab pertanyaan tentang kehidupan dan ...
Tanyakan pada Rembulan

Tanyakan pada rembulan yang dating singgah di halaman siapa sesungguhnya pemilik dedaunan berguguran pada musim hujan, siapa yang telah menggugurkannya, menjelma humus tak bernama?

Ya, tanyakan pada rembulan yang menyaksikan daunan berguguran pada malam itu dihempas gelombang angin senja, menuju lembah sampai ke muara terdalam. Jangan kau tanyakan padaku yang Cuma sebatang ilalang terluka, diinjak kuda liar di padang sabana, lalu kembali ke muasal tanah yang ditakdirkan. Percuma kau tanyakan padaku, yang tak mampu lagi bicara setelah musim tumbuh berlalu pada awal tahun.

Tanyakanlah pada rembulan, pada benderangnya di malam purnama saat harum kembang kamboja bermekaran membawa kabar kematian siapa lagi yang mesti terima dengan lapang dada. Percuma kau mengumbar birahi bicara, menusuk-nusuk jantungku dengan sebilah pedang bambu yang kusimpan untuk hari perayaan kemerdekaan.

Analisis Puisi:

Puisi “Tanyakan pada Rembulan” karya Mahdi Idris menghadirkan nuansa reflektif yang penuh dengan simbol, pertanyaan eksistensial, dan nada lirih seorang aku lirik yang merasa rapuh. Rembulan dalam puisi ini bukan sekadar benda langit, melainkan saksi bisu atas perjalanan hidup, gugurnya daun, hilangnya musim, dan datangnya kematian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan, kefanaan, dan kematian. Penyair menyuguhkan suasana kontemplatif tentang nasib manusia yang fana, keterbatasan untuk memahami makna hidup, serta peralihan dari kehidupan menuju kematian yang tak terelakkan.

Puisi ini bercerita tentang seorang aku lirik yang tidak mampu menjawab pertanyaan tentang kehidupan dan kematian, lalu mengarahkan pencarian itu pada rembulan sebagai simbol saksi abadi. Ia mengisahkan gugurnya daun, hempasan angin, dan dirinya yang diibaratkan sebagai ilalang yang terluka, diinjak, dan kembali ke tanah. Gambaran ini menunjukkan siklus kehidupan yang tak bisa dielakkan manusia.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup manusia penuh keterbatasan dan kefanaan, sementara alam semesta menjadi saksi yang lebih abadi terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan. Rembulan di sini menjadi simbol pengetahuan dan keabadian, sedangkan manusia hanyalah ilalang rapuh yang pada akhirnya akan kembali ke tanah. Puisi ini juga menyinggung sikap pasrah, bahwa tidak semua pertanyaan hidup bisa dijawab manusia; sebagian hanya bisa diterima sebagai takdir.

Suasana dalam puisi

Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah lirih, sendu, dan kontemplatif. Ada nuansa muram ketika digambarkan daun berguguran, ilalang terluka, harum kamboja sebagai penanda kematian, hingga perasaan sakit hati yang tak terucapkan.

Amanat / pesan yang disampaikan

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari keterbatasannya dalam memahami rahasia kehidupan dan kematian. Daripada terus mempertanyakan hal yang tak mampu dijawab, lebih baik menerima dengan lapang dada bahwa hidup adalah perjalanan menuju kematian. Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa alam sering kali lebih jujur menjadi saksi daripada manusia itu sendiri.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji yang kuat, misalnya:
  • Imaji visual: “dedaunan berguguran pada musim hujan”, “dihempas gelombang angin senja”, “sebatang ilalang terluka”.
  • Imaji penciuman: “harum kembang kamboja bermekaran membawa kabar kematian”.
  • Imaji perasaan: kesedihan, kepasrahan, dan luka batin ketika aku lirik menyadari dirinya hanyalah ilalang rapuh.

Majas

Beberapa majas yang digunakan Mahdi Idris dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: daun berguguran yang “menjelma humus tak bernama” seolah memiliki peran hidup.
  • Metafora: aku lirik menyebut dirinya sebagai “sebatang ilalang terluka” untuk menggambarkan kerapuhan manusia.
  • Simbolisme: rembulan sebagai saksi abadi kehidupan dan kematian.
  • Hiperbola: “menusuk-nusuk jantungku dengan sebilah pedang bambu” untuk mempertegas luka batin yang dialami.
Puisi “Tanyakan pada Rembulan” karya Mahdi Idris adalah refleksi puitis tentang kefanaan manusia di hadapan semesta. Dengan simbol rembulan, daun, ilalang, dan kamboja, penyair menghadirkan renungan tentang hidup dan mati yang tak bisa sepenuhnya dijawab oleh manusia. Tema kehidupan dan kematian, imaji alam yang kuat, suasana lirih, serta penggunaan majas yang puitis menjadikan puisi ini kaya akan makna. Pesan yang dapat ditarik adalah kesadaran akan keterbatasan manusia, serta pentingnya penerimaan terhadap takdir.

Mahdi Idris
Puisi: Tanyakan pada Rembulan
Karya: Mahdi Idris
© Sepenuhnya. All rights reserved.