Puisi: Yang Koyak (Karya Muhammad Rois Rinaldi)

Puisi “Yang Koyak” karya Muhammad Rois Rinaldi bercerita tentang pergulatan batin seorang jiwa yang merasa lelah, ingin pulang, namun tak mampu ...
Yang Koyak

Sebatang malam terbakar tungku tanpa api
: mengepul asap hitam penuhi wajah langit
mencipta gundukan awan - hujan terbelah
bergemuruh-benturlah pusaran laut dadaku,
berlabuh di dermaga sepi, antara sisa buih
siluet putih mengundang wajah-wajah terkasih.

O jiwa yang sendiri merana disiksa kembara
betapapun ingin pulang, memutar arah angin
kapal terlanjur membedah bendungan bah
: layar koyak menunggu terseret dan tenggelam!

Teras Budaya, Cilegon, 2013

Analisis Puisi:

Puisi “Yang Koyak” karya Muhammad Rois Rinaldi menghadirkan bahasa metaforis yang kuat, penuh simbol alam, dan sarat nuansa melankolis. Dengan diksi yang padat, penyair menggambarkan perjalanan batin seorang aku lirik yang diliputi kesepian, keletihan, serta kehancuran yang tak bisa lagi diperbaiki.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kesendirian, keterasingan, dan kehancuran hidup yang tak dapat dihindari. Ada nuansa tragis tentang perjalanan jiwa yang ingin kembali pulang, namun terhalang oleh luka, badai, dan keadaan yang tak bersahabat.

Puisi ini bercerita tentang pergulatan batin seorang jiwa yang merasa lelah, ingin pulang, namun tak mampu lagi melawan keadaan. Aku lirik digambarkan seperti kapal dengan layar koyak yang sudah tak kuasa melawan ombak, hanya menunggu terseret dan tenggelam. Gambaran ini melukiskan kondisi batin manusia yang patah, tak berdaya, dan pasrah pada nasib.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup manusia penuh perjalanan berat, badai, dan luka, namun tidak semua orang bisa sampai pada tujuan yang diinginkan. Ada kalanya, keinginan untuk pulang atau kembali pada kebahagiaan hanya menjadi kerinduan yang tak kesampaian. Layar koyak menjadi simbol harapan yang rusak, sementara kapal yang hampir tenggelam menggambarkan manusia yang kelelahan menghadapi hidup.

Suasana dalam puisi

Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah muram, getir, dan tragis. Ada kesan suram ketika malam digambarkan terbakar tanpa api, ketika laut bergemuruh di dada, hingga akhirnya layar koyak menunggu nasib tenggelam. Semua ini melukiskan perasaan kehilangan, kesepian, dan keputusasaan.

Amanat / pesan yang disampaikan

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa dalam hidup, manusia seringkali berhadapan dengan badai dan luka yang membuatnya rapuh. Namun, meski keadaan terasa hancur, tetap ada pelajaran untuk menerima perjalanan itu sebagai bagian dari kehidupan. Puisi ini mengingatkan kita tentang keterbatasan manusia di hadapan takdir.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang kuat dan dramatis, antara lain:
  • Imaji visual: “asap hitam penuhi wajah langit”, “gundukan awan – hujan terbelah”, “siluet putih mengundang wajah-wajah terkasih”.
  • Imaji auditif: “bergemuruh-benturlah pusaran laut dadaku”.
  • Imaji perasaan: kesepian dan kepedihan dari jiwa yang “merana disiksa kembara”.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “malam terbakar tungku tanpa api” untuk menggambarkan perasaan yang terbakar oleh luka batin.
  • Personifikasi: “pusaran laut dadaku” memberi sifat hidup pada perasaan batin.
  • Simbolisme: “kapal” dan “layar koyak” sebagai simbol perjalanan hidup dan harapan yang rusak.
  • Hiperbola: penggambaran suasana dramatis dengan “asap hitam penuhi wajah langit”.
Puisi “Yang Koyak” karya Muhammad Rois Rinaldi merupakan gambaran puitis tentang kehancuran batin, keletihan hidup, dan kerinduan yang tak bisa tercapai. Dengan simbol kapal, layar koyak, asap, dan pusaran laut, penyair melukiskan perjalanan hidup yang getir. Tema kesepian dan kehancuran, imaji yang kuat, serta majas yang ekspresif menjadikan puisi ini sarat makna. Amanat yang dapat diambil adalah kesadaran bahwa hidup penuh luka dan badai, dan terkadang manusia hanya bisa pasrah menerima nasib.

Muhammad Rois Rinaldi
Puisi: Yang Koyak
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

Biodata Muhammad Rois Rinaldi:
  • Muhammad Rois Rinaldi lahir pada tanggal 8 Mei 1988 di Banten, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.