Puisi: Menjadi Presiden (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Menjadi Presiden Sudah, aku saja yang menjadi presiden aku juga bisa berpura-pura karena aku lahir dari rahim sandiwara. Aku juga pandai…
Puisi: Wajah Palsu (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Wajah Palsu Menjelang pemilu para calon gubernur tidur di rumah penduduk pagi-pagi mandi menimba air di sumur satu dua tiga kejebur. …
Puisi: Luka yang Kau Cinta (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Luka yang Kau Cinta Jika ini kau sebut sebagai luka mengapa kau simpan dalam dada? mematikan lampu dan menutu…
Puisi: Hujan Pagi Ini (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Hujan Pagi Ini Hujan bertandang di ujung bulan pagi anak-anak di balik kaca mengembun mengintip kaki kecil yang terbebas. Lepas duduk manis …
Puisi: Pada Waktu yang Mana (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Pada Waktu yang Mana Entah pada waktu yang mana aku telah membuat persetujuan untuk menutup rapat hati me…
Puisi: Setelah Bendera Itu Dikibarkan (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Setelah Bendera itu Dikibarkan Sekarang Anda menyanyikan lagu kebangsaan di negeri kami. Kami tidak mengenali lagu itu, tapi Anda memaksa ka…
Puisi: Kebijakan Tukang Tidur (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Kebijakan Tukang Tidur Peserta rapat paripurna mendengkur pimpinan rapat bicara tambah ngelantur "sepe…
Puisi: Karang Pada Ombak (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Karang Pada Ombak Karang di tepi laut itu terkikis Ombak telah berlaku curang membawa gelombang cinta deb…
Puisi: Mencari Alamat (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Mencari Alamat Di saat aku mencari alamat kantor pemerintahan aku bertemu seorang pemulung aku bertanya pad…
Puisi: Para Pedagang (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Para Pedagang Bukan. Bukan agama. Peperangan datang dari pasar-pasar. Agama hanya minyak. Para pedagang …
Puisi: Pematang Rindu (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Pematang Rindu Ingatanku tertinggal di lintang pematang antara berpasang bangau putih berlari riang dan wangi nasi liwet, kau bawa dalam ran…
Puisi: Selembar Daun (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Selembar Daun Tentang nganga urat daun beringin di halaman menerima titah, berserah pasrah getah berkilah, ke pelukan tunas sebentar lagi …
Puisi: Ibu Gubernur (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Ibu Gubernur Ibuku sayang, aku datang membawa berita besok, sekumpulan mahasiswa akan menggelar demo katanya sih... masalah dana hibah mal…
Puisi: Di Batas Kesanggupan (Karya Muhammad Rois Rinaldi) Di Batas Kesanggupan Aku tak tahu, apakah ini disebut penantian. Detik-detik begitu nyeri, lembaran napas seperti robekan kertas yang diremas-rema…