Attachment Style dan Hubungan yang Terasa Berat Sebelah

Yuk pahami pola kelekatan dalam hubungan! Kenali ciri anxious, avoidant, dan secure attachment agar hubungan lebih seimbang, hangat, dan sehat ...

Oleh Indira Swasti Ananda

Semakin gencarnya perkembangan media sosial, beragam tren pun kian cepat merebak. Meleknya masyarakat terkait kesehatan mental pun turut meningkat. Di era sekarang, khususnya di kalangan anak muda dan pasangan yang aktif menggunakan media sosial, fenomena hubungan yang tidak seimbang secara emosional semakin sering diperbincangkan di ruang publik. Kerap bermunculan opini-opini di media sosial seperti TikTok yang mengeluhkan bagaimana pasangannya terlalu sering khawatir dan curiga berlebihan. Di sisi lain, ada pula yang membagikan bahwa pasangannya cenderung selalu menghindar untuk mengomunikasikan dan menyelesaikan suatu masalah dalam hubungan. Fenomena seperti ini sering dikaitkan dengan pola psikologis yang disebut insecure attachment, baik pada dimensi anxiety maupun dimensi avoidance. Dalam konteks psikologi sosial modern, pola kelekatan dewasa dikategorikan menjadi tiga, yaitu secure, anxious, dan avoidant (Hazan & Shaver, 1987; Shaver & Mikulincer, 2012).

Attachment Style dan Hubungan yang Terasa Berat Sebelah

Melalui akun TikTok dengan nama pengguna @saquelinda, pada tanggal 21 Mei 2025 ia membuat unggahan dengan memberikan ciri-ciri dari anxious attachment seperti mudah merasa cemas dan mencari kepastian terus-menerus. Sementara itu, unggahan video dari akun @kolin_cga2 pada tanggal 1 April 2025 menyatakan bahwa individu dengan avoidant attachment memberikan kelelahan emosional bagi yang mencoba memahami mereka. Dua video sebelumnya hanyalah contoh dari sekian banyak unggahan mengenai pola attachment yang marak di TikTok. Di platform ini, perdebatan mengenai siapa yang paling ‘jahat’ di antara anxious attachment dan avoidant attachment tidak ada habisnya. Padahal, terdapat hal lain yang sebenarnya perlu digali lebih dalam, bagaimana dampaknya bagi individu dengan secure attachment, yaitu mereka yang biasanya stabil, mampu memberi ruang sekaligus keintiman, tetapi justru harus terus menyesuaikan diri menghadapi pasangan yang takut kehilangan atau takut kedekatan.

Fenomena ini merupakan cerminan dinamika psikososial yang kompleks. Hubungan antara secure partner dengan insecure partner sering kali menciptakan siklus tarik-ulur yang memberikan beban bagi psikologis masing-masing. Dalam dinamika tersebut, individu yang secure sering menjadi “penyeimbang” hubungan dan berperan sebagai tempat berlindung (safe haven) bagi pasangan yang anxious, atau sebagai pihak yang terus berusaha menembus dinding yang dibangun pasangan avoidant. Oleh karena itu, fenomena ini menjadi relevan untuk dikaji melalui perspektif psikologi sosial, khususnya dengan dua teori utama, yaitu Attachment Theory (Bowlby; Ainsworth; Shaver & Mikulincer, 2012) yang menjelaskan dasar emosional hubungan dan regulasi diri, serta Interdependence Theory (Kelley & Thibaut, 1959; Van Lange & Rusbult, 2012) yang menggambarkan struktur ketergantungan dan keseimbangan timbal balik dalam relasi. Dengan menggabungkan kedua teori ini, kita dapat memahami bagaimana dinamika kelekatan yang tidak seimbang memengaruhi kesejahteraan emosional, kepuasan hubungan, dan stabilitas psikologis individu, terutama bagi mereka yang awalnya memiliki kelekatan aman (secure attachment), tetapi terlibat dengan pasangan yang memiliki kelekatan tidak aman (insecure attachment).

Kenapa Bisa Terjadi? Ini Fakta di Baliknya

Hubungan dengan pasangan yang memiliki insecure attachment memberikan dampak terhadap kualitas hubungan yang dijalani dan kesejahteraan psikologis bagi kedua belah pihak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gaya kelekatan anxious dan avoidant dapat memengaruhi pasangan yang awalnya memiliki secure attachment. Penelitian Li dan Chan (2012) melalui meta-analisis terhadap lebih dari 21.000 partisipan dari 113 studi menemukan bahwa individu dengan anxious maupun avoidant attachment sama-sama memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap kualitas hubungan. Keduanya menurunkan kepuasan, keintiman, dan stabilitas hubungan, meskipun melalui mekanisme yang berbeda. Individu dengan anxious attachment cenderung mengekspresikan ketidakamanan (insecurity) lewat perilaku menuntut kepastian (reassurance seeking), kecemasan akan kehilangan, dan kebutuhan konstan untuk divalidasi. Sebaliknya, individu dengan avoidant attachment menunjukkan jarak emosional, menghindari kedekatan, dan cenderung menekan kebutuhan afektifnya. Efek avoidant attachment bahkan lebih merusak secara jangka panjang karena menurunkan keintiman emosional pasangan dan membuat hubungan terasa dingin. Bagi pasangan yang secure, kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan emosional di mana mereka harus terus berjuang membangun kedekatan yang tidak terbalas.

Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian oleh Sagone et al. (2023) menunjukkan bahwa individu dengan secure attachment memiliki kesejahteraan psikologis tertinggi karena mampu menyeimbangkan kebutuhan kedekatan dan kemandirian. Namun, ketika berada dalam hubungan dengan pasangan yang memiliki kelekatan insecure, keseimbangan ini terganggu. Individu yang anxious cenderung menuntut validasi dan perhatian terus-menerus, sementara individu yang avoidant menjaga jarak untuk melindungi diri dari kerentanan emosional. Kombinasi ini menimbulkan beban emosional pada pihak individu dengan kelekatan secure, karena ia sering kali menjadi “penenang” dalam hubungan.

Individu dengan kelekatan anxious dan avoidant cenderung memproses informasi sosial dengan bias yang memperkuat insecurity mereka. Individu yang anxious menginterpretasikan ambiguitas sebagai penolakan dan sering menunjukkan reaksi berlebihan, sementara individu yang avoidant melakukan emotional deactivation, yaitu menekan kebutuhan afektif untuk mempertahankan citra kemandirian (Mikulincer & Shaver, 2003 dalam Simpson & Rholes, 2017). Pola ini menyebabkan munculnya pursue–withdraw cycle, salah satu bentuk dinamika hubungan paling umum dalam pasangan insecure. Ketika seorang secure partner berada di dalam siklus ini, ia sering kali terjebak antara berusaha menenangkan yang anxious sekaligus mengejar yang avoidant.

Temuan serupa diperkuat oleh Bretaña et al. (2022) yang menganalisis 175 pasangan dan menemukan bahwa avoidant attachment berhubungan erat dengan strategi penyelesaian konflik berupa withdrawal atau penarikan diri. Ketika konflik muncul, individu avoidant cenderung menghindar, sedangkan pasangannya (terutama dengan kelekatan yang secure atau anxious) merasa frustrasi dan cenderung menjadi lebih menuntut (demand/aggression). Pola ini menciptakan withdrawal–aggression cycle yang secara signifikan menurunkan kepuasan hubungan bagi kedua pihak. Dalam jangka waktu yang panjang, pasangan yang merupakan individu secure sering kali merasa keintimannya tidak direspons sehingga menyebabkan kelelahan emosional dan penurunan rasa percaya terhadap hubungan.

Sementara itu, Momeñe et al. (2024) menemukan bahwa insecure attachment, baik individu yang anxious maupun individu yang avoidant, keduanya berhubungan dengan tingkat ketergantungan emosional yang tinggi dan kesulitan dalam regulasi emosi. Individu dengan avoidant attachment cenderung menekan emosi negatif dan menghindari ekspresi perasaan, sedangkan individu dengan anxious attachment justru mengalami aktivasi emosi berlebih dan ketakutan akan penolakan. Ketidakmampuan mengelola emosi ini membuat hubungan menjadi tidak seimbang, individu dengan secure attachment harus menanggung beban sebagai “pengatur emosi” bagi pasangannya yang tidak stabil. Hal ini dapat menyebabkan munculnya emotional fatigue atau kelelahan emosional yang dapat menurunkan kepuasan dan rasa aman dalam hubungan.

Konsistensi hasil dari berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan dengan pasangan yang memiliki insecure attachment cenderung bersifat tidak seimbang secara emosional dan relasional. Individu yang secure memang memiliki kapasitas lebih besar untuk mengelola konflik dan memberi dukungan, tetapi ketika keseimbangan interaksi terus-menerus berat sebelah, mereka dapat mengalami penurunan kepuasan hubungan dan kelelahan psikologis. Dalam konteks ini, dampak dari insecure attachment bukan hanya menjadi masalah pribadi, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan sosial dan psikologis pasangan yang sebenarnya memiliki pola kelekatan aman.

Dilihat dari Kacamata Psikologi

Menurut John Bowlby, kelekatan (attachment) merupakan sistem biologis yang berfungsi mempertahankan kedekatan dengan figur penting sebagai sumber rasa aman (secure base). Melalui hubungan awal dengan pengasuh, terbentuk internal working model, gambaran batin tentang diri dan orang lain yang akan memengaruhi cara individu menjalin hubungan di masa dewasa. Individu dengan secure attachment memandang diri mereka layak dicintai dan orang lain dapat dipercaya. Mereka mampu mengatur emosi dan tetap tenang dalam menghadapi konflik. Sebaliknya, individu dengan anxious attachment mengembangkan model diri negatif dengan merasa tidak cukup layak dicintai dan terus mencari validasi emosional. Mereka cenderung menggunakan strategi hyperactivation, yang artinya mencari kedekatan secara intens, berlebihan, dan terkadang menuntut (Shaver & Mikulincer, 2012). Sementara itu, individu dengan avoidant attachment menggunakan strategi deactivation, yang mana mereka menekan kebutuhan emosional, menjaga jarak, dan menghindari keintiman karena meyakini kedekatan akan berujung pada kekecewaan.

Ketika seorang secure partner menjalin hubungan dengan pasangan insecure, muncul dinamika tarik-ulur yang melelahkan secara emosional. Pasangan yang secure berperan sebagai penyeimbang dengan mencoba memberikan rasa aman kepada pasangan yang terus cemas ditinggalkan (apabila anxious) atau berusaha membujuk pasangan yang menghindari kedekatan (apabila avoidant). Namun, menurut Mikulincer & Shaver, supportive behavior hanya efektif bila diterima, karena pada pasangan avoidant, dukungan justru dianggap ancaman terhadap otonomi, sehingga sering dibalas dengan penarikan diri (withdrawal). Bretaña et al. (2022) menunjukkan bahwa individu avoidant lebih sering menggunakan strategi withdrawal saat konflik, yang memicu siklus withdrawal–aggression dari pasangan. Dalam konteks hubungan dengan pasangan secure, pola ini membuat pihak secure merasa keintimannya ditolak, sehingga muncul frustrasi dan kelelahan emosional.

Dengan demikian, melalui sudut pandang Attachment Theory, hubungan antara individu secure dan insecure bukan hanya sekadar perbedaan karakter, melainkan benturan sistem emosi. Secure partner beroperasi dengan orientasi “kedekatan sebagai kenyamanan,” sedangkan insecure partner (terutama avoidant) melihat kedekatan sebagai potensi ancaman. Perbedaan orientasi inilah yang menjelaskan munculnya siklus tarik-ulur dan kelelahan emosional yang kerap terjadi. Jika Attachment Theory menjelaskan akar emosional hubungan, maka Interdependence Theory (Kelley & Thibaut, 1959; Rusbult & Van Lange, 2012) memberi kerangka tentang bagaimana dua individu saling bergantung (mutual dependence) dalam menentukan kualitas dan stabilitas relasi. Teori ini menekankan bahwa hubungan dipertahankan berdasarkan perbandingan antara reward, cost, dan alternatives. Seseorang bertahan dalam hubungan ketika penghargaan (kedekatan, dukungan, cinta) lebih besar daripada biaya emosional yang dikeluarkan.

Dalam dinamika hubungan pasangan secure-insecure, ketidakseimbangan muncul karena distribusi reward–cost yang tidak proporsional. Individu secure cenderung lebih banyak berinvestasi secara emosional dengan cara memberi pengertian, memvalidasi, dan menenangkan, sementara individu yang insecure sering terjebak pada kebutuhan atau ketakutan mereka sendiri. Akibatnya, tingkat ketergantungan menjadi tidak seimbang dikarenakan satu pihak merasa terlalu bertanggung jawab menjaga kestabilan hubungan, sementara pihak lain terfokus pada pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Menurut Rusbult (1980, dalam Van Lange & Rusbult, 2012), commitment dalam hubungan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, di antaranya adalah kepuasan (satisfaction), investasi (investment), dan alternatif (quality of alternatives). Individu secure sering kali tetap bertahan dalam hubungan yang melelahkan karena nilai investasinya tinggi, mereka merasa telah “terlalu dalam” dan memiliki harapan bahwa pasangan bisa berubah. Namun, ketika cost emosional terus meningkat dan reward menurun, komitmen yang terbentuk bukan lagi karena cinta, melainkan karena rasa tanggung jawab atau ketakutan kehilangan stabilitas semu.

Dalam penelitian Momeñe et al. (2024), individu dengan anxious attachment menunjukkan emotional dependence tinggi meski hubungan mereka penuh konflik. Hal ini memperlihatkan bagaimana persepsi dependence yang berlebihan dapat menjerat pasangan secure dalam siklus memberi tanpa menerima. Interdependence Theory juga menjelaskan bahwa hubungan yang sehat membutuhkan covariation of interests, yaitu keselarasan antara kebutuhan dan tujuan emosional kedua pihak. Namun, pada hubungan secure–insecure, hal ini jarang tercapai. Individu anxious menginginkan kedekatan berlebih, sementara avoidant menginginkan jarak, keduanya memaksa individu secure untuk terus menyesuaikan diri. Ketika keselarasan ini gagal dipertahankan, hubungan kehilangan fungsi timbal baliknya (reciprocal exchange) dan bergeser menjadi hubungan kompensatoris, di mana satu pihak terus memberi dukungan, sementara pihak lain tidak mampu membalas dalam kadar yang sama. Fenomena ini menggambarkan bagaimana secure attachment dapat terkikis oleh ketimpangan interdependensi. Apa yang semula didorong oleh kasih dan komitmen dapat berubah menjadi pola adaptif yang penuh tekanan. Dalam jangka panjang, pasangan secure bisa mengalami munculnya rasa bersalah jika mencoba menetapkan batas emosional.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Ini?

Berdasarkan kajian teori dan temuan penelitian, dinamika hubungan antara individu yang memiliki secure attachment dengan individu yang memiliki insecure attachment cenderung tidak seimbang karena individu secure lebih banyak mengambil peran sebagai penghubung emosional. Individu secure mendominasi dalam menjaga kestabilan hubungan, baik saat menghadapi pasangan anxious yang menuntut kedekatan dan validasi terus menerus, maupun saat menghadapi pasangan avoidant yang justru memilih menjaga jarak dan menghindari keintiman. Dari perspektif Attachment Theory, ketidakseimbangan ini muncul akibat perbedaan model batin dan strategi regulasi emosi antara kedua pihak. Sedangkan melalui Interdependence Theory, ketimpangan tersebut dapat dijelaskan sebagai distribusi reward–cost yang tidak proporsional, di mana pihak secure memberikan lebih banyak investasi emosional dibandingkan yang diterima. Dalam jangka panjang, kondisi ini menimbulkan kelelahan emosional, penurunan kepuasan hubungan, serta risiko terkikisnya rasa aman emosional pada individu secure. Oleh karena itu, hubungan yang melibatkan pasangan insecure attachment memerlukan kesadaran emosional dan komunikasi yang sehat dari kedua pihak. Pemahaman terhadap pola kelekatan dapat membantu individu mengelola kebutuhan emosionalnya dengan lebih adaptif sehingga hubungan dapat berkembang secara lebih seimbang dan saling mendukung kesejahteraan psikologis.

Gimana Supaya Hubungan Lebih Sehat?

Untuk Individu/Pasangan

Langkah pertama adalah mengenali gaya kelekatan diri dan pasangan. Memahami pola anxious, avoidant, atau secure membantu individu menyadari sumber reaksi emosional seperti rasa takut ditinggalkan atau kecenderungan menarik diri. Setelah itu, komunikasi terbuka menjadi kunci, di mana pasangan anxious dapat belajar mengungkapkan kebutuhan dengan jelas tanpa menuntut, sedangkan pasangan avoidant perlu berlatih menyampaikan batas dan kebutuhan kemandirian secara sehat. Penting pula untuk melatih regulasi emosi dengan mengenali pemicu pribadi dan menyepakati cara menghadapi konflik tanpa reaksi ekstrem seperti menghindar atau mendesak. Bila pola hubungan sudah terlalu melelahkan, konseling pasangan dapat menjadi pilihan. Selain itu, pasangan disarankan memperkuat interdependensi yang seimbang agar hubungan tidak terasa berat sebelah.

Untuk Praktisi

Praktisi perlu mengevaluasi gaya kelekatan masing-masing individu dalam proses intervensi karena ini menjadi kunci memahami pola relasi. Pendekatan yang menggabungkan attachment dan interdependence dapat diterapkan untuk menyeimbangkan kebutuhan kedekatan dan kemandirian dalam hubungan. Selain itu, penting untuk menekankan bahwa pola kelekatan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Melalui kesadaran, refleksi, dan interaksi yang suportif, individu dapat bergerak menuju gaya kelekatan yang lebih secure. Edukasi mengenai potensi perubahan ini dapat membantu klien melihat harapan dan mengurangi rasa putus asa terhadap diri maupun pasangan.

Sumber Referensi:

  1. Bretaña, C., Gancedo, Y., Bravo, I., & Manzanero, A. L. (2022). Avoidant attachment, withdrawal–aggression conflict pattern, and relationship satisfaction: A mediational dyadic model. European Journal of Investigation in Health, Psychology and Education, 12(11), 1914–1928. https://doi.org/10.3390/ejihpe12110133
  2. Van Lange, P. A. M., & Rusbult, C. E. (2012). Interdependence theory. In P. A. M. Van Lange,
  3. A. W. Kruglanski, & E. T. Higgins (Eds.), Handbook of theories of social psychology (Vol. 2). SAGE Publications.
  4. Li, T., & Chan, D. K‐S. (2012). How anxious and avoidant attachment affect romantic relationship quality differently: A meta‐analytic review. European Journal of Social Psychology, 42(4), 406–419. https://doi.org/10.1002/ejsp.1842
  5. Momeñe, J., Estévez, A., Griffiths, M. D., Macía, P., Herrero, M., Olave, L., & Iruarrizaga, I. (2024). The Impact of Insecure Attachment on Emotional Dependence on a Partner: The Mediating Role of Negative Emotional Rejection. Behavioral Sciences, 14(10), 909. https://doi.org/10.3390/bs14100909
  6. Sagone, E., Commodari, E., Indiana, M. L., & La Rosa, V. L. (2023). Exploring the Association between Attachment Style, Psychological Well-Being, and Relationship Status in Young Adults and Adults-A Cross-Sectional Study. European journal of investigation in health, psychology and education, 13(3), 525–539. https://doi.org/10.3390/ejihpe13030040
  7. Simpson, J. A., & Steven Rholes, W. (2017). Adult Attachment, Stress, and Romantic Relationships. Current opinion in psychology, 13, 19–24. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2016.04.006

Indira Swasti Ananda

Biodata Penulis:

Indira Swasti Ananda, biasa disapa Indira, lahir pada tanggal 18 Mei 2005 di Boyolali. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa, Psikologi, di Universitas Sebelas Maret. Indira suka menuangkan opini maupun ide-idenya ke dalam bentuk tulisan sejak SMP, biasanya terinspirasi dari lagu yang didengarkan, film yang ditonton, dan kejadian di sekitarnya.

© Sepenuhnya. All rights reserved.