Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Alnagi (Karya Fitri Yani)

Puisi "Alnagi" karya Fitri Yani bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang bergulat dengan sepi, penderitaan, dan kehilangan. Tokoh liris ...
Alnagi

selalu kau bangunkan aku dengan sepi dan api
padahal belum tunai mimpi terbuai
di malam yang gulita

katakan padaku
bagaimana bertahan dari resapan air hujan
jika setangkup atap pun
sudah tak ada

bukankah buliran air
setitik-titiknya
akan mengalir juga dari lubuk mata

berpendaran di bumi
menumbuhkan benih yang suci

katakan padaku
bagaimana rupa cahaya yang ditiupkan
pada segumpal darah,
mengapa tiba-tiba hadir
dalam rupa
yang tak kukenali

katakanlah
bahwa gelap adalah nyata

agar ketika sampai waktuku
melepasmu
mataku akan meredup
lalu diresapi air hujan yang datang berkala

sebab kau adalah daun-daun
yang terlepas begitu saja dari tanganku
dan tanganku adalah ranting patah

meski sama-sama kita luruh
namun tubuhmu
tak kuasa kusentuh

"kaulah tunas pertama
yang tumbuh di musim kemarau"

Agustus, 2011

Sumber: Lampung Post (16 Oktober 2011)

Analisis Puisi:

Puisi "Alnagi" karya Fitri Yani adalah sebuah karya yang menyajikan perenungan mendalam tentang kesepian, kehilangan, dan pergulatan batin manusia dalam menghadapi kenyataan hidup. Dengan gaya bahasa yang puitis, puisi ini menghadirkan imaji yang kuat, menyentuh ranah emosional, sekaligus menawarkan refleksi eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian dan kehilangan. Penyair menghadirkan perasaan rapuh ketika berhadapan dengan ketiadaan, baik dalam bentuk mimpi yang terputus, cahaya kehidupan yang tak dikenal, maupun perpisahan yang tak terelakkan. Tema ini erat kaitannya dengan perjalanan manusia dalam menghadapi kefanaan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang bergulat dengan sepi, penderitaan, dan kehilangan. Tokoh liris merasa selalu "dibangunkan" oleh sepi dan api, seolah ketenangan tidak pernah hadir. Ada perasaan kehilangan rumah (atap), kehilangan orang yang dicintai (diibaratkan daun-daun yang terlepas dari tangannya), hingga ketidakberdayaan menghadapi kenyataan bahwa hidup membawa pada luruh dan redupnya cahaya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kehidupan adalah perjalanan yang penuh luka, tetapi juga membawa benih kesucian. Fitri Yani menyiratkan bahwa setiap derita, air mata, dan kegelapan bukan hanya tentang kehilangan, melainkan juga bagian dari siklus kehidupan yang menumbuhkan pengertian dan ketabahan. Kehilangan diibaratkan sebagai daun yang luruh, sementara kehidupan baru tetap tumbuh seperti tunas di musim kemarau.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah melankolis, getir, namun reflektif. Ada kesedihan yang dalam ketika berbicara tentang kehilangan dan kesepian, tetapi juga ada keteguhan dalam menerima kenyataan hidup, yang terlihat dalam ungkapan pasrah saat tubuh dan jiwa akhirnya meredup.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat puisi ini adalah belajar menerima kenyataan hidup, termasuk kesepian, penderitaan, dan kehilangan sebagai bagian dari perjalanan manusia. Penyair ingin mengingatkan bahwa meski ada gelap, air mata, dan keruntuhan, selalu ada benih yang lahir dari kepedihan, sebagaimana tunas tetap tumbuh meski di musim kemarau.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan perasaan yang membuat pembaca merasakan langsung suasana batin penyair. Misalnya:
  • “setangkup atap pun sudah tak ada” menimbulkan imaji kehilangan tempat berlindung.
  • “buliran air setitik-titiknya akan mengalir juga dari lubuk mata” menggambarkan air mata yang deras sebagai simbol kesedihan.
  • “daun-daun yang terlepas begitu saja dari tanganku, dan tanganku adalah ranting patah” melukiskan perasaan ditinggalkan dan tak berdaya.
  • “kaulah tunas pertama yang tumbuh di musim kemarau” memberikan imaji tentang harapan kecil di tengah situasi sulit.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi: “kau adalah daun-daun yang terlepas begitu saja dari tanganku” menggambarkan sosok yang pergi diibaratkan seperti daun.
  • Majas metafora: “tanganku adalah ranting patah” yang melambangkan kelemahan dan ketidakberdayaan.
  • Majas simbolik: “tunas pertama di musim kemarau” menjadi simbol harapan yang lahir dari situasi penuh kekeringan dan penderitaan.
  • Majas repetisi: pengulangan kata “katakan padaku” untuk menekankan kegelisahan batin dan pencarian jawaban.
Puisi "Alnagi" karya Fitri Yani adalah sebuah refleksi mendalam tentang kesepian, kehilangan, dan perjuangan batin manusia. Dengan tema penderitaan dan kehilangan, puisi ini bercerita tentang seseorang yang menghadapi kegelapan dan perpisahan, namun tetap menemukan secercah makna di balik kepedihan. Makna tersiratnya adalah bahwa hidup meski penuh air mata tetap menyisakan ruang untuk harapan. Suasana melankolis dalam puisi diperkuat oleh imaji yang tajam dan majas yang memperindah ekspresi. Amanatnya jelas: manusia harus siap menerima kenyataan hidup, sebab dalam luruh dan kehilangan, selalu ada tunas kehidupan baru yang lahir.

Fitri Yani
Puisi: Alnagi
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.