Puisi: Tarian Hujan (Karya Fitri Yani) Tarian Hujan baris-baris hujan terus menerus bersuara, seperti lantunan sagata di kejauhan. ada yang menggenang dan mengalir, ada yang se…
Puisi: Jalan Raya (Karya Fitri Yani) Jalan Raya "siapa yang telah membangun keramaian di tubuhmu?" ingat atau lupakanlah aku karena aku adalah ujung sekaligus …
Puisi: Bisikan Bisma (Karya Fitri Yani) Bisikan Bisma demi sumpahku kepada cahaya dari utara telah kuciptakan kekosongan di kedalaman mataku kubuang segala pikat asmara d…
Puisi: Penjahit dan Kainnya (Karya Fitri Yani) Penjahit dan Kainnya peristiwa yang saya alami ini, tuanku bukanlah rasa gembira sepasang remaja yang menjalin benang-benang asmara di d…
Puisi: Kenali (Karya Fitri Yani) Kenali kami hamparkan bunga-bunga sekala dari hutan para moyang kopi dan lada rumah dan kebun kami kerap terbakar tubuh anak-anak kami …
Puisi: Pengembara (Karya Fitri Yani) Pengembara engkau yang mengunjungi kota berbekal rencana dan doa yang berdesakan di halte-halte tua jalan raya dan selasar pasar berbesar ha…
Puisi: Sungai (Karya Fitri Yani) Sungai "hidup adalah cerita yang tak habis-habis" ujar sungai yang alirannya begitu tenang batu-batu yang menyimpan kesetiaan …
Puisi: Dua Butir Benih (Karya Fitri Yani) Dua Butir Benih perempuan menebar sebutir benih berwarna putih di tanah benih itu tertidur lelap dan bermimpi bertemu seorang…
Puisi: Cukuplah Asmara (Karya Fitri Yani) Cukuplah Asmara bila bahumu matahari pukul delapan pagi pinggangku rumah berkabut di pinggir hutan bila dadamu badai laut cina selatan t…
Puisi: Rumah Matahari (Karya Fitri Yani) Rumah Matahari mengapa begitu asing rumah padahal telah kugantung lukisan matahari di ruang tamu agar kau selalu menatap harapan yang meny…
Puisi: Cerita untuk Ibu (Karya Fitri Yani) Cerita untuk Ibu sekali waktu aku ingin berjalan di tengah kota di mana para remajanya kehilangan bahasa akan kuceritakan kepad…
Puisi: Gerimis dan Dirimu (Karya Fitri Yani) Gerimis dan Dirimu gerimis kerap begitu pasrah tergores dari langit sementara angin yang menerbangkan butiran debu bagaikan bisikan-bisikan p…
Puisi: Ketika Gelap Jatuh (Karya Fitri Yani) Ketika Gelap Jatuh dari ranting pohon ia menyaksikan orang-orang bergegas ke sebuah rumah dan berdoa sementara di langit ada yang pu…
Puisi: Pemetik Bunga (Karya Fitri Yani) Pemetik Bunga ka, kebersamaan kita menjelma cermin yang retak. aku tak lagi melihat sesuatu yang utuh di wajahmu. berulangkali aku berusaha mele…