Puisi: Bagi Sahabat (Karya Swasti Pritanhari)

Puisi “Bagi Sahabat” karya Swasti Pritanhari bercerita tentang seorang sahabat yang mengingatkan temannya untuk bangkit dan bersiap menghadapi hari.

Bagi Sahabat

Pagi ini sangat cerah sahabat
burung kecil asyik berkicau
dan lihatlah
matahari tersenyum lembut kepadamu
tidak ingatkah engkau sahabat
bahwa hari ini kita musti sekolah?
hapuslah mimpi-mimpi kecilmu
cemara menggugurkan daunnya beberapa helai
yang berpacu dengan angin untuk sampai ke tanah
jalan masih jauh
yang harus kita tempuh dan kita jalani
semoga engkau sadar sahabat
bahwa pagi ini masih ada
setitik kecerahan bagimu

Sumber: Kompas (Th. XIII, 5 Mei 1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Bagi Sahabat” karya Swasti Pritanhari merupakan karya yang sederhana namun sarat makna persahabatan, semangat, dan ajakan untuk menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Dalam puisi ini, penyair menggambarkan momen pagi yang cerah sebagai simbol awal yang baru, lalu menjadikannya latar untuk menasihati sahabat agar tidak larut dalam mimpi, tetapi segera bangkit menghadapi kenyataan. Melalui diksi yang lembut dan penuh empati, penyair menghadirkan suasana yang hangat, akrab, dan menyentuh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah persahabatan dan semangat menjalani kehidupan. Swasti Pritanhari mengangkat nilai kebersamaan dan kepedulian seorang sahabat terhadap sahabat lainnya. Dalam suasana pagi yang cerah, penyair mengingatkan bahwa hidup harus dijalani dengan semangat dan kesadaran, bukan dengan kemalasan atau keengganan. Tema ini juga menyiratkan semangat pendidikan dan kerja keras yang muncul dari rasa sayang antar teman.

Puisi ini bercerita tentang seorang sahabat yang mengingatkan temannya untuk bangkit dan bersiap menghadapi hari. Melalui penggambaran suasana pagi — burung yang berkicau, matahari yang tersenyum, dan pohon cemara yang menggugurkan daun — penyair menyampaikan pesan bahwa alam seolah ikut memberi semangat untuk memulai hari.

Sang “aku” lirik berbicara lembut namun tegas, seolah menegur sahabatnya yang masih terlena dalam mimpi. Ia mengatakan, “hapuslah mimpi-mimpi kecilmu,” dan mengingatkan bahwa masih banyak jalan panjang yang harus ditempuh. Baris ini menggambarkan realitas kehidupan yang menuntut usaha dan kesadaran, bukan sekadar berangan-angan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi “Bagi Sahabat” adalah pentingnya kesadaran, kerja keras, dan optimisme dalam menghadapi kehidupan. Penyair ingin menunjukkan bahwa setiap pagi adalah kesempatan baru yang harus disambut dengan semangat dan rasa syukur. Ajakan kepada sahabat untuk segera bangun dan berangkat sekolah tidak hanya berarti secara literal, tetapi juga simbolik terhadap kesadaran diri dan tanggung jawab.

Puisi ini juga menyiratkan nilai solidaritas dan kasih sayang. Seorang sahabat sejati bukan hanya menemani saat senang, tetapi juga mengingatkan ketika yang lain mulai lalai atau terjebak dalam kenyamanan mimpi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa cerah, hangat, dan penuh harapan. Penyair menghadirkan pagi yang indah dengan “burung kecil asyik berkicau” dan “matahari tersenyum lembut”. Gambaran ini menciptakan nuansa positif dan menenangkan. Namun di balik keindahan itu, ada juga suasana reflektif dan menyadarkan, karena sang penyair mengajak sahabatnya untuk kembali ke realitas dan menjalani tanggung jawabnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat utama puisi “Bagi Sahabat” adalah bahwa hidup harus dijalani dengan kesadaran, semangat, dan rasa syukur. Swasti Pritanhari mengingatkan bahwa setiap pagi membawa peluang baru untuk memperbaiki diri. Jangan biarkan kemalasan atau lamunan menghalangi langkah kita menuju masa depan. Selain itu, penyair juga menyampaikan pesan bahwa sahabat sejati akan selalu mengingatkan kita di saat kita lupa.

Baris “semoga engkau sadar sahabat / bahwa pagi ini masih ada / setitik kecerahan bagimu” menegaskan pesan moral ini — selama kita hidup, selalu ada harapan dan kesempatan baru.

Imaji

Puisi ini memiliki imaji visual dan alamiah yang kuat. Swasti Pritanhari menghadirkan pemandangan pagi yang hidup dan segar:
  • “burung kecil asyik berkicau” – membangkitkan imaji pendengaran yang menenangkan.
  • “matahari tersenyum lembut kepadamu” – menciptakan imaji visual yang hangat dan penuh kasih.
  • “cemara menggugurkan daunnya beberapa helai” – memberikan kesan waktu yang bergerak dan keindahan yang alami.
Imaji tersebut membuat pembaca seolah merasakan langsung suasana pagi yang penuh kehidupan dan semangat baru.

Majas

Dalam puisi ini, Swasti Pritanhari menggunakan beberapa majas (gaya bahasa) untuk memperindah serta memperkuat makna:
  • Personifikasi – tampak pada baris “matahari tersenyum lembut kepadamu” dan “cemara menggugurkan daunnya”, yang membuat unsur alam tampak hidup dan berinteraksi dengan manusia.
  • Repetisi – kata “sahabat” diulang beberapa kali untuk menegaskan kedekatan emosional dan rasa kasih dalam hubungan persahabatan.
  • Metafora halus – pada bagian “hapuslah mimpi-mimpi kecilmu”, yang bukan sekadar tentang mimpi tidur, melainkan simbol harapan yang belum diwujudkan.
  • Simbolisme – “pagi” melambangkan awal kehidupan dan kesempatan baru, sedangkan “jalan masih jauh” melambangkan perjuangan panjang dalam hidup.
Majas-majas tersebut memberikan keindahan sekaligus kedalaman makna, menjadikan puisi terasa lembut namun bermakna dalam.

Puisi “Bagi Sahabat” karya Swasti Pritanhari adalah karya yang sederhana tetapi menyentuh, menampilkan hubungan persahabatan yang tulus dan sarat nilai moral. Dengan tema semangat hidup dan kepedulian antar sahabat, penyair menggunakan bahasa yang lembut untuk menasihati tanpa menggurui. Imaji alam seperti pagi, burung, dan matahari memperkuat suasana hangat dan optimistis.

Makna tersiratnya mengajak pembaca untuk bangkit dari kemalasan, menjalani hari dengan semangat, dan menghargai setiap kesempatan yang masih ada. Melalui puisi ini, Swasti Pritanhari mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang indah, dan sahabat sejati adalah mereka yang menuntun kita untuk tidak berhenti melangkah.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Bagi Sahabat
Karya: Swasti Pritanhari
© Sepenuhnya. All rights reserved.