Puisi: Benderaku (Karya Gatot Supriyanto)

Puisi “Benderaku” karya Gatot Supriyanto mengajak pembaca, khususnya anak-anak, untuk mengenang pengorbanan para pejuang dalam merebut dan ...

Benderaku


Ini benderaku, dua warna
telah digambar dengan tubuh memar pahlawan
bahkan tubuh luluh
dengan tangan terpotong-potong
hati tercabik-cabik
diaduk di tungku peperangan
merahnya membasahi bumi pertiwi
putihnya jadi cermin negeri
Kuingin jadi angin
    bergabung kau, kau, kau hingga menggunung
    menjaga bendera tetap berkibar

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi berjudul “Benderaku” karya Gatot Supriyanto merupakan salah satu karya dalam antologi Surat dari Samudra yang ditujukan untuk anak-anak. Meskipun sederhana dalam diksi, puisi ini memancarkan semangat kebangsaan yang kuat dan menyampaikan pesan mendalam tentang arti perjuangan dan cinta tanah air. Melalui gaya bahasa yang penuh emosi dan simbolik, penyair memperkenalkan nilai-nilai nasionalisme kepada anak-anak dengan cara yang puitis namun mudah dicerna.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah nasionalisme dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan. Puisi ini mengajak pembaca, khususnya anak-anak, untuk mengenang pengorbanan para pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bendera merah putih yang menjadi fokus puisi bukan sekadar simbol negara, tetapi juga lambang dari darah dan jiwa para pahlawan yang rela berkorban demi tanah air.

Tema ini sangat relevan untuk pembelajaran karakter bangsa, karena menanamkan rasa bangga terhadap simbol negara dan mengingatkan generasi muda bahwa kemerdekaan tidak datang secara cuma-cuma.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan dan makna di balik bendera merah putih yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Dalam bait-baitnya, penyair menggambarkan bahwa warna merah dan putih pada bendera tidak sekadar warna biasa, melainkan hasil dari pengorbanan besar para pahlawan.

Baris-baris seperti:

“telah digambar dengan tubuh memar pahlawan / bahkan tubuh luluh / dengan tangan terpotong-potong”

menunjukkan bahwa bendera merah putih seolah-olah “dilukis” dengan darah dan luka perjuangan. Bait ini memberi kesan mendalam bahwa setiap helai bendera menyimpan kisah penderitaan, keberanian, dan tekad yang tidak tergoyahkan.

Di bagian akhir, penyair menulis:

“Kuingin jadi angin / bergabung kau, kau, kau hingga menggunung / menjaga bendera tetap berkibar”

Bagian ini menggambarkan keinginan seorang anak untuk ikut berperan menjaga kehormatan bangsa. Ia ingin menjadi “angin” yang terus membuat bendera berkibar—sebuah metafora indah untuk semangat menjaga kemerdekaan agar tidak luntur oleh waktu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi “Benderaku” adalah ajakan untuk menghargai jasa para pahlawan dan menumbuhkan semangat cinta tanah air dalam diri setiap warga negara, termasuk anak-anak.

Di balik kata-kata sederhana, Gatot Supriyanto menanamkan kesadaran bahwa kemerdekaan adalah hasil dari pengorbanan yang sangat besar—bahkan sampai pada titik kehilangan nyawa.

Selain itu, ada makna tersirat tentang tanggung jawab generasi penerus untuk menjaga apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu. Kalimat “menjaga bendera tetap berkibar” bukan hanya berarti menjaga kain simbol negara tetap utuh, tetapi juga menjaga nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan martabat bangsa.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan imaji kinestetik yang kuat.
  • Imaji visual muncul dalam penggambaran “tubuh memar”, “tangan terpotong-potong”, dan “hati tercabik-cabik”, yang membuat pembaca seolah-olah melihat penderitaan nyata para pejuang di medan perang.
  • Imaji kinestetik tampak pada baris “Kuingin jadi angin... menjaga bendera tetap berkibar”, yang menciptakan gerakan lembut namun penuh makna — seolah bendera itu hidup dan terus bergerak karena semangat bangsa yang tak pernah padam.
Imaji-imaji tersebut membuat puisi ini tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga perasaan pembaca. Meskipun ditujukan untuk anak-anak, penggunaan imaji tersebut tetap efektif karena menggugah rasa hormat dan empati terhadap perjuangan.

Majas

Beberapa majas (gaya bahasa) yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi – tampak pada ungkapan “bendera tetap berkibar” yang seolah memberi nyawa pada bendera. Dalam konteks ini, bendera diperlakukan seperti makhluk hidup yang memiliki semangat dan perlu dijaga.
  • Metafora – pada baris “telah digambar dengan tubuh memar pahlawan”, penyair tidak benar-benar bermaksud bahwa bendera digambar dengan tubuh, tetapi melambangkan bahwa warna merah dan putih berasal dari darah dan semangat perjuangan.
  • Hiperbola – pada frasa “hati tercabik-cabik / diaduk di tungku peperangan”, penyair melebih-lebihkan penderitaan untuk menekankan betapa keras dan perihnya perjuangan.
  • Repetisi – penggunaan kata “kau, kau, kau” di bagian akhir menegaskan ajakan kolektif untuk bersatu menjaga simbol kebangsaan.
Penggunaan majas-majas ini membuat puisi lebih hidup dan penuh emosi, tanpa kehilangan kesederhanaannya sebagai puisi anak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah setiap warga negara harus menghormati dan menjaga makna dari bendera merah putih. Penyair ingin menyampaikan bahwa di balik selembar kain berkibar itu, ada kisah pengorbanan dan penderitaan panjang yang tidak boleh dilupakan.

Bagi anak-anak, pesan ini mengandung nilai pendidikan karakter yang tinggi: menumbuhkan rasa cinta tanah air, menghargai jasa pahlawan, dan memelihara semangat persatuan.

Sedangkan bagi pembaca dewasa, puisi ini menjadi pengingat bahwa nasionalisme bukan hanya tentang simbol, tetapi tentang sikap hidup dan tanggung jawab untuk menjaga martabat bangsa.

Puisi “Benderaku” karya Gatot Supriyanto adalah karya yang singkat namun penuh makna. Melalui simbol bendera merah putih, penyair mengajarkan tentang nasionalisme, pengorbanan, dan tanggung jawab generasi penerus bangsa.

Dengan tema perjuangan dan makna tersirat yang dalam, puisi ini menghadirkan imaji visual dan kinestetik yang kuat serta dihiasi dengan majas metafora, personifikasi, dan hiperbola yang membuatnya terasa hidup.

Puisi ini membuktikan bahwa sastra anak tidak harus ringan atau dangkal—ia dapat menjadi media efektif untuk menanamkan nilai luhur kebangsaan dengan cara yang puitis, indah, dan menyentuh hati.

Gatot Supriyanto
Puisi: Benderaku
Karya: Gatot Supriyanto

Biodata Gatot Supriyanto:
  • Gatot Supriyanto lahir pada tanggal 8 Oktober 1962 di Pontianak.
© Sepenuhnya. All rights reserved.