Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Berangkat (Karya Dami N. Toda)

Puisi “Berangkat” karya Dami N. Toda bercerita tentang seseorang yang menyadari bahwa hidup terus berjalan, diibaratkan seperti kereta yang tak ...
Berangkat

saban kali sadar waktu
kereta berangkat jua ke mana-mana
membaca peta cuaca
pohonan jalan masih merunduk
di pelupuk matahari tanpa kedip

(pemandu loket KA bertanya: Kemana?)

seperti dulu-dulu setia
kau datang kembali
entah dari busur langit mana
membawa pulang peluh panas
bagai bumerang setiap kali terlontar kembali
mencari bulan-bulanan
jantungmu

Sumber: Ratapan Laut Sawu (Universitas Sanata Dharma, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Berangkat” karya Dami N. Toda merupakan karya yang sarat simbol dan perenungan eksistensial tentang perjalanan hidup manusia. Dalam kepadatan bahasanya, penyair mengangkat perjalanan fisik — kereta yang berangkat — sebagai simbol dari perjalanan waktu, kehidupan, dan takdir yang tak bisa dihindari. Dami N. Toda, yang dikenal dengan bahasa puitis padat dan reflektif, menulis puisi ini seolah-olah sebagai dialog antara manusia dan kesadarannya sendiri terhadap waktu yang terus melaju.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan kesadaran waktu. Penyair menggambarkan bagaimana setiap kali seseorang sadar akan keberadaannya, waktu selalu telah berlalu dan terus bergerak. Simbol kereta yang “berangkat jua ke mana-mana” menjadi representasi dari waktu yang tak menunggu siapa pun. Dalam setiap keberangkatan, selalu ada yang tertinggal — baik kenangan, cinta, maupun harapan yang belum tuntas. Tema ini merefleksikan kefanaan manusia dan kesetiaan terhadap perjalanan yang terus berulang tanpa henti.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyadari bahwa hidup terus berjalan, diibaratkan seperti kereta yang tak pernah berhenti. Setiap kali ia tersadar, waktu telah membawa perubahan baru. Dalam perjalanan itu, muncul kembali sosok “kau” — mungkin seseorang dari masa lalu, mungkin kenangan, mungkin cinta, mungkin pula bagian dari dirinya sendiri yang selalu datang dan pergi dalam siklus kehidupan.

Bagian “pemandu loket KA bertanya: Kemana?” memberi kesan konkret: hidup selalu menuntut arah, pilihan, dan tujuan. Namun sang tokoh lirik tampak ragu, seolah tak tahu pasti ke mana perjalanan hidup ini akan berlabuh. Dalam kehadiran “kau” yang setia datang “entah dari busur langit mana”, tersimpan kerinduan dan pengulangan nasib yang tak pernah selesai — layaknya bumerang yang selalu kembali ke titik semula.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini sangat dalam dan filosofis. Dami N. Toda seolah hendak mengatakan bahwa hidup adalah serangkaian keberangkatan dan kepulangan, bahwa waktu tak pernah berhenti memberi kesempatan untuk mencoba kembali, sekaligus mengingatkan bahwa setiap perjalanan adalah bentuk lain dari pencarian diri.

Frasa “kereta berangkat jua ke mana-mana” menandakan ketidakberdayaan manusia di hadapan waktu dan takdir. Sementara “kau datang kembali, entah dari busur langit mana” bisa ditafsirkan sebagai hadirnya kenangan atau takdir yang berulang — sesuatu yang tak bisa dihindari, meski sudah berusaha dilupakan.

Kiasan “bagai bumerang setiap kali terlontar kembali / mencari bulan-bulanan jantungmu” menggambarkan bagaimana manusia terus-menerus terjebak dalam lingkaran pengalaman, rasa sakit, atau penyesalan yang selalu datang kembali. Makna tersirat ini menunjukkan kesadaran eksistensial manusia terhadap nasib dan waktu yang abadi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis dan kontemplatif. Terdapat kesan kesunyian dan penyerahan diri pada alur kehidupan yang tak bisa dihindari. Citra “pohonan jalan masih merunduk di pelupuk matahari tanpa kedip” memperkuat nuansa tenang sekaligus getir, seolah dunia terus berjalan dalam diam, sementara manusia hanya bisa menyaksikan dan ikut berangkat bersama waktu.

Keseluruhan suasana puisi mengandung campuran antara kerinduan, kepasrahan, dan kesadaran diri — suasana yang khas dalam karya Dami N. Toda yang sering mengaitkan perjalanan fisik dengan perjalanan spiritual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat dari puisi ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menerima kenyataan hidup dan waktu yang terus berjalan. Hidup, seperti kereta, akan terus melaju tanpa menunggu siapa pun. Karena itu, manusia harus siap berangkat, siap menghadapi perubahan, dan siap menerima segala hal yang datang — baik pertemuan maupun kehilangan.

Selain itu, penyair juga menyampaikan pesan agar manusia menemukan makna dalam setiap perjalanan, bukan hanya menyesali arah yang telah diambil. Dalam setiap keberangkatan, ada pelajaran, dan dalam setiap kepulangan, ada pemaknaan baru.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan gerak, yang membantu pembaca membayangkan suasana perjalanan dan waktu yang bergulir. Contohnya:
  • “kereta berangkat jua ke mana-mana” menciptakan imaji visual dan auditif — kita dapat membayangkan suara peluit dan roda kereta yang bergerak.
  • “pohonan jalan masih merunduk di pelupuk matahari tanpa kedip” memberikan imaji visual yang indah, menggambarkan waktu siang dan kelelahan alam yang diam dalam terik matahari.
  • “bagai bumerang setiap kali terlontar kembali / mencari bulan-bulanan jantungmu” menghadirkan imaji gerak sekaligus imaji batin, memperlihatkan betapa perasaan dan pengalaman manusia selalu kembali menghantam dirinya sendiri.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan perjalanan dan kelelahan batin dalam menghadapi waktu.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas (gaya bahasa) yang memperkaya makna, antara lain:

Metafora:
  • “kereta berangkat jua ke mana-mana” menjadi metafora kehidupan yang terus berjalan.
  • “membawa pulang peluh panas” adalah metafora untuk perjuangan hidup dan penderitaan yang dialami manusia.
Personifikasi:
  • “pohonan jalan masih merunduk di pelupuk matahari tanpa kedip” memberi sifat manusia (merunduk, tanpa kedip) pada benda mati.
  • “kereta berangkat” juga bisa dibaca sebagai personifikasi dari waktu yang berjalan tanpa bisa dicegah.
Simile (perbandingan):
  • “bagai bumerang setiap kali terlontar kembali” menegaskan perasaan atau nasib yang berulang, menggunakan perbandingan eksplisit dengan kata bagai.
Repetisi:
  • Pengulangan kata dan bunyi tertentu seperti “berangkat” dan “kembali” memperkuat kesan perulangan dan siklus kehidupan.
Dengan majas-majas ini, puisi menjadi lebih hidup dan mendalam, menyatukan antara realitas fisik (perjalanan) dan dimensi spiritual (pencarian diri).

Puisi “Berangkat” karya Dami N. Toda adalah refleksi puitis tentang kesadaran manusia terhadap waktu, takdir, dan perjalanan hidup yang tak henti. Melalui simbol kereta, pohon, dan bumerang, penyair menghadirkan gambaran tentang siklus kehidupan yang penuh perulangan dan kepasrahan, namun tetap menyimpan makna tentang ketabahan dan penerimaan.

Puisi ini bukan sekadar kisah keberangkatan fisik, melainkan keberangkatan batin — menuju pemahaman diri, makna, dan kenyataan bahwa setiap perjalanan, betapapun beratnya, selalu berujung pada pencarian makna eksistensial manusia di hadapan waktu.

Dami N. Toda
Puisi: Berangkat
Karya: Dami N. Toda

Biodata Dami N. Toda:
  • Dami N. Toda (Dami Ndandu Toda) lahir di Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 20 September 1942.
  • Dami N. Toda meninggal dunia di Leezen, Jerman, pada tanggal 10 November 2006.
© Sepenuhnya. All rights reserved.