Bonsai
Kutanyakan pada pohon kemuning
mengapa daun hijau cepat kuning?
Jawabnya:
Pohonku jadi pendek
akarku tinggal sejengkal
semua karna pot
aku dibonsai
umurku tergantung yang mengatur
memberi pupuk, air, dan mencabut rumput
lima hari ini, pemilik pergi
tiada air aku hampir mati
Lalu kutanya pemilik bonsai
jawabnya:
Semua bisa diatur sesuai selera
itu keindahan mataku
ini menyenangkan hati
suka-sukaku
kau anak-anak, mau apa?
Kata guruku:
Biarlah yang besar tetap besar
liar, mengakar, tampak kekar
bahkan begitu tegar
jika tuan tetap tak nyaman,
lihatlah dan ingatlah ini:
oksigen ada di mana-mana
sarang burung-burung menggelantung
anggrek-anggrek menempel berderet-deret
suasana bak surga
Biarlah yang besar tetap besar
mengakar seperti jangkar
membuat air tetap mengalir
begitu bebas
jangan dibonsai!
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi anak "Bonsai" karya Gatot Supriyanto menghadirkan pengalaman membaca yang sederhana namun sarat pesan mendalam. Meskipun ditujukan untuk anak-anak, puisi ini menyelipkan refleksi tentang kehidupan, kebebasan, dan alam yang dapat dipahami pembaca dari berbagai usia.
Tema
Tema utama puisi ini berkaitan dengan kebebasan dan pembatasan. Melalui metafora pohon bonsai, Gatot Supriyanto menyingkap bagaimana sesuatu yang secara alami tumbuh bebas bisa menjadi terbatas jika dikekang sesuai keinginan manusia. Tema lain yang muncul adalah hubungan manusia dengan alam, terutama bagaimana manusia sering memaksakan kehendak mereka pada makhluk hidup di sekitarnya.
Makna Tersirat
Di balik cerita sederhana tentang pohon yang dibonsai, tersirat kritik terhadap sikap manusia yang mengontrol alam semata-mata untuk kepuasan pribadi. Pohon kemuning yang akarnya tinggal sejengkal dan hidupnya tergantung penuh pada pemilik mencerminkan bagaimana kehidupan bisa tertekan jika tidak dibiarkan tumbuh alami. Makna tersirat lain adalah nilai kepedulian—tanpa perhatian yang tepat, sesuatu yang lemah bisa hampir mati, seperti pohon bonsai yang kehabisan air saat pemilik pergi.
Puisi ini bercerita tentang percakapan seorang anak dengan pohon kemuning yang menjadi bonsai, lalu dilanjutkan dengan dialog anak itu dengan pemilik pohon dan gurunya. Anak menanyakan mengapa daun pohon cepat menguning. Pohon menjawab bahwa ia dibonsai dan kehidupannya sangat tergantung pada pemiliknya. Pemilik pohon menyatakan bahwa ia melakukannya demi keindahan dan kepuasan pribadinya. Sang guru kemudian memberikan nasihat agar biarlah yang besar tetap tumbuh bebas, mengakar, dan menikmati kehidupan alami. Alur puisi ini mengajarkan pembaca anak untuk memahami perbedaan antara kebebasan dan keterbatasan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan utama puisi ini adalah menghargai kebebasan dan kehidupan alami. Anak-anak diajak untuk menyadari bahwa memaksakan kehendak bisa membatasi pertumbuhan makhluk hidup lain. Guru dalam puisi menekankan pentingnya membiarkan yang besar tetap tumbuh alami, sebagai simbol kebebasan dan keseimbangan alam. Pesan ini juga bisa diperluas sebagai refleksi bagi pembaca dewasa tentang hubungan manusia dengan alam dan cara menghormati kehidupan.
Imaji dan Majas
Puisi ini kaya dengan imaji visual, seperti "akarku tinggal sejengkal," "sarang burung-burung menggelantung," dan "anggrek-anggrek menempel berderet-deret," yang membantu pembaca membayangkan kondisi pohon dan lingkungan sekitarnya. Majas personifikasi muncul ketika pohon “berbicara” dan menjelaskan kondisinya, membuat pengalaman membaca lebih hidup dan menyentuh hati anak-anak.
Puisi "Bonsai" adalah puisi anak yang sederhana tetapi sarat dengan makna filosofis tentang kebebasan, pertumbuhan, dan keharmonisan alam. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan imaji yang kuat, Gatot Supriyanto berhasil mengajak anak-anak merenungkan hubungan mereka dengan alam dan pentingnya membiarkan makhluk hidup berkembang sesuai fitrahnya.
Karya: Gatot Supriyanto
Biodata Gatot Supriyanto:
- Gatot Supriyanto lahir pada tanggal 8 Oktober 1962 di Pontianak.