Bulan
Elok rupawan menghiasi malam
Dingin dan sejuk oleh pancaran sinar
Binatang malam bermain ditemani terang cahaya
Kau begitu cantik menawan wahai bulan
Bintang-bintang yang bertaburan
Menambah keelokan malam
Malam yang kian larut
Membuat harus segera pergi meninggalkan bersama malam
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi berjudul “Bulan” karya Genduk Nur Kholifah merupakan puisi anak yang sederhana namun sarat dengan keindahan bahasa dan perasaan. Melalui puisi ini, penyair menggambarkan kekaguman terhadap keindahan alam malam, khususnya pada sosok bulan yang menjadi pusat perhatian. Dengan diksi lembut dan suasana yang tenang, puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak menikmati pesona alam yang sering terlupakan.
Puisi ini bercerita tentang keindahan bulan di malam hari yang memancarkan cahaya lembutnya dan menerangi alam sekitar. Dalam puisi ini, bulan digambarkan sebagai sosok yang cantik dan menawan, membawa ketenangan dan keindahan bagi siapa pun yang memandangnya.
Penyair menuliskan pengalaman batin ketika menikmati malam — melihat binatang-binatang yang keluar bermain di bawah cahaya bulan, bintang yang bertebaran di langit, dan suasana damai yang tercipta. Pada bagian akhir, ada kesadaran bahwa waktu terus berjalan dan malam pun akan berakhir, sehingga semua keindahan itu akan berlalu sementara.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keindahan alam malam dan kekaguman terhadap ciptaan Tuhan.
Melalui penggambaran bulan yang indah dan bintang-bintang yang menghiasi langit, penyair ingin menyampaikan rasa syukur dan kagum terhadap keagungan Sang Pencipta. Tema ini sangat khas dalam puisi anak, karena menumbuhkan rasa cinta terhadap alam dan kepekaan terhadap keindahan sekitar.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa keindahan alam adalah anugerah yang patut disyukuri dan dinikmati dengan hati yang tenang.
Bulan dalam puisi ini tidak sekadar benda langit, tetapi juga simbol kedamaian dan ketenangan jiwa. Cahaya lembutnya menggambarkan suasana batin yang tenteram, seolah mengingatkan pembaca bahwa di tengah kesibukan, selalu ada keindahan kecil yang menenangkan hati.
Selain itu, ada makna tentang kesementaraan waktu. Pada bait terakhir, penyair menyadari bahwa malam akan berganti pagi, dan keindahan bulan harus berakhir — ini mencerminkan pemahaman sederhana tentang siklus kehidupan yang terus berjalan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah tenang, damai, dan penuh kekaguman.
Setiap larik menghadirkan perasaan sejuk dan tenteram, seperti ketika seseorang duduk di bawah cahaya bulan sambil menikmati malam. Diksi seperti “dingin dan sejuk oleh pancaran sinar” dan “bintang-bintang yang bertaburan” menegaskan suasana malam yang indah dan menenangkan.
Puisi ini memancarkan rasa ketenangan hati dan ketulusan kekaguman seorang anak terhadap keindahan alam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kita perlu menghargai keindahan alam dan mensyukuri setiap ciptaan Tuhan.
Penyair mengajarkan pembaca, terutama anak-anak, untuk memiliki rasa kagum dan cinta terhadap alam sekitar, serta kesadaran bahwa setiap hal indah di dunia ini tidak berlangsung selamanya.
Melalui keindahan bulan, puisi ini juga menyampaikan pesan moral tentang ketenangan hati — bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana, seperti menikmati sinar bulan di malam hari.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan imaji perasaan (emosional).
- Imaji visual muncul dalam penggambaran seperti “bintang-bintang yang bertaburan” dan “dingin dan sejuk oleh pancaran sinar”, yang memunculkan bayangan nyata tentang langit malam yang indah.
- Imaji perasaan muncul dari suasana damai dan tenang yang dibangun penyair, seolah pembaca ikut merasakan kesejukan dan keteduhan malam.
Kekuatan imaji ini membuat pembaca tidak hanya membayangkan keindahan bulan, tetapi juga merasakan ketenangannya.
Majas
Dalam puisi ini, Genduk Nur Kholifah menggunakan beberapa majas (gaya bahasa) sederhana yang memperindah puisi, di antaranya:
- Personifikasi – Misalnya pada larik “Bulan… kau begitu cantik menawan”, bulan digambarkan seolah-olah memiliki sifat manusia (cantik dan menawan).
- Metafora – Kata “Elok rupawan menghiasi malam” menggambarkan bulan sebagai perhiasan langit tanpa menyebutkan secara langsung kata “perhiasan”.
- Hiperbola – Ungkapan “dingin dan sejuk oleh pancaran sinar” melebih-lebihkan pengaruh cahaya bulan untuk menegaskan suasana lembut dan menyejukkan.
- Repetisi – Pengulangan kata “malam” di beberapa baris menciptakan ritme yang tenang dan menguatkan suasana puisi.
Dengan tema keindahan alam, makna tersirat tentang kedamaian dan kesyukuran, suasana tenang, serta pesan moral untuk mencintai ciptaan Tuhan, puisi ini menunjukkan bahwa keindahan sejati tidak selalu datang dari hal besar — terkadang, cukup dengan menatap bulan yang bersinar lembut di langit malam.
Karya: Genduk Nur Kholifah
Biodata Genduk Nur Kholifah:
- Genduk Nur Kholifah lahir pada tanggal 2 Agustus l981 di Magelang.
