Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Dalam Ribuan Sajakmu (Karya Zen Hae)

Puisi “Dalam Ribuan Sajakmu” karya Zen Hae bercerita tentang perasaan kehilangan dan kesedihan yang dialami oleh narator atau subjek puisi.
Dalam Ribuan Sajakmu

sunyi dan badai kembali membakar kenangan
di jendela. lalu tubuhku lindap dalam gelombang
awan mendung. menzuhurkan kepedihan hidupmu
dan udara dingin berguguran
dalam paruku dalam kamarmu
menyelimuti reruncing sajak
tapi aroma kematianku tercium sampai pembaringan
melewati kamar-kamarmu: terburai oleh tangisan

juga matahari masih menembakkan keranda lewat
serpihan hujan. lalu kengerian tidurmu tersulut
dalam cuaca pagi. penuh kabut mengucur
tapi gagal memeluk hujan yang jatuh di tepi jurang
didera kegamangan
bersama rumput dan para pelayat kau mengantarku
ke bukit-bukit batu. di sini, katamu
"kepulanganmu dipercepat api dan airmata"

dalam ribuan sajakmu tak pernah lagi kautemukan
jejakku. juga jerit anak-anak yang terbadik jalanan.

Analisis Puisi:

Tema utama puisi ini adalah kehilangan, kesedihan, dan jejak memori yang hilang dalam kehidupan manusia. Zen Hae menggunakan simbol badai, hujan, dan kabut sebagai lambang pergulatan batin, kesedihan, dan kenangan yang tak pernah sepenuhnya hilang. Puisi ini menyoroti pengalaman emosional yang dalam, terutama mengenai kehilangan dan penderitaan yang mengikat jiwa seseorang.

Puisi ini bercerita tentang perasaan kehilangan dan kesedihan yang dialami oleh narator atau subjek puisi. Narator berada dalam kondisi batin yang terombang-ambing antara kenangan masa lalu, kepedihan hidup orang lain, dan pengalaman kehilangan diri sendiri. Narasi puitisnya menampilkan perjalanan emosional dari perasaan terselimuti kenangan, diselimuti kepedihan, hingga pada kesadaran bahwa jejak keberadaannya telah hilang bahkan dari ribuan sajak yang ditulis orang lain.

Puisi ini juga menyinggung kesengsaraan sosial atau kemanusiaan, seperti pada baris “jerit anak-anak yang terbadik jalanan”, yang menambah dimensi kesedihan kolektif.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ketidakpastian hidup dan kefanaan manusia dalam menghadapi waktu, kehilangan, dan kenangan yang hilang.

Zen Hae ingin menyampaikan bahwa bahkan dalam ribuan kata atau sajak, jejak manusia bisa hilang, terlupakan, atau tertelan oleh badai kehidupan. Kehilangan itu bersifat menyeluruh — fisik, emosional, dan spiritual.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan perenungan tentang hubungan antara kehidupan, kematian, dan ingatan, serta bagaimana kenangan dan kesedihan tetap hidup melalui tulisan, meskipun keberadaan fisik atau jejak seseorang tidak lagi dapat ditemukan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini gelap, muram, dan melankolis, dengan nuansa sunyi, penuh kegamangan, dan kesedihan mendalam.

Diksi seperti “sunyi dan badai kembali membakar kenangan”, “udara dingin berguguran”, dan “katamu, ‘kepulanganmu dipercepat api dan airmata’” menciptakan atmosfer batin yang tegang, melankolis, dan penuh perasaan kehilangan. Pembaca merasakan hening yang getir dan kesedihan yang menumpuk, seolah ikut melayang di antara kabut, hujan, dan jejak yang hilang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan tentang kefanaan manusia dan kesedihan yang melekat dalam kehidupan. Zen Hae mengingatkan bahwa meskipun manusia menulis atau mengabadikan kenangan dalam ribuan sajak, jejak fisik dan eksistensi seseorang tetap bisa hilang atau terlupakan.

Selain itu, ada pesan reflektif tentang empati dan perenungan kemanusiaan, karena puisi ini juga menyinggung penderitaan anak-anak yang tersisih dan pengalaman manusia yang tersiksa dalam kehidupan.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual, pendengaran, dan emosional:
  • “Badai kembali membakar kenangan di jendela” – imaji visual yang dramatis, menggabungkan alam dengan perasaan.
  • “Udara dingin berguguran dalam paruku dalam kamarmu” – imaji sensorik, menggambarkan dingin yang menembus tubuh dan batin.
  • “Serpihan hujan… penuh kabut mengucur” – imaji alam yang melambangkan kebingungan dan kegamangan.
  • “Jerit anak-anak yang terbadik jalanan” – imaji pendengaran sekaligus simbol penderitaan sosial.
  • “Kepulanganmu dipercepat api dan airmata” – imaji simbolik yang kuat, melambangkan kematian dan kesedihan yang menyertai.
Imaji-imaji ini menyatukan pengalaman batin dan alam sekitar, membangun atmosfer puitis yang intens dan emosional.

Majas

Zen Hae menggunakan beberapa majas untuk memperkuat ekspresi puisinya:
  • Metafora: “badai membakar kenangan”, “kepulangan dipercepat api dan airmata”, menggambarkan kesedihan dan kematian.
  • Personifikasi: “awan mendung… menzuhurkan kepedihan hidupmu”, memberi sifat manusia pada awan.
  • Hiperbola: “dalam ribuan sajakmu tak pernah lagi kautemukan jejakku” menegaskan hilangnya jejak eksistensi dengan cara dramatis.
  • Simbolisme: Hujan, kabut, api, dan angin menjadi simbol pergulatan batin, kematian, dan kenangan yang hilang.
Puisi “Dalam Ribuan Sajakmu” karya Zen Hae adalah karya yang sarat kesedihan, refleksi eksistensial, dan perenungan kemanusiaan. Dengan diksi yang padat dan imaji yang kuat, Zen Hae menampilkan pergulatan batin pengembara emosional yang menghadapi kehilangan, kefanaan, dan kegamangan hidup.

Puisi ini menekankan bahwa meskipun manusia berusaha mengabadikan kenangan dalam ribuan sajak, keberadaan fisik dan jejak seseorang tetap dapat hilang, namun kesedihan, kenangan, dan penderitaan yang dialami tetap mengalir melalui kata, alam, dan ingatan.

Dengan demikian, puisi ini bukan hanya refleksi personal, tetapi juga renungan universal tentang kehidupan, kematian, dan jejak manusia di dunia.

Zen Hae
Puisi: Dalam Ribuan Sajakmu
Karya: Zen Hae

Biodata Zen Hae:
  • Zen Hae lahir pada tanggal 12 April 1970 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.