Desa Wisata
/1/
tidak hanya sebuah desa biasa,
kawasan itu sudah ditata menjadi desa wisata
tidak hanya sepetak sawah biasa
di kiri kanannya dipersiapkan gubug untuk
pelancong dari luar kota
jika liburan tiba, orang-orang kota saling
berkunjung, minta diajak menuju ke sawah
mereka ingin diajari bagaimana caranya
menjadi petani yang hidup sangat sederhana
mendaur tanah sawah untuk kembali ditanami
mengendalikan pedati dan memandikan sapi
di kota tidak lagi terdapat sawah dan sapi
suasana semacam ini hanya mereka lihat
di koran, majalah, internet, dan televisi
mereka benar-benar ingin merasakan sendiri
bagaimana kotornya terkena lumpur kali
dan makan siang dari hasil bumi yang
dipetiknya sendiri
/2/
tidak hanya sebuah desa biasa,
tempat ini telah ditata sedemikian rupa
menjadi ruang semesta yang menyadarkan
kita terhadap harmoni alam semesta
tempatnya yang menyediakan segala kebutuhan
belajar mengolah kehidupan yang masih
mempertahankan keterampilan kaki dan tangan
anak-anak kota bermain lumpur dan tertawa
ternyata kotor itu indah, kotor itu sangat meriah
jauh hari menuju ke desa wisata, mereka ingin
belajar tentang kehidupan yang tidak biasa
sepulang dari sana, mereka berharap kenangan
yang susah dilupakan
/3/
setiba di kota, para pelancong banyak bercerita
baru saja mereka peroleh kenangan yang indah
tentang arti kehidupan di desa dan kehidupannya
mereka berjanji, kelak kalau libur ke sana lagi
kini anak-anak mencatat kenangan itu di buku
mereka ingin mempersembahkan sebuah puisi
bagi para warga yang kini tinggal dan merawat
desa wisata
"aku akan ke desa lagi nanti, aku rindu di sawah
makan nasi hangat lauk ikan yang didapat
empang tak jauh dari tempatku berlari
kulihat ikan-ikan pun berlari"
2018
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Desa Wisata” karya Handry TM menghadirkan pengalaman anak-anak kota ketika mengunjungi desa yang telah dikembangkan menjadi objek wisata edukatif. Dalam buku Surat dari Samudra, puisi ini menonjol karena menggambarkan pertemuan antara kehidupan modern kota dengan kehidupan desa yang tradisional, sekaligus menanamkan nilai-nilai edukasi dan apresiasi terhadap alam serta budaya lokal.
Tema
Tema puisi ini adalah pengalaman edukatif dan harmoni alam dalam konteks desa wisata. Puisi ini menekankan interaksi antara anak-anak kota dengan kehidupan desa: memetik hasil bumi, bermain di sawah, memandikan sapi, serta merasakan pengalaman sederhana yang jarang ditemui di kota. Tema ini mengajak anak-anak untuk belajar menghargai alam, keterampilan tradisional, dan kehidupan yang sederhana namun bermakna.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan anak-anak kota ke desa wisata. Bagian pertama menampilkan persiapan desa untuk menyambut wisatawan: gubug-gubug dibangun, sawah dipersiapkan, dan aktivitas pertanian diperlihatkan agar para pengunjung dapat merasakan pengalaman menjadi petani. Anak-anak diajak belajar secara langsung tentang bercocok tanam, mengendalikan pedati, memandikan sapi, dan menikmati hasil bumi yang mereka petik sendiri.
Bagian kedua menekankan suasana kebahagiaan anak-anak saat bermain lumpur, tertawa, dan menikmati pengalaman kotor namun menyenangkan. Desa wisata menjadi ruang belajar yang mengajarkan keterampilan tradisional dan harmoni dengan alam.
Bait terakhir menggambarkan kepulangan anak-anak ke kota dengan kenangan indah. Mereka menulis pengalaman itu dalam bentuk puisi sebagai penghormatan kepada warga desa yang merawat desa wisata, serta mengekspresikan rindu dan harapan untuk kembali ke sana.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa pengalaman langsung dengan alam dan kehidupan sederhana dapat memberikan pelajaran berharga. Anak-anak belajar menghargai kerja keras petani, pentingnya keterampilan manual, dan hubungan manusia dengan alam.
Selain itu, puisi ini menekankan bahwa kebahagiaan dan pembelajaran tidak selalu berasal dari teknologi atau kehidupan kota yang modern, melainkan juga dari pengalaman sederhana yang memupuk kreativitas, empati, dan kesadaran lingkungan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa ceria, edukatif, dan harmonis. Anak-anak merasakan kegembiraan saat bermain di sawah dan lumpur, rasa penasaran saat belajar bercocok tanam, dan kehangatan saat menikmati hasil bumi. Suasana ini menekankan keselarasan antara manusia dan alam, serta kebahagiaan sederhana yang dapat dinikmati melalui pengalaman langsung.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa pengalaman belajar di desa wisata bisa mengajarkan nilai kehidupan yang penting bagi anak-anak, seperti:
- Menghargai alam dan kehidupan sederhana.
- Menyadari pentingnya kerja sama dan keterampilan tradisional.
- Menikmati proses belajar melalui pengalaman nyata, bukan hanya teori.
- Mengabadikan kenangan dan menghormati orang-orang yang merawat lingkungan.
Puisi ini juga menekankan bahwa kesenangan belajar bisa datang dari pengalaman fisik dan sosial, yang meninggalkan kenangan indah dan pelajaran moral.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji visual, gerak, dan sensorik:
- “Memetik hasil bumi yang dipetik sendiri / Mengendalikan pedati dan memandikan sapi” → imaji gerak dan visual yang memunculkan pengalaman fisik anak-anak.
- “Anak-anak kota bermain lumpur dan tertawa” → imaji sensorik yang menunjukkan kegembiraan dan kebebasan dalam interaksi dengan alam.
- “Makan nasi hangat lauk ikan yang didapat / Kulihat ikan-ikan pun berlari” → imaji visual dan rasa yang menghadirkan kedekatan dengan makanan dan alam sekitar.
Imaji-imaji ini membuat pembaca anak-anak dapat membayangkan dan merasakan pengalaman desa wisata secara nyata.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Majas repetisi, terlihat pada pengulangan “tidak hanya sebuah desa biasa”, yang menekankan bahwa desa ini memiliki keistimewaan dibandingkan desa biasa.
- Majas personifikasi ringan, pada gambaran alam dan aktivitas desa yang seolah “menyambut” anak-anak kota.
- Majas metafora, terlihat pada bagian kedua yang menyebut desa wisata sebagai “ruang semesta yang menyadarkan kita terhadap harmoni alam semesta”, mengibaratkan desa sebagai tempat pembelajaran hidup yang luas dan bermakna.
Puisi “Desa Wisata” karya Handry TM adalah puisi anak yang sederhana namun edukatif, menggambarkan pengalaman belajar di desa yang memadukan kesenangan, keterampilan, dan harmoni dengan alam.
Puisi ini mengajarkan bahwa interaksi langsung dengan alam dan kehidupan sederhana dapat memberikan pelajaran berharga, membangun kreativitas, empati, dan kesadaran lingkungan. Dengan bahasa yang mudah dipahami, imaji yang kuat, dan suasana ceria, puisi ini mampu menanamkan nilai positif bagi anak-anak: menghargai alam, menghormati kerja keras orang lain, dan menikmati pengalaman belajar secara menyenangkan.
Desa wisata dalam puisi ini tidak hanya menjadi tempat liburan, tetapi juga ruang pendidikan yang menyenangkan dan penuh kenangan yang tak terlupakan bagi anak-anak kota.
Karya: Handry TM
Biodata Handry TM:
- Handry TM lahir pada tanggal 23 September 1963 di Semarang, Jawa Tengah.
- Handry TM meninggal dunia pada tanggal 24 Februari 2023.
