Kemiskinan
Kemiskinan yang selalu membelenggu
melingkari diri yang tiada kuasa mengelak
dari kenyataan yang menikam
Kemiskinan yang ada dan selalu menjelang
hanya dapat kurenungi
dan kucerca lewat kata-kata sajakku
Kemiskinan yang meraja
adalah segala-gala diriku
hidupku, miskin harta
sajakku, miskin makna
(tapi aku selalu berusaha dan berjuang
menghapus kemiskinan
dengan daya yang tersisa)
Sumber: Kompas (Th. XIV, 27 Mei 1979)
Analisis Puisi:
Puisi “Kemiskinan” karya Iwan Tatang Hermawan merupakan potret getir kehidupan manusia kecil yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Dengan bahasa sederhana namun penuh daya ungkap, penyair menggambarkan bagaimana kemiskinan bukan sekadar kondisi ekonomi, melainkan juga penderitaan batin yang menghantui dan menjerat seluruh aspek kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemiskinan dan perjuangan manusia untuk keluar dari keterpurukan. Puisi ini menyoroti rasa pasrah sekaligus tekad seorang individu yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, namun tetap berusaha mencari makna dan harapan di tengah penderitaan.
Puisi ini bercerita tentang seorang manusia yang hidup dalam kemiskinan dan tidak mampu menghindarinya, meski telah berusaha keras. Ia menyadari bahwa kemiskinan telah menjadi bagian dari dirinya—menguasai hidup, bahkan meresap ke dalam karya-karyanya. Namun, di balik nada getir itu, terselip semangat untuk terus berjuang “dengan daya yang tersisa.”
Kutipan “Kemiskinan yang meraja adalah segala-gala diriku” menandakan betapa kuatnya dominasi kemiskinan dalam hidup si aku lirik, hingga ia merasa seluruh jati dirinya dikendalikan oleh keadaan tersebut.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kemiskinan bukan hanya masalah materi, melainkan juga luka batin dan beban sosial yang menghancurkan harga diri manusia. Namun penyair menegaskan bahwa meski hidup penuh keterbatasan, semangat untuk bertahan dan berjuang tidak boleh padam.
Selain itu, terdapat refleksi eksistensial: bagaimana kemiskinan dapat menumpulkan daya cipta dan makna hidup, tetapi di saat yang sama justru melahirkan kesadaran dan kepekaan kemanusiaan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi ini muram, getir, dan reflektif, tetapi di ujungnya muncul secercah semangat. Nada pasrah yang terasa pada awal puisi (“melingkari diri yang tiada kuasa mengelak”) perlahan berubah menjadi tekad untuk melawan keadaan (“aku selalu berusaha dan berjuang / menghapus kemiskinan dengan daya yang tersisa”). Perpaduan antara kesedihan dan harapan inilah yang memberi kedalaman emosional pada karya ini.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji penderitaan dan perlawanan batin melalui kata-kata seperti:
- “melingkari diri yang tiada kuasa mengelak” — menggambarkan kemiskinan sebagai jeratan yang membatasi ruang gerak.
- “kenyataan yang menikam” — imaji visual dan rasa sakit yang tajam, melambangkan kerasnya realitas hidup.
- “kemiskinan yang meraja” — memperlihatkan bagaimana kemiskinan telah berkuasa atas diri seseorang.
- “dengan daya yang tersisa” — imaji keteguhan, menggambarkan perjuangan manusia hingga ke titik terakhir.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas penting, di antaranya:
- Personifikasi: “Kemiskinan yang selalu membelenggu” — seolah kemiskinan adalah makhluk hidup yang menjerat manusia.
- Metafora: “kemiskinan yang meraja” menggambarkan keadaan miskin sebagai penguasa yang menundukkan kehidupan.
- Hiperbola: “hidupku, miskin harta / sajakku, miskin makna” — penggambaran yang berlebihan untuk menegaskan betapa dalamnya penderitaan.
- Repetisi: Pengulangan kata “kemiskinan” di awal setiap bait menegaskan betapa kuat dan mendominasi tema tersebut dalam kehidupan penyair.
Amanat / pesan yang disampaikan
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menyerah, meski ia pahit dan menyakitkan. Penyair mengajak pembaca untuk terus berusaha melawan keadaan dengan segala daya yang tersisa. Selain itu, puisi ini juga menyentil masyarakat dan pemerintah agar lebih peka terhadap realitas sosial, bahwa di balik pembangunan dan kemajuan, masih banyak orang yang hidup dalam lingkar penderitaan.
Puisi “Kemiskinan” karya Iwan Tatang Hermawan adalah puisi reflektif yang menggabungkan kepedihan dan perlawanan dalam satu napas. Dengan gaya yang sederhana dan repetitif, penyair berhasil menyampaikan pesan sosial yang kuat—bahwa meskipun hidup miskin, manusia tetap punya martabat dan semangat untuk berjuang.
Karya: Iwan Tatang Hermawan