Kezaliman
Ketika ditebang pepohonan hijau yang rindangi bumi:
manusia telah berbuat zalim kepada-Mu ya Gusti
sebab bumi adalah rupa kehadiran-Mu sendiri
Ketika ditumbangkan pepohonan indah yang sejuki bumi:
manusia robohkan ayat-ayat baka-Mu ya Rabbi
sebab bumi adalah pergelaran firman-Mu sejati
Ketika seisi bumi digali dan diambil demi kelimpahan harta
manusia menganiaya dan merompak milik-Mu ya Paduka
sebab bumi adalah kepunyaan-Mu semata
Ketika diporak-porandakan bumi yang menghidupi:
manusia telah menodai kesucian-Mu ya Illahi
sebab bumi adalah masjid milik-Mu nan suci
Ketika dihancurleburkan keindahan bumi:
manusia mengingkari-Mu ya Gusti?
Malang, 1998/2010
Sumber: Arung Diri (2013)
Analisis Puisi:
Tema utama puisi ini adalah kerusakan lingkungan sebagai bentuk kezaliman manusia terhadap Tuhan. Djoko Saryono mengangkat persoalan ekologis dengan pendekatan spiritual, menegaskan bahwa merusak bumi bukan sekadar pelanggaran moral atau sosial, melainkan pengkhianatan terhadap Sang Pencipta. Puisi ini mengandung refleksi teologis yang dalam — bahwa alam bukan hanya ciptaan Tuhan, melainkan juga wajah dan firman-Nya yang hidup.
Puisi ini bercerita tentang perilaku manusia yang serakah dan merusak alam tanpa rasa tanggung jawab. Dari bait pertama hingga terakhir, penyair menggambarkan berbagai bentuk kezaliman manusia terhadap bumi: menebang pepohonan, menggali isi bumi demi harta, dan menghancurkan keindahan alam yang mestinya dijaga.
Setiap tindakan destruktif itu dipandang sebagai pelanggaran spiritual karena bumi, dalam pandangan religius penyair, merupakan “rupa kehadiran Tuhan”, “pergelaran firman-Nya”, dan “masjid milik-Nya nan suci”. Dengan begitu, setiap tindakan perusakan alam sejatinya adalah tindakan melawan dan mengingkari Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah peringatan moral dan spiritual agar manusia tidak melupakan Tuhan dalam relasinya dengan alam. Djoko Saryono ingin menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan berawal dari krisis iman dan keserakahan manusia. Saat manusia merasa berkuasa atas bumi, ia lupa bahwa alam adalah milik Tuhan — bukan milik pribadi atau kelompok.
Melalui pengulangan bentuk doa dan seruan “ya Gusti”, “ya Rabbi”, “ya Paduka”, penyair seakan sedang mengadu kepada Tuhan atas kezaliman manusia terhadap bumi. Puisi ini tidak hanya mengkritik perilaku manusia modern yang rakus, tetapi juga mengajak pembaca untuk bertobat dan kembali melihat alam sebagai perwujudan kasih dan kebesaran Ilahi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, penuh penyesalan, dan kontemplatif. Nada religiusnya sangat kuat, seolah penyair sedang berdiri di tengah bumi yang hancur dan berbicara langsung kepada Tuhan dengan nada sedih dan penuh penyesalan.
- Ada kesedihan: karena manusia telah “menodai kesucian-Mu, ya Illahi”.
- Ada amarah: ketika “bumi diporak-porandakan” demi keserakahan.
- Ada juga keheningan spiritual: karena penyair menatap kehancuran itu dengan kesadaran religius bahwa Tuhan sedang “disakiti” oleh makhluk-Nya sendiri.
Suasana ini menjadikan puisi “Kezaliman” terasa seperti doa penyesalan ekologis, bukan sekadar kritik sosial.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat ditarik dari puisi ini antara lain:
- Manusia harus menghormati bumi sebagaimana menghormati Tuhan. Alam adalah tanda dan bukti kehadiran-Nya.
- Merusak alam sama dengan berbuat zalim terhadap Tuhan.
- Keserakahan dan eksploitasi alam demi harta adalah bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai spiritual.
- Bumi harus dijaga dan dipelihara karena ia adalah amanah dan tempat suci yang mencerminkan kebesaran Ilahi.
- Kesadaran ekologis harus tumbuh dari kesadaran iman, bukan sekadar tanggung jawab manusia terhadap manusia.
Dengan demikian, Djoko Saryono menghadirkan puisi ini bukan hanya sebagai kritik terhadap eksploitasi lingkungan, tetapi juga sebagai dakwah ekoteologis — ajakan untuk melihat kembali hubungan manusia, alam, dan Tuhan secara utuh.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual dan religius yang kuat:
- “Ketika ditebang pepohonan hijau yang rindangi bumi” → menghadirkan imaji visual kehancuran alam yang nyata.
- “Ketika ditumbangkan pepohonan indah yang sejuki bumi” → menggambarkan hilangnya kesejukan, simbol kehilangan harmoni.
- “Ketika seisi bumi digali dan diambil demi kelimpahan harta” → memperlihatkan kerakusan manusia dalam eksploitasi alam.
- “Bumi adalah masjid milik-Mu nan suci” → imaji religius yang mendalam, menjadikan bumi sebagai tempat ibadah spiritual.
Imaji-imaji tersebut tidak hanya menggambarkan kerusakan fisik, tetapi juga kerusakan spiritual manusia terhadap tatanan ciptaan Tuhan.
Majas
Puisi ini menampilkan berbagai majas yang memperkuat pesan religius dan ekologisnya:
Anafora (pengulangan):
- Kata “Ketika” di awal setiap bait memperkuat kesan kronologis sekaligus retoris, menegaskan rentetan kezaliman manusia terhadap bumi.
Personifikasi:
- Alam digambarkan seolah hidup dan suci, seperti “bumi adalah rupa kehadiran-Mu” dan “bumi adalah masjid milik-Mu nan suci.” Majas ini menegaskan bahwa bumi bukan benda mati, melainkan saksi spiritual kehidupan manusia.
Metafora:
- “Bumi adalah rupa kehadiran-Mu” → bumi diibaratkan sebagai manifestasi Tuhan di dunia.
- “Ayat-ayat baka-Mu” → pepohonan diumpamakan sebagai firman Tuhan yang hidup.
Repetisi religius:
- Ungkapan seperti “ya Gusti, ya Rabbi, ya Paduka, ya Illahi” menciptakan suasana doa dan kesucian, serta mempertegas keintiman spiritual antara manusia dan Sang Pencipta.
Majas-majas ini memperkaya makna puisi, menjadikannya lebih dari sekadar kritik ekologi — tetapi juga renungan spiritual yang mendalam.
Puisi “Kezaliman” karya Djoko Saryono adalah seruan moral, spiritual, dan ekologis agar manusia berhenti merusak bumi dan kembali menghormati ciptaan Tuhan. Melalui bahasa religius dan simbolik, penyair menegaskan bahwa perusakan alam sama dengan menodai kesucian Tuhan, karena alam adalah bagian dari kehadiran Ilahi di dunia.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa iman sejati tidak hanya terwujud dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap menjaga bumi — rumah suci tempat Tuhan menampakkan kasih dan kebesaran-Nya.
Karya: Djoko Saryono
Biodata Djoko Saryono:
- Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.