Maafkan Aku
Ayam-ayamku
Maafkan aku
Hari ini tak ada sisa nasi untukmu
Ibu hanya dapat rejeki sedikit
Ayam-ayamku
Jangan marah
Kuminta tetaplah kau bertelur
Karena hanya dengan telurmu aku dapat bersekolah
Ayam-ayamku
Apabila esok Tuhan melimpahkan berkat-Nya
Untukmu
Kan kuberi sekantong jagung
Sumber: Sinar Harapan (Th. XIX, 10 September 1980)
Analisis Puisi:
Puisi “Maafkan Aku” karya Suyatun merupakan karya sederhana namun sangat menyentuh. Lewat gaya bahasa yang polos dan jujur, penyair menggambarkan kehidupan anak kecil yang hidup dalam kesederhanaan ekonomi, namun memiliki hati yang tulus dan penuh rasa syukur. Dari sudut pandang anak, puisi ini memancarkan kehangatan, kepolosan, dan ketulusan yang lahir dari kemiskinan, sekaligus menghadirkan renungan sosial bagi pembaca.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemiskinan dan ketulusan hati dalam menghadapi hidup. Tema ini memperlihatkan bagaimana keterbatasan ekonomi tidak memadamkan semangat, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab. Melalui hubungan antara anak dan ayam peliharaannya, Suyatun menampilkan nilai kemanusiaan dan kehangatan di tengah kehidupan yang keras.
Tema ini juga menyentuh aspek pengorbanan dan harapan — seorang anak yang sadar bahwa kehidupannya bergantung pada hasil kerja kecil seekor ayam. Ia meminta maaf karena tak bisa memberi makan, tapi tetap berharap pada kemurahan Tuhan dan kebaikan masa depan.
Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang berbicara kepada ayam-ayam peliharaannya. Hari itu, ia tidak memiliki sisa nasi untuk memberi makan mereka karena ibunya hanya memperoleh sedikit rezeki. Meskipun demikian, anak itu tetap meminta agar ayam-ayamnya tidak marah dan tetap bertelur, sebab dari telur-telur itulah ia dapat bersekolah.
Kisah sederhana ini menggambarkan kehidupan keluarga miskin yang berjuang keras untuk bertahan. Namun di balik kesulitan itu, tampak kasih sayang, kepedulian, dan rasa syukur yang besar. Anak itu tidak marah pada keadaan, melainkan bersabar dan berharap Tuhan memberi berkah untuk esok hari agar ia bisa memberi balasan kebaikan kepada hewan yang membantunya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kehidupan sederhana penuh keikhlasan dan rasa terima kasih. Suyatun ingin menegaskan bahwa dalam kemiskinan pun manusia bisa tetap memiliki hati yang lembut dan penuh empati, bahkan terhadap hewan peliharaan.
Puisi ini juga menyiratkan kritik sosial halus tentang realitas kemiskinan di masyarakat — di mana kebutuhan pokok begitu terbatas, bahkan memberi makan hewan pun menjadi kemewahan. Namun, alih-alih menampilkan penderitaan, penyair justru menonjolkan nilai moral dan spiritual: rasa syukur, tanggung jawab, dan harapan kepada Tuhan.
Selain itu, ada makna tersirat tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam. Si anak tidak memandang ayamnya sekadar sumber penghasilan, melainkan juga sebagai teman hidup yang patut dihargai dan disayangi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa haru, lembut, dan penuh kasih. Pembaca dapat merasakan kehangatan emosional dari seorang anak kecil yang berbicara dengan tulus kepada ayam-ayamnya. Di balik kesedihan karena tidak mampu memberi makan, terdapat ketenangan dan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan rezeki esok hari.
Suasana kesederhanaan ini menghadirkan keindahan yang tidak mewah, tetapi mendalam — mencerminkan cinta yang murni, kepasrahan, dan keikhlasan hidup dalam kekurangan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat dari puisi ini adalah belajarlah untuk bersyukur, berempati, dan berdoa meski dalam keterbatasan hidup. Penyair ingin mengajarkan bahwa kemiskinan tidak seharusnya menghilangkan rasa kasih dan tanggung jawab terhadap makhluk lain.
Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang pengharapan dan kerja keras. Anak dalam puisi percaya bahwa dengan sabar dan doa, Tuhan akan memberikan jalan keluar. Ada pula amanat moral bahwa rezeki datang melalui hubungan saling memberi—anak menjaga ayamnya dengan kasih, ayam memberi telur yang membantu kehidupannya.
Selain itu, penyair juga menanamkan nilai kesederhanaan yang luhur: bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kelimpahan, melainkan dari hati yang tulus dan penuh rasa terima kasih.
Imaji
Puisi ini memiliki imaji visual dan emosional yang kuat, yang menggambarkan kehidupan sederhana dengan jelas dan menyentuh.
- Imaji visual terlihat pada larik “Ayam-ayamku / Hari ini tak ada sisa nasi untukmu”, yang membuat pembaca dapat membayangkan suasana rumah miskin tanpa makanan berlebih.
- Imaji emosional muncul saat anak memohon: “Jangan marah / Kuminta tetaplah kau bertelur”, memperlihatkan kasih sayang dan kepolosan yang menyentuh hati.
- Imaji harapan hadir pada “Apabila esok Tuhan melimpahkan berkat-Nya / Kan kuberi sekantong jagung”, menghadirkan gambaran masa depan yang penuh doa dan optimisme.
Imaji sederhana namun efektif ini membangun kedekatan emosional antara pembaca dan tokoh anak dalam puisi.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas (gaya bahasa) untuk memperkuat makna dan perasaan, antara lain:
- Apostrof (penyapaan langsung) — anak berbicara langsung kepada ayam-ayamnya: “Ayam-ayamku, maafkan aku.” Gaya ini memberi kesan intim dan tulus.
- Personifikasi — ayam digambarkan seolah-olah bisa “marah” dan “memaafkan,” memberikan kedalaman emosional pada hubungan manusia-hewan.
- Repetisi — pengulangan kata “Ayam-ayamku” di awal setiap bait menegaskan kedekatan emosional dan rasa kasih anak terhadap peliharaannya.
- Metafora halus — ayam menjadi simbol harapan dan keberlangsungan hidup; melalui telur-telurnya, si anak dapat “bersekolah,” artinya memperoleh masa depan yang lebih baik.
Majas-majas tersebut membuat puisi terasa hidup, menyentuh, dan mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman maknanya.
Puisi "Maafkan Aku" karya Suyatun merupakan potret indah tentang cinta, kemiskinan, dan keikhlasan yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna. Penyair berhasil menampilkan kepolosan anak kecil yang penuh kasih, sekaligus menggugah kesadaran sosial pembaca tentang realitas hidup yang keras namun tetap bisa dijalani dengan rasa syukur.
Melalui tema kemiskinan, makna tersirat tentang empati, imaji yang lembut, dan majas yang menyentuh, puisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari hati yang ikhlas dan penuh rasa terima kasih.
Karya: Suyatun