Puisi: Masih Bulankah Engkau? (Karya Sherly Malinton)

Puisi “Masih Bulankah Engkau?” karya Sherly Malinton menyiratkan perenungan tentang waktu dan perubahan alamiah kehidupan. Tak ada yang abadi — ...

Masih Bulankah Engkau?

Masih bulankah engkau?
ketika pucat di pagi hari
karena terlambat beranjak
dari singgasanamu
dan awan pun sedih
melihat engkau pergi enggan
kemalu-maluan

Masih bulankah engkau
ketika bulatmu tinggal sebelah
terputus angin
dan rindu pun akan tiba
karena belahanmu
tidak segera menyatu
kembali

Bulan, masih bulankah engkau
ketika pagi gemetar
karena marah
melumatkanmu
masih bulankah engkau
masihkah?

Sumber: Bunga Anggrek untuk Mama (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1981)

Analisis Puisi:

Puisi “Masih Bulankah Engkau?” karya Sherly Malinton menghadirkan sosok bulan sebagai pusat imaji yang kuat dan penuh makna simbolik. Melalui dialog puitis dengan bulan, penyair seolah berbicara dengan sesuatu yang mewakili kesempurnaan, keindahan, dan keteguhan, namun kini tampak memudar, kehilangan sinarnya, dan berubah seiring waktu.

Sherly Malinton menampilkan kepekaan batin yang dalam terhadap perubahan, baik perubahan alam maupun perubahan dalam diri manusia sendiri. Dalam kesederhanaannya, puisi ini menyimpan renungan eksistensial yang lembut namun menggugah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perubahan dan kehilangan jati diri. Bulan yang menjadi simbol keindahan dan keteguhan digambarkan perlahan kehilangan cahayanya, menjadi pucat, terbelah, dan bahkan dilumat oleh marahnya pagi. Tema ini dapat dibaca sebagai refleksi tentang kefanaan dan kerentanan manusia, di mana sesuatu yang indah pun dapat pudar seiring waktu.

Namun di sisi lain, tema ini juga bisa dimaknai sebagai pencarian identitas dan keberlangsungan eksistensi — pertanyaan “Masih bulankah engkau?” adalah bentuk kerinduan dan kebingungan terhadap sesuatu (atau seseorang) yang telah berubah dari bentuk aslinya.

Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang mempersoalkan perubahan pada bulan, sebagai metafora dari kehilangan atau perubahan dalam kehidupan.

Penyair melihat bulan yang dulu bersinar terang kini menjadi pucat di pagi hari, enggan pergi dari tempatnya, bahkan terbelah oleh angin, kehilangan kesatuannya. Hingga akhirnya, pagi datang melumatkannya, membuat penyair bertanya-tanya: apakah bulan masih tetap bulan yang sama?

Cerita ini bukan hanya tentang benda langit, tetapi juga tentang perubahan dalam diri manusia atau hubungan antar manusia — saat sesuatu yang dulu indah kini kehilangan cahaya dan bentuknya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kegelisahan eksistensial terhadap perubahan dan kefanaan. Bulan di sini melambangkan sesuatu yang ideal dan indah — bisa jadi cinta, kepercayaan, atau harapan — yang kini mulai pudar. Pertanyaan berulang “Masih bulankah engkau?” menunjukkan keraguan dan kerinduan pada bentuk keutuhan yang dulu pernah ada.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan perenungan tentang waktu dan perubahan alamiah kehidupan. Tak ada yang abadi — bahkan bulan pun mengalami fase, dari bulat penuh hingga sabit dan menghilang. Dalam konteks manusia, ini adalah simbol dari perjalanan batin: dari terang menuju redup, dari pasti menuju ragu.

Bisa juga dimaknai sebagai sindiran halus terhadap manusia modern yang kehilangan jati dirinya di tengah perubahan zaman — mereka masih tampak sama dari luar, tapi sejatinya sudah tak seperti dulu.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, lembut, dan kontemplatif. Ada kesedihan yang samar ketika penyair memandang bulan yang memudar, tetapi juga ada rasa kagum dan kerinduan yang mendalam. Kata-kata seperti pucat, sedih, terputus angin, gemetar, dan melumatkanmu menciptakan atmosfer sunyi dan sendu, seolah alam ikut berduka atas hilangnya cahaya bulan.

Namun di tengah kesedihan itu, ada pula nuansa keindahan yang puitis, ketika alam dan perasaan manusia berpadu dalam satu getaran yang sama.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia bersifat berubah dan tidak kekal, namun perubahan itu seharusnya diterima dengan kesadaran, bukan hanya kesedihan. Penyair seolah ingin menyampaikan bahwa keindahan sejati tidak selalu terletak pada kesempurnaan, melainkan pada penerimaan terhadap siklus kehidupan — terang, redup, dan kemudian menyala kembali.

Selain itu, puisi ini juga mengajarkan untuk merenungi makna keberadaan dan keaslian diri. Ketika penyair bertanya “Masih bulankah engkau?”, itu juga bisa dibaca sebagai pertanyaan kepada diri sendiri: Apakah aku masih seperti dulu, atau telah berubah tanpa kusadari?

Imaji

Puisi ini penuh dengan imaji visual yang menggambarkan perubahan wujud bulan dan suasana langit:
  • “pucat di pagi hari” — menciptakan gambaran visual tentang bulan yang kehilangan cahaya.
  • “dan awan pun sedih melihat engkau pergi enggan” — menghadirkan imaji alam yang berperasaan.
  • “ketika bulatmu tinggal sebelah, terputus angin” — memberikan citra bulan sabit yang kehilangan separuh sinarnya.
  • “pagi gemetar karena marah, melumatkanmu” — menciptakan imaji kuat tentang benturan antara malam dan siang.
Imaji-imaji tersebut memperkaya lapisan makna puisi, menegaskan suasana sedih sekaligus memperindah bentuk puitiknya.

Majas

Beberapa majas (gaya bahasa) yang dominan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “dan awan pun sedih melihat engkau pergi enggan” Awan digambarkan memiliki perasaan sedih, seolah turut berduka atas keadaan bulan.
  • Metafora: Bulan digunakan sebagai metafora dari sesuatu yang pernah sempurna namun kini pudar — bisa cinta, harapan, atau manusia itu sendiri.
  • Repetisi: “Masih bulankah engkau” diulang beberapa kali untuk menegaskan kegelisahan dan kerinduan penyair terhadap sesuatu yang telah berubah.
  • Hiperbola lembut: “pagi gemetar karena marah, melumatkanmu” — sebuah penggambaran berlebihan untuk menunjukkan kekuatan waktu dan perubahan yang tak terhindarkan.
Gaya bahasa ini memperkuat efek emosional puisi, menjadikannya terasa hidup dan mengalir secara musikal.

Puisi “Masih Bulankah Engkau?” karya Sherly Malinton merupakan karya reflektif yang memadukan keindahan alam dan kedalaman batin manusia. Dengan tema tentang perubahan dan kehilangan jati diri, puisi ini menghadirkan pertanyaan eksistensial yang sederhana namun bermakna dalam.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Masih Bulankah Engkau?
Karya: Sherly Malinton

Biodata Sherly Malinton:
  • Sylvia Sherly Maria Catharina Malinton lahir pada tanggal 24 Februari 1963 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.