Nasib Bumi
siapa lebih berarti bagi kita
selain bumi yang tulus memberi
meski kita lukai indahnya saban hari
siapa lebih kasih pada kita
selain bumi yang ikhlas menghidupi
meski kita aniaya sempurnanya tiada henti
siapa amat baik kepada kita
kecuali bumi yang setia melindungi
kendati kita rusak keutuhannya tanpa hati
siapa sangat pengertian terhadap kita
kecuali bumi yang selalu mendampingi
kendati kita ingkari welas asihnya tanpa nurani
tiada yang begitu kuat selain bumi:
tabah menanggung derita perbuatan kita
tiada yang demikian menerima selain bumi:
amat menyayangi kita yang lama menyiksa
tiada yang sebegitu mengabdi kecuali bumi:
ajek menyantuni kita yang selalu menzalimi
tiada yang sedemikian melayani kecuali bumi:
sedia menyejuki kita yang acap mengakali
hai manusia…
tidakkah kita dengar lirih lara bumi?
tidakkah kita tangkap rintih dada bumi?
tidakkah kita serap sengal napas bumi?
mungkin kita telah buta segala
Malang, 2005/2012
Sumber: Arung Diri (2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Nasib Bumi” karya Djoko Saryono mengangkat tema kepedulian terhadap lingkungan dan rasa kemanusiaan terhadap alam yang terluka. Melalui baris-baris yang sederhana namun sarat makna, penyair menegaskan bahwa bumi adalah sumber kehidupan yang setia memberi, sementara manusia justru menjadi penyebab luka dan kehancurannya.
Tema besar ini juga menyiratkan krisis moral dan spiritual manusia modern, yang semakin jauh dari kesadaran ekologis. Bumi yang tulus memberi kehidupan kini justru diperlakukan dengan kekerasan dan ketamakan — dan puisi ini menjadi bentuk teguran moral yang halus namun dalam.
Puisi ini bercerita tentang hubungan antara manusia dan bumi yang timpang dan menyedihkan. Melalui pengulangan kata tanya “siapa lebih berarti...”, “siapa lebih kasih...”, “siapa amat baik...”, penyair menegaskan betapa bumi telah melakukan segalanya untuk manusia, namun balasannya justru berupa penderitaan.
Bumi yang memberi, menghidupi, dan melindungi, kini harus menanggung derita akibat ulah manusia sendiri: pencemaran, perusakan hutan, eksploitasi tambang, dan perubahan iklim.
Bagian akhir puisi — dengan kalimat tanya seperti “tidakkah kita dengar lirih lara bumi?” — menunjukkan jeritan dan kesedihan bumi yang tidak lagi didengar manusia.
Puisi ini adalah potret ketulusan alam dan kebutaan manusia, sebuah ironi ekologis yang memantulkan wajah kemanusiaan yang kehilangan empati terhadap rumahnya sendiri.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kerakusan dan ketidakpedulian manusia terhadap alam. Djoko Saryono menggunakan pendekatan moral dan spiritual untuk menyadarkan pembaca bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal, melainkan ibu yang mengasuh dan mencintai tanpa syarat.
Ketika penyair menulis “bumi yang ikhlas menghidupi / meski kita aniaya sempurnanya tiada henti”, ia menyindir perilaku manusia modern yang terus-menerus mengeksploitasi alam tanpa rasa syukur dan tanpa kesadaran moral.
Sementara itu, pengulangan pada bagian akhir menunjukkan bahwa bumi bukan sekadar objek fisik, melainkan entitas hidup yang mampu merasakan sakit dan kehilangan.
Makna terdalam dari puisi ini adalah ajakan untuk kembali memiliki nurani ekologis — kesadaran bahwa menyakiti bumi sama saja dengan menghancurkan kehidupan sendiri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini melankolis, lirih, dan penuh keprihatinan. Pembaca dapat merasakan kesedihan yang lembut namun menusuk ketika penyair menggambarkan bumi yang sabar dan tabah menghadapi perilaku manusia yang semena-mena. Ritme repetitif dalam tiap bait memperkuat kesan lirih — seperti suara bumi yang berulang kali memanggil manusia agar sadar, tetapi tak juga didengar.
Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi menegangkan dan menyayat, ketika penyair mengajukan pertanyaan retoris:
“Tidakkah kita dengar lirih lara bumi?
Tidakkah kita tangkap rintih dada bumi?”
Nada yang awalnya lembut berubah menjadi seruan moral yang getir, memperlihatkan kegelisahan penyair terhadap dunia yang semakin abai terhadap jeritan alam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat utama puisi ini adalah ajakan untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan manusia dengan bumi. Djoko Saryono ingin menegaskan bahwa bumi bukan milik manusia semata, tetapi mitra kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
Puisi ini mengingatkan pembaca agar:
- Tidak merusak atau mengeksploitasi alam secara berlebihan.
- Menghargai bumi sebagaimana kita menghargai kehidupan sendiri.
- Menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan kecil yang melukai alam akan kembali kepada manusia sendiri.
Melalui gaya tutur yang tenang dan reflektif, penyair seolah berpesan:
“Kalau bumi saja sabar, mengapa manusia tidak bisa belajar dari kesabarannya?”
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji emosional dan spiritual yang menghidupkan sosok bumi sebagai makhluk penuh kasih:
- Imaji visual muncul dari baris “bumi yang ikhlas menghidupi” dan “bumi yang setia melindungi”, yang menghadirkan gambaran bumi sebagai sosok ibu penyayang.
- Imaji auditif terasa pada bagian “lirih lara bumi” dan “rintih dada bumi”, yang membuat pembaca seolah bisa mendengar suara tangisan alam.
- Imaji perasaan (emosional) muncul ketika bumi digambarkan tetap sabar meski terus disakiti, menimbulkan rasa haru dan penyesalan mendalam.
Imaji-imaji ini membangun personifikasi bumi sebagai makhluk hidup yang berjiwa, bukan benda mati — menjadikan pembaca lebih mudah berempati terhadap penderitaan alam.
Majas
Djoko Saryono menggunakan sejumlah majas untuk memperkuat pesan dan emosi dalam puisinya:
- Personifikasi: Bumi digambarkan memiliki sifat manusia — memberi, melindungi, mengasihi, dan merintih. Contoh: “Bumi yang tulus memberi” dan “Tidakkah kita dengar lirih lara bumi?”
- Repetisi: Pengulangan frasa “siapa lebih...” dan “kecuali bumi...” mempertegas peran bumi yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Repetisi ini juga menciptakan efek musikal dan menegaskan ironi antara kasih bumi dan keburukan manusia.
- Apostrof (seruan langsung): Pada bagian “hai manusia…”, penyair langsung berbicara kepada pembaca, menegaskan tegurannya secara emosional.
- Antitesis: Ditemukan dalam kontras antara “bumi yang memberi” dengan “manusia yang menyakiti”, menonjolkan ketimpangan moral antara keduanya.
- Metafora: Bumi dijadikan metafora bagi “ibu” dan “jiwa kehidupan” — sosok yang rela berkorban tanpa pamrih.
Majas-majas ini menjadikan puisi “Nasib Bumi” tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga kuat secara retorika dan nilai moral.
Karya: Djoko Saryono
Biodata Djoko Saryono:
- Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.