Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Negeri Asing (Karya Dami N. Toda)

Puisi “Negeri Asing” karya Dami N. Toda merupakan karya kontemplatif yang mengajak pembaca
Negeri Asing

hanya amsal
bertanyakan hari lalu
hari akan
peta tanah
hendak entah
ke mana

bersua kita
lagi-lagi sedaging
genesis

sudah kubilang
asing bukan punya siapa-siapa

Sumber: Ratapan Laut Sawu (Universitas Sanata Dharma, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Negeri Asing” karya Dami N. Toda adalah salah satu karya yang sarat dengan perenungan filosofis dan eksistensial. Meskipun tampak singkat dan sederhana dalam bentuknya, puisi ini menyimpan kedalaman makna yang menggugah pembaca untuk merenungi arti “keasingan” — baik dalam konteks kehidupan, identitas, maupun makna keberadaan manusia di dunia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keasingan dan pencarian makna hidup. Dami N. Toda menyinggung perasaan “asing” yang dialami manusia terhadap dunia, terhadap sesamanya, bahkan terhadap dirinya sendiri. Melalui diksi-diksi singkat seperti “hanya amsal”, “peta tanah”, dan “hendak entah ke mana”, penyair seolah menggambarkan betapa manusia kerap terombang-ambing di tengah perjalanan hidup yang tidak pasti.

Puisi ini bercerita tentang manusia yang merasa terasing dalam perjalanan waktu dan eksistensinya. Penyair menghadirkan suasana batin seseorang yang mencoba memahami makna masa lalu (hari lalu), masa kini (hari akan), dan masa depan yang tidak menentu (ke mana).

Kalimat “bersua kita lagi-lagi sedaging genesis” menunjukkan pertemuan manusia dengan asal-usulnya — seolah mengingatkan bahwa pada hakikatnya manusia berasal dari satu sumber yang sama, namun ironisnya tetap merasa asing satu sama lain.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah renungan eksistensial tentang hakikat hidup dan identitas manusia. Dami N. Toda menegaskan bahwa rasa “asing” bukan semata-mata perasaan yang datang dari luar diri, melainkan bagian dari pengalaman batin manusia yang sadar akan kefanaan dan keterbatasannya.

Baris “asing bukan punya siapa-siapa” memberi penegasan bahwa keasingan adalah sesuatu yang universal dan tak dapat dimiliki — ia milik semua orang sekaligus bukan milik siapa pun. Dengan kata lain, manusia terlahir dan hidup dalam keasingan yang melekat pada eksistensinya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, kontemplatif, dan misterius. Setiap larik seperti bergema di ruang yang hening, menghadirkan kesan perenungan mendalam. Tidak ada emosi yang meledak-ledak; sebaliknya, penyair memilih nuansa tenang dan reflektif untuk menggambarkan kesunyian batin manusia ketika berhadapan dengan pertanyaan tentang asal dan tujuan hidup.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang tersirat dalam puisi ini adalah kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan spiritual dan eksistensial yang sarat dengan keasingan, dan manusia harus berdamai dengan itu. Dami N. Toda ingin menyampaikan bahwa rasa asing bukan sesuatu yang harus ditolak, melainkan dipahami sebagai bagian dari hakikat keberadaan manusia.

Dalam kehidupan yang terus berubah, manusia perlu menyadari bahwa identitas dan arah hidup sering kali tidak pasti — namun justru di situlah nilai dari pencarian makna sejati.

Imaji

Imaji dalam puisi ini bersifat abstrak dan konseptual, bukan visual konkret. Misalnya:
  • “peta tanah hendak entah ke mana” menimbulkan imaji tentang perjalanan tanpa arah, menggambarkan kebingungan eksistensial manusia.
  • “bersua kita lagi-lagi sedaging genesis” menimbulkan imaji spiritual yang mengacu pada awal mula penciptaan, seolah manusia terus berputar pada siklus asal dan tujuan hidupnya.
Imaji seperti ini memperkuat kesan filosofis dan reflektif dari puisi.

Majas

Puisi ini memanfaatkan beberapa majas yang memperkaya maknanya:
  • Metafora – keseluruhan puisi adalah metafora dari perjalanan hidup dan eksistensi manusia. “Negeri asing” di sini bukan sekadar tempat geografis, melainkan simbol dari kondisi batin manusia yang merasa tidak sepenuhnya “berumah” di dunia.
  • Personifikasi – “peta tanah hendak entah ke mana” seolah-olah tanah memiliki kehendak, memberi nuansa hidup pada unsur alam.
  • Elipsis – penghilangan kata-kata dalam struktur kalimat (“hari akan”, “peta tanah”, “hendak entah ke mana”) memperkuat kesan hampa dan misterius, sesuai dengan tema keasingan.
Puisi “Negeri Asing” karya Dami N. Toda merupakan karya kontemplatif yang mengajak pembaca merenungkan arti hidup, asal-usul, dan rasa keterasingan manusia. Melalui gaya minimalis dan diksi yang padat makna, penyair berhasil menampilkan suasana sunyi yang sarat pertanyaan eksistensial. Dengan tema keasingan, puisi ini mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar “memiliki tempat” di dunia — kita semua hanyalah pengembara yang berusaha memahami arah dan arti keberadaan kita sendiri.

Puisi mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan batin yang abadi, dan keasingan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kemanusiaan itu sendiri.

Dami N. Toda
Puisi: Negeri Asing
Karya: Dami N. Toda

Biodata Dami N. Toda:
  • Dami N. Toda (Dami Ndandu Toda) lahir di Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 20 September 1942.
  • Dami N. Toda meninggal dunia di Leezen, Jerman, pada tanggal 10 November 2006.
© Sepenuhnya. All rights reserved.