Puisi: Pada Saatnya (Karya Handry TM)

Puisi “Pada Saatnya” karya Handry TM bercerita tentang sekelompok sahabat yang akan berpisah setelah lama belajar bersama di sekolah.

Pada Saatnya


pada saatnya nanti kita akan berpisah, kawan
menjemput masing-masing masa depan pilihan
kau akan menjadi dokter sesuai keinginan
aku mengejar harapan menjadi arsitek dambaan
kita tidak bersama-sama selamanya, kawan
karena belajar di kelas ini hanya persinggahan
tujuan yang utama adalah memilih kehidupan
semoga hal itu menjadi kenyataan

tetaplah saling mengingat, kawan
karena persahabatan tak mudah terhapus waktu
engkau bagian terindah dari masa sekolahku
kuharap demikian pula aku terhadapmu

yang seperti ini akan menjadi masa lalu
kuharap kau tetap mengenangnya selalu
memanjat pohon jambu di belakang sekolah
memakannya bersama di dalam kelas
di saat pelajaran sedang berlangsung
dan kita mengikutinya

pada saatnya nanti kita akan menangis sendiri
mengingat kenakalan kita yang luar biasa ini
membiarkan ibu guru menangis karena marah
terhadap kebengalan para siswa yang ia sayangi

akan menebus dengan cara apakah kita,
ketika kelak sukses, bapak-ibu guru sudah
tidak mengajar lagi dan entah ke mana?

2018

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi anak “Pada Saatnya” karya Handry TM merupakan salah satu karya yang menyentuh hati dari buku Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018). Dengan bahasa yang sederhana namun mengandung kedalaman emosi, puisi ini menghadirkan kisah persahabatan, kenangan masa sekolah, dan kesadaran akan perpisahan yang tak terhindarkan.

Melalui puisi ini, pembaca—terutama anak-anak—diajarkan untuk memahami bahwa hidup adalah perjalanan, dan setiap pertemuan suatu saat akan diakhiri oleh perpisahan. Namun, kenangan dan kasih sayanglah yang membuat hubungan itu tetap abadi dalam ingatan.

Tema

Tema utama dalam puisi “Pada Saatnya” adalah persahabatan dan perpisahan yang penuh makna.

Penyair mengangkat kisah sederhana dari dunia anak-anak atau remaja yang mulai menyadari arti kehilangan. Mereka menyadari bahwa kebersamaan di sekolah hanyalah sementara, karena masing-masing akan melanjutkan hidup ke arah dan cita-cita yang berbeda.

Tema ini terasa dekat dengan kehidupan anak-anak, terutama mereka yang berada di masa akhir sekolah. Handry TM dengan lembut menegaskan bahwa perpisahan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan menuju masa depan yang diimpikan.

Puisi ini bercerita tentang sekelompok sahabat yang akan berpisah setelah lama belajar bersama di sekolah.

Sang aku lirik berbicara kepada kawannya dengan nada penuh kehangatan dan kejujuran. Ia mengingatkan bahwa mereka masing-masing punya tujuan: ada yang ingin menjadi dokter, ada yang ingin menjadi arsitek. Namun, meski jalan mereka akan berbeda, kenangan di sekolah akan selalu mereka bawa.

Bagian yang menggambarkan kenangan masa kecil terasa begitu hidup:

“Memanjat pohon jambu di belakang sekolah
memakannya bersama di dalam kelas
di saat pelajaran sedang berlangsung
dan kita mengikutinya.”

Baris-baris ini menghadirkan potongan nostalgia yang manis, menggambarkan masa kecil yang nakal, bebas, namun penuh kebersamaan. Puisi ini juga menyinggung rasa penyesalan yang lembut: rasa ingin menebus kesalahan pada guru-guru yang dulu sering dimarahi karena kenakalan mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi “Pada Saatnya” adalah kesadaran akan arti waktu, perpisahan, dan penghargaan terhadap kenangan.

Penyair ingin mengingatkan bahwa hidup terus berjalan, dan setiap tahap kehidupan memiliki masanya sendiri. Masa sekolah yang penuh tawa dan persahabatan hanyalah salah satu bab yang kelak akan ditutup, namun tidak pernah dilupakan.

Selain itu, puisi ini mengajarkan nilai moral tentang rasa terima kasih dan tanggung jawab. Ketika penyair menulis:

“Akan menebus dengan cara apakah kita,
ketika kelak sukses, bapak-ibu guru sudah
tidak mengajar lagi dan entah ke mana?”

Tersirat kesadaran bahwa kesuksesan yang diraih di masa depan tidak lepas dari jasa guru dan orang-orang yang membimbing. Ada penyesalan yang lembut, ada kerinduan, dan ada doa untuk mereka yang berjasa dalam kehidupan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah haru, melankolis, namun hangat dan penuh kenangan.

Ada perasaan sedih ketika membayangkan perpisahan, tetapi juga kebahagiaan karena memiliki sahabat dan pengalaman yang indah.

Baris-baris seperti “tetaplah saling mengingat, kawan” dan “engkau bagian terindah dari masa sekolahku” memunculkan kehangatan dan nostalgia yang mengalir lembut.

Di sisi lain, bagian akhir yang menyinggung guru menghadirkan suasana reflektif dan penuh penyesalan, menunjukkan bahwa masa kanak-kanak yang ceria ternyata menyimpan pelajaran berharga tentang rasa hormat dan kasih.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat dari puisi “Pada Saatnya” adalah pentingnya menghargai persahabatan, waktu, dan jasa guru sebelum semuanya berlalu. Penyair ingin menyampaikan bahwa:
  • Setiap pertemuan akan berakhir pada waktunya. Karena itu, kita harus menikmati dan menghargai kebersamaan selama masih ada waktu.
  • Persahabatan sejati tidak akan hilang oleh jarak dan waktu. Walaupun kelak berpisah, kenangan dan rasa kasih akan tetap tinggal di hati.
  • Jangan lupakan jasa guru dan masa lalu. Kesuksesan di masa depan adalah buah dari didikan, nasihat, dan bahkan kemarahan tulus para guru di masa sekolah.
Puisi ini mengajak anak-anak untuk mengenang masa indah sekolah dengan penuh rasa syukur dan belajar menghargai hubungan yang telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan kenangan sensorik yang menggugah perasaan pembaca. Contohnya:
  • Imaji visual: “memanjat pohon jambu di belakang sekolah” menggambarkan pemandangan khas masa kecil di lingkungan sekolah.
  • Imaji gerak: “memakannya bersama di dalam kelas” menghadirkan suasana nakal yang akrab dan hidup.
  • Imaji perasaan: “pada saatnya nanti kita akan menangis sendiri” menggugah rasa haru dan kesadaran akan kehilangan.
Imaji-imaji ini memperkuat suasana nostalgia dan membuat pembaca seolah ikut kembali ke masa sekolahnya sendiri.

Majas

Puisi ini juga mengandung beberapa majas (gaya bahasa) yang memperindah dan memperkuat pesan, antara lain:
  • Majas personifikasi: Misalnya pada baris “karena persahabatan tak mudah terhapus waktu,” seolah waktu memiliki kekuatan untuk menghapus kenangan.
  • Majas metafora: “Belajar di kelas ini hanya persinggahan” — menggambarkan sekolah sebagai tempat singgah sementara dalam perjalanan panjang kehidupan.
  • Majas repetisi: Pengulangan kata “kawan” berfungsi menegaskan kedekatan emosional dan kehangatan hubungan antar tokoh dalam puisi.
  • Majas hiperbola: “Kenakalan kita yang luar biasa ini” — memperbesar kenakalan masa kecil untuk menghadirkan efek humor sekaligus nostalgia.
Dengan gaya bahasa yang alami dan lembut, Handry TM berhasil menjadikan puisi ini tidak hanya menyentuh hati anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang pernah melalui masa sekolah yang sama.

Puisi “Pada Saatnya” karya Handry TM merupakan karya yang indah dan sarat makna tentang persahabatan, waktu, dan penghargaan terhadap masa lalu.

Melalui puisi ini, anak-anak diajak merenungkan arti kebersamaan, mengenang masa sekolah dengan rasa syukur, dan memahami bahwa perpisahan adalah bagian alami dari kehidupan.

Namun, di balik rasa haru itu, penyair juga menanamkan nilai-nilai luhur: menghormati guru, menghargai teman, dan tidak melupakan kenangan indah yang telah membentuk jati diri.

Dengan bahasa sederhana, “Pada Saatnya” menjadi jembatan antara dunia anak yang polos dengan kesadaran hidup yang dewasa—sebuah pengingat lembut bahwa setiap pertemuan, betapapun singkatnya, selalu meninggalkan makna yang tak lekang oleh waktu.

Handry TM
Puisi: Pada Saatnya
Karya: Handry TM

Biodata Handry TM:
  • Handry TM lahir pada tanggal 23 September 1963 di Semarang, Jawa Tengah.
  • Handry TM meninggal dunia pada tanggal 24 Februari 2023.
© Sepenuhnya. All rights reserved.