Pohon
Pohon
Kau memberi banyak manfaat untuk makhluk hidup
Kau juga memenuhi kebutuhan makhluk hidup
Meski kau sering disalahkan
Pohon
Kau memberi kami oksigen
Kamu memberi buah imtuk dimakan
Kau mencegah banjir dan longsor
Pohon
Xilem, floem itu ibarat organmu
Tanpamu kami akan kesusahan
Banjir, longsor, dan pemanasan global jika kau tiada
Pohon
Apa yang telah mereka lakukan padamu
Menebang untuk menghasilkan uang
Tanpa mau menggantinya
Pohon
Mengapa mereka menyalahkanmu
Alasan untuk membuat kotor
Alasan untuk sumber nafkah
Pohon
Aku akan menjagamu
Sebagaimana engkau menjagaku
Terima kasih pohon
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Pohon” karya Hanun Dzatirrajwa bercerita tentang peran penting pohon bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Penyair menggambarkan bagaimana pohon menjadi sumber kehidupan — memberikan oksigen, buah, keteduhan, serta mencegah bencana seperti banjir dan longsor. Namun, di balik segala kebaikan yang diberikannya, manusia justru sering menebang dan menyalahkan pohon tanpa rasa tanggung jawab.
Lewat baris-barisnya yang jujur dan lugas, penyair anak ini menyuarakan rasa kasih, syukur, sekaligus keprihatinan terhadap alam. Ia seolah berbicara langsung kepada pohon, mengucapkan terima kasih sambil berjanji akan menjaganya. Puisi ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam pun punya hak untuk dihargai dan dijaga.
Tema
Tema utama dalam puisi “Pohon” adalah cinta lingkungan dan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Puisi ini menyoroti hubungan timbal balik antara manusia dan alam, terutama pohon, yang memberikan banyak manfaat namun sering diperlakukan tidak adil.
Tema ini juga mencerminkan kesadaran ekologis sejak dini — bahwa anak-anak pun bisa memahami peran besar pohon dalam menjaga keseimbangan bumi. Dengan cara yang sederhana, penyair mengajak pembaca untuk tidak hanya menikmati manfaat dari pohon, tetapi juga ikut melindungi dan melestarikannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah pesan moral dan ekologis tentang tanggung jawab manusia terhadap alam.
Pohon dalam puisi ini tidak hanya berfungsi sebagai makhluk hidup biasa, melainkan simbol kehidupan dan keseimbangan bumi.
Ketika manusia menebang tanpa menanam kembali, maka yang rusak bukan hanya alam, tetapi juga kehidupan manusia itu sendiri.
Bait “Tanpamu kami akan kesusahan / Banjir, longsor, dan pemanasan global jika kau tiada” menyiratkan peringatan halus tentang akibat dari keserakahan manusia.
Selain itu, penyair juga ingin menegaskan nilai empati dan rasa terima kasih terhadap alam. Kalimat “Aku akan menjagamu sebagaimana engkau menjagaku” menunjukkan kesadaran moral bahwa manusia seharusnya membalas kebaikan alam dengan cara melestarikannya.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi “Pohon” terasa penuh penghargaan, rasa syukur, dan kepedulian.
Awalnya, puisi ini menggambarkan suasana tenang dan penuh kekaguman terhadap peran pohon yang memberi banyak manfaat. Namun, di bagian tengah, muncul nada keprihatinan dan kritik terhadap manusia yang menebang tanpa mengganti.
Meskipun demikian, suasananya kembali menenangkan di bagian akhir, ketika penyair mengungkapkan tekad dan rasa terima kasih.
Suasana puisi ini bergerak dari kekaguman → keprihatinan → harapan, membentuk alur emosional yang lembut dan menyentuh hati.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan beberapa amanat penting, di antaranya:
- Jangan merusak alam, karena manusia sangat bergantung padanya.
- Hargai dan syukuri setiap manfaat yang diberikan pohon.
- Tanamlah kembali pohon yang ditebang agar alam tetap seimbang.
- Belajarlah mencintai bumi sejak dini, karena menjaga alam berarti menjaga masa depan manusia sendiri.
Dengan cara sederhana, puisi ini menjadi seruan moral bagi generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang peduli lingkungan.
Imaji
Puisi “Pohon” kaya dengan imaji visual dan imaji perasaan yang membuat pembaca dapat membayangkan kehadiran pohon dengan segala perannya.
Beberapa imaji yang tampak antara lain:
- “Kau memberi kami oksigen” → imaji visual dan pernapasan, pembaca dapat membayangkan udara segar hasil dari pepohonan.
- “Kamu memberi buah untuk dimakan” → imaji rasa dan penglihatan, membayangkan buah yang ranum dan menyehatkan.
- “Banjir, longsor, dan pemanasan global jika kau tiada” → imaji bencana, menggambarkan kerusakan akibat hilangnya pohon.
Imaji-imaji ini memperkuat pesan ekologis puisi dan membuat pembaca merasa lebih dekat dengan alam.
Majas
Beberapa majas (gaya bahasa) yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi “Kau memberi banyak manfaat untuk makhluk hidup” → Pohon digambarkan seperti makhluk yang bisa memberi dan menjaga, padahal sebenarnya tidak berkehendak seperti manusia. Majas ini membuat pohon terasa hidup dan berjiwa.
- Metafora “Xilem, floem itu ibarat organmu” → Perbandingan sistem tubuh pohon dengan organ manusia menggambarkan bahwa pohon juga memiliki “kehidupan” dan struktur penting untuk bertahan hidup.
- Repetisi (Pengulangan): Kata “Pohon” yang muncul di awal setiap bait memberi kesan ritmis, memperkuat fokus utama puisi, dan menegaskan rasa hormat penyair terhadap objek puisinya.
- Apostrof (Penyapaan Langsung): Penyair secara langsung berbicara kepada “pohon” seolah ia pendengar yang hidup. Ini memberi kesan kedekatan emosional antara manusia dan alam.
Majas-majas tersebut memperkaya nuansa puisi dan menjadikannya lebih ekspresif serta komunikatif, meski ditulis dengan bahasa anak-anak.
Puisi “Pohon” karya Hanun Dzatirrajwa adalah karya sederhana namun sarat makna tentang kecintaan terhadap alam dan pentingnya menjaga kelestariannya.
Dengan gaya bahasa yang jujur dan penuh empati, penyair mengajak kita untuk mengingat kembali jasa pohon — makhluk yang tanpa pamrih memberi kehidupan bagi manusia dan bumi.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang ekologi, tetapi juga tentang moral, kesadaran, dan rasa terima kasih.
Melalui tema cinta lingkungan, makna tersirat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam, serta imaji visual yang kuat, karya ini menjadi contoh bagaimana sastra anak dapat menanamkan nilai-nilai besar dengan cara yang lembut dan bermakna.
Akhirnya, puisi “Pohon” mengingatkan kita bahwa menjaga satu pohon berarti menjaga satu kehidupan. Dan seperti yang diucapkan sang penyair kecil:
“Aku akan menjagamu, sebagaimana engkau menjagaku.”