Ratapan Laut Sawu
Untuk para korban bencana banjir bandang di Ende, November 1988
Bapa, negeri kami adalah warisan
Yang Kau titip dengan meterai cinta
Maka kami tak pernah 'kan percaya
Kalau bencana ini ganjaran-Mu jua
Yang Kau tetapkan dengan tinta murka
Kota dan desa kami adalah taman
Yang Kau rawat penuh kasih sayang
Maka kami tak pernah 'kan percaya
Kalau murka alam Kau biarkan berkobar
Hancurkan kehidupan bersemi di sana
Kelahiran kami adalah peristiwa
Yang Kau ukir di rahim sejarah
Maka kami tak pernah 'kan percaya
Kalau kematian adalah kekonyolan
Akhiri kehidupan tanpa makna
Hidup adalah selembar nyanyian tua
Bermelodikan janji-janji cinta-Mu baka
Bersyairkan hukum-hukum-Mu bertuah
Maka kami tak pernah 'kan percaya
Kalau bencana membikinnya sia-sia
Kebahagiaan adalah janji-Mu dari kekal
Kekasih dan rezeki adalah kemurahan-Mu jua
Maka kami tak pernah 'kan percaya
Kalau duka kami menyudahkan segala
Kalau rintihan kami berakhir hambar
Bapa, mengapa hidup Kau biarkan sia-sia
Di atas bongkah-bongkah kepongahan alam
Di sela-sela batu kayu tak kenal iba
Di tengah arus banjir bernapaskan murka
Di lautan lumpur pasir berlumur dendam?
Berdosakah kami pada-Mu Bapa?
Bersalahkah kami pada semesta?
Karena langit-Mu sumber embun cinta
Dan awan-Mu mata air hujan rahmat
Kini Kau ubah jadi biang mala petaka
Kami makhluk berbusana khianat
Kami insan fana bersantap mungkar
Kami dituduh tak mencintai alam
Kami didakwa memperkosa lingkungan
Kami pun dihukum berdosa melawan Bapa
Ya Tuhan, Pencipta semesta alam
Kami percaya Kau Maharahman
Kami tak yakin Kau pendendam
Ampunilah kami di ambang sesal
Damaikan kami dengan alam tercinta
A m i n
Ende, November 1988
Sumber: Ratapan Laut Sawu (Universitas Sanata Dharma, 2014)
Analisis Puisi:
Puisi “Ratapan Laut Sawu” karya John Dami Mukese ditulis sebagai ungkapan duka dan doa bagi para korban bencana banjir bandang di Ende, Nusa Tenggara Timur, pada November 1988. Melalui puisi ini, penyair menyuarakan jeritan batin manusia yang berhadapan dengan murka alam, tetapi tetap berpegang pada keyakinan akan kasih dan rahmat Tuhan. Karya ini bukan sekadar ratapan, melainkan juga permenungan spiritual dan ekologis yang mendalam.
Tema
Puisi ini mengangkat tema tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan di tengah bencana. John Dami Mukese mengajak pembaca merenungkan peristiwa alam tidak semata sebagai hukuman ilahi, tetapi sebagai peringatan dan ajakan untuk berdamai dengan alam. Tema ini menyatu antara dimensi teologis (iman dan takdir) serta ekologis (kerusakan alam akibat ulah manusia).
Puisi ini bercerita tentang doa dan keluh kesah manusia kepada Tuhan setelah bencana besar melanda tanah kelahiran mereka. Aku lirik memohon penjelasan atas derita yang menimpa: mengapa negeri yang dianggap penuh kasih Tuhan tiba-tiba hancur oleh murka alam?
Melalui baris-baris yang dimulai dengan kata “Maka kami tak pernah ’kan percaya,” penyair menegaskan keraguan dan pergulatan batin antara iman dan kenyataan. Ia tidak sepenuhnya menolak kehendak Tuhan, tetapi juga mempertanyakan — apakah penderitaan manusia ini benar-benar berasal dari murka Tuhan atau akibat dosa manusia terhadap alam.
Puisi ini ditutup dengan doa yang tulus: permohonan ampun dan perdamaian dengan alam. Di sinilah tampak pergulatan spiritual penyair — dari amarah dan penyangkalan, menuju penerimaan dan pengharapan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah ajakan untuk introspeksi atas hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. John Dami Mukese menampilkan manusia yang semula merasa tidak bersalah terhadap bencana, namun akhirnya menyadari bahwa kerusakan alam bisa jadi akibat keserakahan dan kelalaian manusia sendiri.
Selain itu, makna tersirat lainnya adalah pengakuan iman yang tulus di tengah penderitaan. Penyair menolak pandangan bahwa Tuhan kejam atau pendendam. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa Tuhan tetap Maharahman — penuh kasih dan ampun. Dengan begitu, puisi ini juga menjadi bentuk doa universal yang mengajarkan keteguhan iman meski didera bencana.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini bernuansa duka, reflektif, dan religius. Ada getaran kesedihan yang kuat dalam setiap bait, terutama saat penyair menyebut “bongkah-bongkah kepongahan alam” dan “arus banjir bernapaskan murka.” Gambar-gambar itu menghadirkan suasana muram dan menegangkan, seolah pembaca turut menyaksikan kehancuran akibat bencana.
Namun, seiring berjalannya bait, suasana itu berubah menjadi lebih pasrah dan spiritual. Doa “Ya Tuhan, Pencipta semesta alam...” menandai perubahan nada — dari ratapan menuju permohonan ampun dan perdamaian. Ini menunjukkan bahwa kesedihan yang mendalam dapat bermetamorfosis menjadi harapan dan keyakinan baru.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini adalah bahwa manusia harus menjaga keseimbangan dengan alam dan tetap berpegang pada iman di tengah bencana. John Dami Mukese menegur secara halus bahwa bencana mungkin bukan murka Tuhan semata, melainkan konsekuensi dari perilaku manusia yang merusak bumi.
Penyair juga mengingatkan agar jangan cepat menuduh Tuhan pendendam. Tuhan, dalam pandangan penyair, adalah kasih yang kekal. Bencana seharusnya menjadi panggilan untuk bertobat dan memperbaiki hubungan dengan alam. Pada akhirnya, manusia diminta untuk memohon ampun dan kembali berdamai dengan ciptaan Tuhan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji alam dan religius yang kuat dan menyentuh:
- “Di atas bongkah-bongkah kepongahan alam” – menghadirkan imaji kehancuran bumi, batu dan lumpur yang menggambarkan kedahsyatan banjir bandang.
- “Di tengah arus banjir bernapaskan murka” – menciptakan imaji gerak dan emosi; banjir dipersonifikasikan seolah hidup dan memiliki amarah.
- “Di lautan lumpur pasir berlumur dendam” – menghadirkan gambaran tragis bencana yang seakan menyimpan kemarahan alam terhadap manusia.
- “Langit-Mu sumber embun cinta... kini Kau ubah jadi biang mala petaka” – memperkuat kontras antara kasih Tuhan dan kehancuran alam.
Imaji dalam puisi ini sangat visual, membuat pembaca dapat membayangkan secara jelas kedahsyatan bencana dan pergulatan batin umat manusia.
Majas
John Dami Mukese menggunakan berbagai majas untuk memperdalam pesan spiritual dan emosional puisi:
Personifikasi
- “Di tengah arus banjir bernapaskan murka” – banjir digambarkan seolah memiliki napas dan emosi.
- “Langit-Mu sumber embun cinta... kini Kau ubah jadi biang mala petaka” – langit diperlakukan seperti makhluk hidup yang bisa berubah sifat.
Metafora
- “Hidup adalah selembar nyanyian tua” – menggambarkan hidup sebagai lagu lama yang penuh janji dan hukum Tuhan.
- “Rahim sejarah” – melambangkan asal-usul kehidupan manusia dalam perjalanan waktu.
Repetisi
- Frasa “Maka kami tak pernah ’kan percaya” diulang beberapa kali untuk menegaskan penolakan terhadap pandangan bahwa Tuhan kejam. Pengulangan ini juga menciptakan ritme doa dan ratapan.
Apostrof (penyapaan langsung)
- “Bapa,” dan “Ya Tuhan,” menunjukkan percakapan langsung dengan Tuhan, menambah kedalaman emosional dan spiritual puisi.
Antitesis
- “Embun cinta” berlawanan dengan “biang mala petaka,” menciptakan ketegangan antara kasih Tuhan dan penderitaan manusia.
Dengan penggunaan majas-majas ini, puisi menjadi hidup dan menyentuh, bukan hanya secara intelektual tetapi juga emosional dan rohani.
Puisi “Ratapan Laut Sawu” karya John Dami Mukese adalah doa panjang yang lahir dari kedukaan, namun juga menjadi refleksi mendalam tentang iman dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Melalui tema hubungan manusia, Tuhan, dan bencana, penyair menghadirkan pergulatan batin antara keyakinan dan kenyataan pahit. Di satu sisi, ia meratap atas kehancuran dan penderitaan; di sisi lain, ia tetap berpegang pada kasih Tuhan yang abadi. Makna tersiratnya menegaskan bahwa bencana bukan sekadar murka Tuhan, tetapi juga peringatan agar manusia berhenti memperkosa alam dan hidup lebih selaras dengan ciptaan. Imaji alam yang kuat dan majas personifikasi memperkaya suasana religius dan duka dalam puisi.
Puisi ini menjadi puisi doa sekaligus ekologi, menyerukan dua hal mendasar: iman kepada Tuhan yang penuh kasih, dan tanggung jawab moral manusia untuk menjaga bumi — warisan yang dititipkan dengan meterai cinta.
Karya: John Dami Mukese
Biodata John Dami Mukese:
- John Dami Mukese lahir pada tanggal 24 Maret 1950 di Menggol, Benteng Jawa, Manggarai Timur, Flores, NTT.
- John Dami Mukese meninggal dunia pada pukul 02.15 WITA tanggal 26 Oktober 2017 di RSUD Ende.