Puisi: Setelah Angin Senja Berhembus (Karya Ngurah Parsua)

Puisi “Setelah Angin Senja Berhembus” karya Ngurah Parsua bercerita tentang kepergian seseorang setelah melalui masa-masa perjuangan dan ...
Setelah Angin Senja Berhembus
Buat almarhum Rastha Sindhu

setelah angin senja berhembus
berderai angin musim dukamu lampus
topan dan badai tidur di tangan berani
baju coklat pena terlena sunyi

blous segala pakaian makam bumi

tidur menyendiri, dibebaskan sepi
di dalam ruang waktu tak terbagi

di sinikah tempat tentram abadinya pikiran
lelap senyap tak terusik bayangan
mati tidur abadi dibebaskan hari
rindu dimamah waktu
sedih duka angin berlalu

setelah angin senja berhembus
padang-padang gembala tandus
dimakamkan di atas bayangan wujudmu
dari gema sekapan rumah fanamu
tidurlah hatimu gelisah
menghadap ke ruang waktu akhir sempurna

Analisis Puisi:

Puisi “Setelah Angin Senja Berhembus” karya Ngurah Parsua merupakan karya yang sarat dengan perenungan tentang kematian, keabadian, dan keheningan setelah perjalanan panjang kehidupan. Dengan bahasa simbolik yang lembut namun dalam, penyair menulis semacam elegi, yaitu puisi yang ditujukan bagi seseorang yang telah pergi—dalam hal ini almarhum Rastha Sindhu. Puisi ini bukan sekadar ratapan, tetapi juga doa dan penghormatan, sebuah cara untuk memahami bahwa kematian bukan akhir, melainkan bentuk kebebasan dari waktu dan duka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian sebagai jalan menuju keabadian dan ketenangan abadi. Ngurah Parsua memandang kematian dengan nada yang tenang dan penuh penghormatan. Tidak ada ketakutan, hanya penerimaan yang bijak atas siklus hidup yang berakhir dalam kedamaian.

Puisi ini bercerita tentang kepergian seseorang setelah melalui masa-masa perjuangan dan penderitaan hidup, digambarkan dengan metafora “angin senja” — lambang dari akhir perjalanan dan peralihan menuju ketenangan.
Baris pembuka,

“setelah angin senja berhembus
berderai angin musim dukamu lampus,”

mengisyaratkan bahwa duka dan kesedihan telah berakhir bersama datangnya senja — simbol waktu menuju peristirahatan.

Penyair kemudian melanjutkan dengan gambaran tentang ketenangan pasca-kepergian, seperti dalam baris:

“tidur menyendiri, dibebaskan sepi
di dalam ruang waktu tak terbagi.”

Di sini kematian dilihat bukan sebagai kehilangan, melainkan kebebasan dari hiruk pikuk dunia dan waktu yang fana.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah penerimaan terhadap kefanaan manusia dan pemahaman bahwa kematian adalah bagian alami dari perjalanan menuju keabadian. Ngurah Parsua seolah menuturkan bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan, tetapi pintu menuju keheningan abadi, tempat segala duka, rindu, dan waktu berhenti.
Baris seperti:

“mati tidur abadi dibebaskan hari,
rindu dimamah waktu, sedih duka angin berlalu,”

menegaskan pandangan spiritual bahwa segala rasa dan derita manusia akan larut bersama waktu, menyisakan ketenangan dan kebebasan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sunyi, khusyuk, dan melankolis, namun tidak gelap atau menakutkan. Ada keindahan dalam kesedihan yang hening—seperti doa yang diucapkan perlahan di senja hari. Penyair menghadirkan suasana duka yang tidak meledak-ledak, melainkan menenangkan, penuh keikhlasan dan kontemplasi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang tersirat dalam puisi ini adalah ajakan untuk menerima kematian dengan lapang hati dan memahami bahwa hidup dan mati adalah bagian dari satu kesatuan yang utuh. Penyair juga menyampaikan bahwa dalam kematian terdapat kebebasan dari segala bentuk penderitaan, dan bahwa kenangan tentang yang telah pergi seharusnya dipeluk dengan tenang, bukan ditangisi tanpa henti.

Selain itu, puisi ini juga mengandung pesan spiritual: bahwa jiwa manusia akan menemukan ketentramannya ketika ia telah lepas dari ikatan waktu dan keduniawian.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji alam dan spiritual yang memperkuat suasana elegisnya:
  • Imaji alam: “angin senja,” “topan dan badai tidur,” dan “padang-padang gembala tandus” menciptakan gambaran pergantian waktu dari kehidupan menuju keheningan.
  • Imaji spiritual: “ruang waktu tak terbagi” dan “tidurlah hatimu gelisah menghadap ke ruang waktu akhir sempurna” menggambarkan peralihan jiwa menuju alam abadi.
  • Imaji perasaan: “rindu dimamah waktu, sedih duka angin berlalu” menyiratkan pelepasan emosional yang mendalam dan ikhlas.

Majas

Ngurah Parsua menggunakan majas yang memperkaya simbolisme puisinya:
  • Metafora: “setelah angin senja berhembus” menggambarkan datangnya kematian sebagai hembusan lembut yang menandai akhir perjalanan hidup.
  • Personifikasi: “topan dan badai tidur di tangan berani” memberi sifat manusiawi pada unsur alam, menandakan berakhirnya segala perjuangan.
  • Simbolisme: “baju coklat pena terlena sunyi” bisa diartikan sebagai lambang tubuh manusia yang telah berhenti bekerja, sementara “makam bumi” menjadi simbol penyatuan kembali dengan asalnya.
  • Repetisi: Pengulangan “setelah angin senja berhembus” di awal dan akhir puisi memberikan efek musikal dan makna siklus — kehidupan yang berakhir untuk kembali ke asal.
Puisi “Setelah Angin Senja Berhembus” karya Ngurah Parsua adalah sebuah elegi penuh kelembutan, ditulis sebagai penghormatan kepada sosok yang telah berpulang, almarhum Rastha Sindhu. Dengan bahasa simbolis dan nuansa spiritual yang kuat, penyair menggambarkan kematian bukan sebagai perpisahan, tetapi sebagai perjalanan menuju ketenangan abadi.

Melalui perpaduan antara alam dan jiwa, Ngurah Parsua mengajak pembaca untuk memandang kepergian dengan rasa damai dan penuh doa, karena setelah angin senja berhembus, yang tersisa hanyalah keheningan yang sempurna, tempat jiwa beristirahat dalam kedamaian semesta.

Ngurah Parsua
Puisi: Setelah Angin Senja Berhembus
Karya: Ngurah Parsua

Biodata Ngurah Parsua:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
© Sepenuhnya. All rights reserved.