Tengah Malam
Malam kelam
senyap
alam sepi, kosong
... jauh terdengar menyayup suara:
sorak-sorai nyanyian tentara,
deru-deram truck di jalan raya,
radio umum, lagu penghabisan,
degam-degam pabrik es, dan
pekikan kereta-api malam hari,
ini semua mengurai sunyi,
memecahkan sepi!
... dari dalam hatiku menggema bunyi:
— Revolusi! Revolusi! Revolusi! —
ini pena masih menari !!!
1947
Analisis Puisi:
Puisi “Tengah Malam” karya Hartojo Andangdjaja adalah salah satu karya yang menggambarkan semangat zaman revolusi Indonesia. Dalam kesederhanaan diksi dan suasana yang hening, penyair menanamkan getaran jiwa seorang intelektual yang hidup di masa perjuangan, di mana malam dan sunyi menjadi ruang refleksi bagi semangat revolusi yang tak pernah padam.
Tema
Tema utama puisi Tengah Malam adalah semangat perjuangan dan kesadaran revolusioner di tengah kesunyian batin. Hartojo Andangdjaja mengangkat suasana malam yang tampak tenang dan senyap, namun di baliknya tersimpan semangat juang yang bergemuruh di hati sang penyair. Tema ini juga menyinggung perjuangan mental dan ideologis — bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan pergulatan batin antara kesunyian dan suara revolusi yang terus menggema.
Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh liris yang berada di tengah malam, menyaksikan keheningan alam dan mendengarkan berbagai suara kehidupan kota: nyanyian tentara, deru truk, lagu dari radio, suara pabrik, dan pekikan kereta api. Semua suara itu berpadu menjadi simfoni kehidupan yang membangkitkan kesadaran dalam dirinya. Di tengah kesunyian itu, hatinya menggema satu kata yang berulang: “Revolusi!”.
Bagian akhir puisi yang berbunyi “ini pena masih menari!!!” menunjukkan bahwa penyair masih terus berjuang, bukan dengan senjata, melainkan dengan pena — simbol dari perlawanan intelektual, kreativitas, dan komitmen terhadap perubahan sosial.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa revolusi tidak selalu terjadi di medan perang, melainkan juga di dalam diri manusia yang sadar akan tanggung jawab sejarah dan moralnya. Penyair menunjukkan bahwa perjuangan bisa lahir dari ruang sunyi, dari kesadaran pribadi yang tak berhenti menulis dan berpikir demi kemajuan bangsa.
Selain itu, ada makna spiritual yang tersembunyi di balik kata “malam”: waktu untuk merenung, mengevaluasi, dan meneguhkan diri. Meski dunia tampak diam, hati manusia bisa bergolak penuh semangat. Hartojo ingin menyampaikan bahwa bahkan di tengah kegelapan dan kesepian, api perjuangan tak boleh padam.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini berlapis: dimulai dari kesunyian dan berakhir dengan ledakan semangat. Pada bait-bait awal, suasananya tenang, gelap, dan hening — digambarkan dengan kata-kata seperti “kelam”, “senyap”, “kosong”. Namun suasana itu perlahan berubah menjadi dinamis dan penuh energi, ketika penyair mendengar suara-suara kehidupan yang memecah kesunyian malam. Klimaksnya terjadi saat suara “Revolusi!” menggema dari dalam hati penyair, menandai ledakan semangat dan tekad yang kuat.
Perubahan suasana ini mencerminkan konflik batin antara diam dan bergerak, antara sepi dan semangat, yang menjadi ciri khas puisi-puisi bertema perjuangan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat utama puisi ini adalah bahwa semangat revolusi tidak boleh mati, bahkan ketika dunia tampak tenang dan sunyi. Setiap orang harus terus berjuang dengan caranya masing-masing — entah dengan senjata, tenaga, atau pena.
Hartojo Andangdjaja seolah ingin menegaskan bahwa perjuangan intelektual sama pentingnya dengan perjuangan fisik. “Pena masih menari” adalah simbol bahwa selama masih ada yang menulis, berpikir, dan menyuarakan kebenaran, revolusi masih hidup.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kesunyian bukan alasan untuk berhenti berjuang. Justru dalam keheningan malam, seseorang bisa menemukan kembali semangat dan makna perjuangan yang sesungguhnya.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji pendengaran (auditif). Hampir seluruh baitnya membangun suasana lewat suara:
- “... jauh terdengar menyayup suara: sorak-sorai nyanyian tentara”
- “deru-deram truck di jalan raya”
- “radio umum, lagu penghabisan”
- “degam-degam pabrik es”
- “pekikan kereta-api malam hari”
Semua bunyi itu seolah membentuk orkestrasi malam yang menggambarkan kehidupan yang terus bergerak di tengah diamnya alam. Imaji suara tersebut kemudian dikontraskan dengan suara batin penyair: “— Revolusi! Revolusi! Revolusi! —”, yang memperkuat kesan bahwa suara hati manusia bisa lebih nyaring dari bising dunia.
Selain imaji pendengaran, puisi ini juga menghadirkan imaji penglihatan (visual) melalui kata “malam kelam” dan “alam sepi, kosong”. Dua frasa ini menghadirkan latar malam yang suram namun penuh makna introspektif.
Majas
Beberapa majas penting yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi – tampak dalam baris “ini pena masih menari!!!” yang menggambarkan pena seolah hidup dan menari. Ini menunjukkan semangat penulis yang terus berkarya.
- Repetisi – pada kata “Revolusi! Revolusi! Revolusi!” digunakan untuk menegaskan semangat dan gema batin yang tak padam.
- Onomatope – seperti “deru-deram truck”, “degam-degam pabrik es”, “pekikan kereta-api”, yang menghadirkan efek bunyi nyata dan menambah kekuatan imaji auditif.
- Metafora – pena menari merupakan metafora bagi perjuangan melalui tulisan atau pemikiran.
- Antitesis – antara “sunyi” dan “suara kehidupan”, antara “malam kelam” dan “gema revolusi”, menunjukkan kontras antara diam dan gerak, antara luar yang tenang dan dalam yang bergejolak.
Puisi "Tengah Malam" karya Hartojo Andangdjaja menggambarkan pertemuan antara kesunyian malam dan gejolak batin seorang pejuang intelektual. Melalui simbol-simbol suara dan pena, penyair menegaskan bahwa revolusi bukan hanya milik mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga milik mereka yang terus menulis, berpikir, dan menghidupkan semangat bangsa.
Tema perjuangan, imaji suara yang kuat, dan majas yang hidup membuat puisi ini tidak hanya menjadi refleksi sejarah, tetapi juga pesan universal tentang pentingnya menjaga semangat perubahan di setiap zaman.
Dalam keheningan malam, ketika dunia tertidur, hati penyair masih bergema:
“Revolusi! Revolusi! Revolusi!” — dan penanya masih menari.
Biodata Hartojo Andangdjaja:
- Hartojo Andangdjaja (Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya) lahir pada tanggal 4 Juli 1930 di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun) di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.