Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Ujarnya Padaku (Karya Fitri Yani)

Puisi “Ujarnya Padaku” karya Fitri Yani bercerita tentang seseorang yang berusaha melangkah tanpa kehadiran orang yang dulu pernah bersamanya.
Ujarnya Padaku

sekuat tenaga melangkah tanpa kamu
ternyata membuat bunga-bunga
dalam tubuhku subur kembali
benih-benih bermukim
membawa musim baru

kita memang melangkah sendiri-sendiri
menapaki jalan-jalan yang juga sendiri
merawat tubuh dan kecemasan-kecemasan
yang muskil dihindari.

Mei, 2012

Sumber: Lampung Post (26 Agustus 2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Ujarnya Padaku” karya Fitri Yani adalah karya yang ringkas namun padat makna. Dengan bahasa yang lembut dan reflektif, penyair menuturkan perjalanan batin seseorang setelah berpisah dari sosok yang pernah menjadi bagian penting hidupnya. Melalui diksi yang sederhana namun simbolik, puisi ini menyoroti tema tentang keutuhan diri, kebangkitan, dan penerimaan setelah kehilangan.

Tema

Tema utama puisi “Ujarnya Padaku” adalah kemandirian emosional dan pemulihan diri setelah perpisahan. Puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang menemukan kembali kehidupannya setelah berjarak dari orang yang dahulu begitu berarti. Perpisahan tidak digambarkan sebagai kehancuran, melainkan sebagai momentum untuk bertumbuh, sebagaimana “bunga-bunga dalam tubuhku subur kembali”.

Di balik kesederhanaannya, Fitri Yani menyoroti tema penyembuhan batin dan keteguhan perempuan (atau manusia) yang belajar berjalan sendiri setelah melalui luka.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berusaha melangkah tanpa kehadiran orang yang dulu pernah bersamanya. Meski awalnya terasa berat (“sekuat tenaga melangkah tanpa kamu”), pengalaman itu justru membawa kehidupan baru. Ia merasa bahwa setelah berpisah, justru tumbuh sesuatu yang segar — diibaratkan dengan “bunga-bunga dalam tubuhku subur kembali”.

Lalu, pada bagian akhir, penyair menyadari kenyataan bahwa setiap manusia pada akhirnya harus melangkah sendiri-sendiri. Masing-masing menempuh jalan hidupnya, memelihara tubuh dan mengelola kecemasan yang tak mungkin dihindari.

Dengan kata lain, puisi ini menggambarkan perjalanan menuju kedewasaan emosional, di mana seseorang belajar berdamai dengan diri sendiri dan menerima bahwa kesendirian adalah bagian dari kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi “Ujarnya Padaku” adalah kesadaran bahwa kehilangan tidak selalu berarti kehancuran, melainkan kesempatan untuk tumbuh kembali.

Fitri Yani menghadirkan gagasan bahwa manusia dapat menemukan makna baru setelah melepaskan sesuatu yang dicintainya. “Bunga-bunga dalam tubuhku subur kembali” menjadi simbol dari kelahiran ulang — semacam penyembuhan batin yang terjadi setelah kesedihan.

Selain itu, baris “kita memang melangkah sendiri-sendiri” menyiratkan penerimaan terhadap takdir individualitas manusia. Bahwa kebersamaan hanyalah sementara, sementara kehidupan sejatinya adalah perjalanan soliter yang harus dijalani dengan kesadaran dan keteguhan hati.

Makna lain yang bisa ditarik adalah refleksi tentang cinta yang matang, di mana cinta bukan lagi keterikatan atau ketergantungan, melainkan pengertian dan keikhlasan dalam melepaskan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini tenang, lembut, dan penuh kelegaan. Tidak ada nada kemarahan atau kesedihan yang berlebihan; justru terasa keikhlasan dan keteduhan hati.

Meskipun diawali dengan perjuangan (“sekuat tenaga melangkah tanpa kamu”), suasana puisi berangsur berubah menjadi optimistis dan damai, karena suburnya “bunga-bunga dalam tubuh” menandakan kebangkitan batin.

Nuansa puisi ini bisa disebut kontemplatif, yakni suasana refleksi diri yang tenang setelah badai perasaan mereda.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat dari puisi ini adalah belajarlah melangkah sendiri dengan hati yang lapang, karena dari keikhlasan itu tumbuh kehidupan baru.

Fitri Yani menyampaikan pesan bahwa kemandirian dan penerimaan adalah bentuk cinta tertinggi — baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Puisi ini mengajarkan bahwa setiap orang harus mampu merawat diri dan mengelola kecemasan, sebab hidup bukan tentang bersama selamanya, melainkan tentang berdamai dengan kesendirian tanpa kehilangan makna hidup.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang sederhana namun kuat secara simbolik. Beberapa imaji yang menonjol antara lain:
  • “bunga-bunga dalam tubuhku subur kembali” → Imaji visual yang menggambarkan kehidupan baru, simbol dari penyembuhan batin dan kebangkitan.
  • “benih-benih bermukim membawa musim baru” → Imaji alam yang memberi kesan regenerasi dan harapan.
Kedua imaji tersebut memperkuat suasana positif dan optimistis dalam puisi. Alam — dengan bunga, benih, dan musim — menjadi metafora tubuh dan jiwa manusia yang terus memperbarui diri meski pernah terluka.

Majas

Fitri Yani menggunakan majas dengan halus dan ekonomis, namun maknanya dalam. Beberapa majas yang tampak antara lain:
  • Metafora: “bunga-bunga dalam tubuhku subur kembali” — bunga menjadi metafora untuk semangat hidup, cinta, atau kebahagiaan yang tumbuh setelah kehilangan.
  • Personifikasi: “benih-benih bermukim membawa musim baru” — benih seolah hidup dan memiliki kehendak untuk membawa perubahan.
  • Hiperbola lembut: “sekuat tenaga melangkah tanpa kamu” — menggambarkan kesungguhan dan beratnya usaha melepaskan seseorang yang dicintai.
Penggunaan majas yang minimalis justru membuat puisi ini terasa jujur dan tulus. Fitri Yani tidak bermain dengan kata-kata rumit; ia memilih kesederhanaan untuk menyalurkan kedalaman perasaan.

Puisi “Ujarnya Padaku” karya Fitri Yani merupakan potret puitik tentang kemandirian, penyembuhan, dan penerimaan. Melalui baris-baris yang singkat, penyair menggambarkan transformasi batin seorang individu yang berjuang melepaskan, lalu menemukan kehidupan baru dalam dirinya sendiri. Puisi ini menegaskan: setiap perpisahan bukan akhir, melainkan awal dari musim baru dalam kehidupan.

Fitri Yani
Puisi: Ujarnya Padaku
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.