Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor (Karya Harijadi S. Hartowardojo)

Puisi "Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor" karya Harijadi S. Hartowardojo menghadirkan potret pedih kehidupan manusia dalam lanskap alam gersang ...
Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor

Di dalam
Bukit-bukit karang membujur gundul
rumput-rumput kering kuning
berkarat

Ternak-ternak kurus menulang
Dikunyah angin kering kemarau
terkapai di padang karat

Aku terayun di punggung
Kuda beban, tiada pelana
Menyeret kaki tiada terompah besi
Patung terangguk di kuda permainan adik!

Turunlah!
hela kuda
ambil jalan pintas
botol air kita lah kering pula

Jalan turun licin berdebu
buat sepatu
Tapi kaki terlampau halus
untuk bertemu runcing karang
Batang tempat berpegang tiada
hanya lantana
hanya lantana kehabisan daun

Di dalam
Bukit-bukit membujur gundul
rumput-rumput kering kuning
berkarat
menjauh dalam wilayah 360
Di selatan, ombak bertemu pantai di lautan Hindia
Kelaparan menggantung di awang terang

Tuhan,
tubuh terkapai disalib hidup
mengucurkan darah dalam hatiku
mata mengucur bintang jatuh
Tuhan,
yang berangkat pergi meninggalkan
yang tinggi terbawa serta
Ketulusan pemberian
diterima segan-seganan

Sumber: Luka Bayang (1964)

Analisis Puisi:

Puisi "Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor" karya Harijadi S. Hartowardojo adalah potret puitis tentang penderitaan manusia dalam lanskap alam keras, khususnya gambaran realitas Pulau Timor. Puisi ini tidak sekadar menyajikan panorama alam, melainkan juga menjadi suara hati tentang kelaparan, kehausan, serta keterasingan manusia yang bergulat dengan kehidupan penuh keterbatasan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penderitaan hidup dalam keterbatasan alam dan kondisi sosial Pulau Timor. Penyair menggambarkan alam gersang, kelaparan, dan rasa pasrah manusia di tengah hidup yang penuh cobaan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang menyaksikan kerasnya alam Pulau Timor, dengan bukit karang gundul, rumput kering, ternak kurus, dan manusia yang kehausan. Penyair melukiskan pengalaman personal sekaligus universal tentang penderitaan manusia, seolah tubuh yang terkapar adalah simbol kehidupan yang "disalib" oleh nasib.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik sosial sekaligus renungan spiritual. Keterbatasan hidup, kelaparan, dan kerasnya alam bukan hanya gambaran fisik, melainkan juga simbol penderitaan manusia yang sering kali tidak dihiraukan. Ada doa dan keluh kesah kepada Tuhan, menandakan bahwa penderitaan ini menuntut jawaban transendental. Puisi ini ingin menyiratkan bahwa manusia hidup dalam ketidakadilan, di mana pemberian hidup diterima setengah hati, tanpa sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini adalah suram, getir, sekaligus reflektif. Ada kegetiran melihat realitas alam yang gersang, tubuh yang lelah, dan kelaparan yang membayangi. Namun, suasana tersebut juga membawa perenungan religius, saat sang aku liris mengarahkan doa dan kegelisahannya kepada Tuhan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat puisi ini adalah pentingnya kesadaran atas penderitaan manusia di wilayah terpencil, sekaligus ajakan untuk tidak menutup mata terhadap realitas sosial yang keras. Penyair ingin menunjukkan bahwa penderitaan bukan hanya soal fisik, tetapi juga batin, dan hanya dengan kepedulian serta imanlah manusia bisa bertahan.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat dan tajam, antara lain:
  • Imaji visual: “bukit-bukit karang membujur gundul, rumput-rumput kering kuning berkarat” menampilkan lanskap alam yang gersang.
  • Imaji perasaan: “tubuh terkapai disalib hidup” menghadirkan rasa sakit dan keputusasaan.
  • Imaji pendengaran: “dikunyah angin kering kemarau” menghadirkan bunyi alam yang keras dan menyayat.
  • Imaji religius: “mata mengucur bintang jatuh” menimbulkan gambaran spiritual yang penuh kepasrahan.

Majas

Puisi ini menggunakan berbagai majas, antara lain:
  • Metafora: “tubuh terkapai disalib hidup” melambangkan penderitaan berat manusia dalam kehidupan.
  • Personifikasi: “dikunyah angin kering kemarau” memberi sifat manusia pada angin yang seakan menjadi pemangsa.
  • Simbolisme: “bintang jatuh” menjadi lambang harapan yang pupus.
Puisi "Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor" karya Harijadi S. Hartowardojo menghadirkan potret pedih kehidupan manusia dalam lanskap alam gersang Pulau Timor. Dengan tema penderitaan sosial dan spiritual, puisi ini bercerita tentang kerasnya hidup, kelaparan, dan keterasingan yang dialami manusia. Makna tersiratnya adalah kritik sosial sekaligus doa penuh kepasrahan pada Tuhan. Imaji yang kuat serta majas yang menyayat membuat puisi ini sarat makna. Amanat yang dapat ditarik adalah perlunya kesadaran, kepedulian, dan iman untuk menghadapi derita hidup yang begitu keras.

Harijadi S. Hartowardojo
Puisi: Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor
Karya: Harijadi S. Hartowardojo

Biodata Harijadi S. Hartowardojo:
  • Harijadi S. Hartowardojo (nama lengkap: Harjadi Sulaiman Hartowardojo / EyD: Hariyadi Sulaiman Hartowardoyo) lahir pada tanggal 18 Maret 1930 di Desa Ngankruk Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia.
  • Harijadi S. Hartowardojo meninggal dunia pada tanggal 9 April 1984 di Jakarta, Indonesia (dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia).
  • Harijadi S. Hartowardojo adalah salah satu Sastrawan Angkatan 1950-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.