Sumber: Luka Bayang (1964)
Analisis Puisi:
Puisi "Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor" karya Harijadi S. Hartowardojo adalah potret puitis tentang penderitaan manusia dalam lanskap alam keras, khususnya gambaran realitas Pulau Timor. Puisi ini tidak sekadar menyajikan panorama alam, melainkan juga menjadi suara hati tentang kelaparan, kehausan, serta keterasingan manusia yang bergulat dengan kehidupan penuh keterbatasan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penderitaan hidup dalam keterbatasan alam dan kondisi sosial Pulau Timor. Penyair menggambarkan alam gersang, kelaparan, dan rasa pasrah manusia di tengah hidup yang penuh cobaan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang menyaksikan kerasnya alam Pulau Timor, dengan bukit karang gundul, rumput kering, ternak kurus, dan manusia yang kehausan. Penyair melukiskan pengalaman personal sekaligus universal tentang penderitaan manusia, seolah tubuh yang terkapar adalah simbol kehidupan yang "disalib" oleh nasib.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik sosial sekaligus renungan spiritual. Keterbatasan hidup, kelaparan, dan kerasnya alam bukan hanya gambaran fisik, melainkan juga simbol penderitaan manusia yang sering kali tidak dihiraukan. Ada doa dan keluh kesah kepada Tuhan, menandakan bahwa penderitaan ini menuntut jawaban transendental. Puisi ini ingin menyiratkan bahwa manusia hidup dalam ketidakadilan, di mana pemberian hidup diterima setengah hati, tanpa sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini adalah suram, getir, sekaligus reflektif. Ada kegetiran melihat realitas alam yang gersang, tubuh yang lelah, dan kelaparan yang membayangi. Namun, suasana tersebut juga membawa perenungan religius, saat sang aku liris mengarahkan doa dan kegelisahannya kepada Tuhan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini adalah pentingnya kesadaran atas penderitaan manusia di wilayah terpencil, sekaligus ajakan untuk tidak menutup mata terhadap realitas sosial yang keras. Penyair ingin menunjukkan bahwa penderitaan bukan hanya soal fisik, tetapi juga batin, dan hanya dengan kepedulian serta imanlah manusia bisa bertahan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat dan tajam, antara lain:
- Imaji visual: “bukit-bukit karang membujur gundul, rumput-rumput kering kuning berkarat” menampilkan lanskap alam yang gersang.
- Imaji perasaan: “tubuh terkapai disalib hidup” menghadirkan rasa sakit dan keputusasaan.
- Imaji pendengaran: “dikunyah angin kering kemarau” menghadirkan bunyi alam yang keras dan menyayat.
- Imaji religius: “mata mengucur bintang jatuh” menimbulkan gambaran spiritual yang penuh kepasrahan.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas, antara lain:
- Metafora: “tubuh terkapai disalib hidup” melambangkan penderitaan berat manusia dalam kehidupan.
- Personifikasi: “dikunyah angin kering kemarau” memberi sifat manusia pada angin yang seakan menjadi pemangsa.
- Simbolisme: “bintang jatuh” menjadi lambang harapan yang pupus.
Puisi "Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor" karya Harijadi S. Hartowardojo menghadirkan potret pedih kehidupan manusia dalam lanskap alam gersang Pulau Timor. Dengan tema penderitaan sosial dan spiritual, puisi ini bercerita tentang kerasnya hidup, kelaparan, dan keterasingan yang dialami manusia. Makna tersiratnya adalah kritik sosial sekaligus doa penuh kepasrahan pada Tuhan. Imaji yang kuat serta majas yang menyayat membuat puisi ini sarat makna. Amanat yang dapat ditarik adalah perlunya kesadaran, kepedulian, dan iman untuk menghadapi derita hidup yang begitu keras.
Puisi: Untukmu, Lagu Cinta dari Pulau Timor
Karya: Harijadi S. Hartowardojo
Biodata Harijadi S. Hartowardojo:
- Harijadi S. Hartowardojo (nama lengkap: Harjadi Sulaiman Hartowardojo / EyD: Hariyadi Sulaiman Hartowardoyo) lahir pada tanggal 18 Maret 1930 di Desa Ngankruk Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia.
- Harijadi S. Hartowardojo meninggal dunia pada tanggal 9 April 1984 di Jakarta, Indonesia (dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia).
- Harijadi S. Hartowardojo adalah salah satu Sastrawan Angkatan 1950-an.
