Analisis Puisi:
Puisi “Bukan Bagian” karya Gus tf adalah salah satu teks liris yang menarik karena menghadirkan renungan tentang keberadaan manusia dari sudut yang tidak lazim: ketidakhadiran. Lewat citraan sederhana namun sarat makna, puisi ini mengajak pembaca memikirkan apa artinya ada dan tidak ada, hadir dan absen, serta bagaimana manusia menempatkan diri di tengah jagat raya yang luas.
Tema
Puisi ini memiliki tema besar mengenai eksistensi, terutama ketidakhadiran diri dalam semesta. Tema lain yang ikut mengiringi adalah kehampaan, keterpisahan, dan pencarian identitas. Alih-alih berbicara tentang kehidupan yang sedang dialami, penyair justru menempuh jalan sebaliknya: membayangkan diri “bukan bagian” dari dunia.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seorang aku lirik yang membayangkan dirinya tidak termasuk dalam alam semesta—baik dalam waktu, ruang, maupun segala bentuk wujud. Ia tidak ada dalam bintang, laut, ombak, suara, maupun ensiklopedia kehidupan. Dengan kata lain, aku lirik membayangkan posisi yang sepenuhnya absen dari kosmos: tidak hidup, tidak mati, tidak tercatat, bahkan tidak terdengar kecuali sebagai “diam” yang justru memantul menjadi suara bagi orang lain. Narasi puitis ini menghadirkan gagasan paradoks: ketidakhadiran yang justru dirasakan.
Makna Tersirat
Puisi ini menyimpan makna tersirat tentang kegelisahan eksistensial manusia. Beberapa lapisan makna yang dapat dibaca antara lain:
- Pengakuan akan keterasingan. Aku lirik merasa bukan bagian dari dunia, seolah ia tidak menemukan tempat dalam realitas yang ada. Ini bisa mencerminkan pengalaman batin seseorang yang merasa terasing di tengah kehidupan.
- Renungan tentang identitas dan makna hidup. Dengan menempatkan diri sebagai sosok yang “belum ada” dalam bintang, laut, maupun ensiklopedia, penyair menyoroti pencarian makna keberadaan.
- Irama menuju ketiadaan. Baris terakhir “Melengking, merintih, jauh menuju tiada” memberi gambaran bahwa perjalanan manusia, sekuat apa pun suaranya, menuju satu titik: hilang. Namun hilang itu tetap menyisakan gema.
- Kritik halus terhadap cara manusia memaknai diri. Ketika manusia sibuk mencari jati diri melalui pencatatan, pengakuan, dan relasi dengan dunia, puisi ini justru mengajak meninjau apa jadinya jika semua itu tidak ada. Apakah manusia tetap berarti?
Suasana dalam puisi
Suasana keseluruhan puisi dapat dibaca sebagai sunyi, hening, dan melankolis. Pengulangan frasa “Suatu ketika – entah bila –” menghasilkan atmosfer ambigu dan menggantung, seakan waktu pun tidak memiliki pegangan. Sementara gambaran “kosong”, “tak ada”, dan auralitas “diam” menimbulkan suasana kontemplatif dan agak suram.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Jika dibaca sebagai renungan eksistensial, puisi ini menyiratkan amanat bahwa keberadaan manusia tidak bisa dilepaskan dari kesadaran akan ketidakhadiran. Bahwa:
- manusia perlu memahami bahwa dirinya suatu saat akan menjadi "bukan bagian" dari dunia,
- hidup sebaiknya disadari bukan hanya ketika kita hadir, tetapi juga ketika kita merenungkan batas antara ada dan tiada,
- kebermaknaan tidak datang dari dunia luar semata, melainkan dari keheningan batin.
Puisi ini seakan berkata: sebelum kita benar-benar lenyap, renungkanlah apa artinya hadir.
Imaji
Gus tf menggunakan imaji yang kuat meski kalimatnya sederhana. Beberapa imaji yang menonjol:
- Visual: bintang, kelip cahaya, laut, ombak
- Auditori: bunyi yang “tak ada kata”, diam yang menjadi suara, lengkingan, rintihan
- Imaji abstrak: kosong, tidak ada, belum ada, menuju tiada
Imaji-imaji ini mengisi puisi dengan kontras antara wujud dan ketiadaan, sekaligus menguatkan rasa sunyi yang menjadi napas utama teks.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Paralelisme: Pengulangan struktur “Suatu ketika – entah bila – / aku bukan bagian dari alam raya” menciptakan efek retoris dan ritmis.
- Personifikasi: “Diamku dalam suara” menghadirkan diam seolah dapat didengar dan memiliki suara.
- Metafora eksistensial: Frasa seperti “bukan bagian dari ensiklopedi” bukan bermakna literal, tetapi mengandaikan diri yang tidak tercatat dalam sejarah atau pengetahuan manusia.
- Paradoks: “Diam” yang “melengking” atau ketidakhadiran yang justru didengar merupakan bentuk paradoks yang memperkuat ketegangan makna.
Puisi “Bukan Bagian” merupakan puisi kontemplatif yang menggugah pembaca untuk mempertanyakan hakikat keberadaan. Dengan tema eksistensial, imaji sunyi, dan majas yang subtil, Gus tf berhasil menyajikan refleksi tentang batas antara ada dan tidak ada. Puisi ini mengajak kita menelusuri ruang-ruang kosong dalam diri sendiri—ruang di mana pertanyaan paling dasar tentang makna hidup sering kali bersembunyi.
Puisi: Bukan Bagian
Karya: Gus tf
Karya: Gus tf
Biodata Gus tf Sakai:
- Gustrafizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat.